Menikah Remaja

Menikah Remaja
TUJUH PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hari kepulangan


Hari ini Ardan dan Sera kembali ke tanah air, sejak pagi Saina sudah ribut tidak mau pergi sekolah sampai oma opanya kewalahan, segala bujuk rayu diabaikan oleh bocah kecil yang sebentar lagi menjadi seorang kakak itu.


Alasan Saina tidak mau pergi ke sekolah hanya karena mau menjemput orang tuanya dibandara, tetapi karena waktu mendarat masih sore hari, oma dan opanya memintanya untuk tetap pergi kesekolah, namun Saina bersikeras menolaknya dengan berbagai drama.


Walaupun Saina adalah cucu pemilik yayasan, tetap saja dia harus mengikuti aturan yang berlaku tanpa terkecuali, tidak ada perlakuan khusus dari pihak yayasan sesuai dengan instruksi dari pemilik yayasan tersebut yakni opa Mahendra.


Tetapi karena Saina menuruni sifat yang dimiliki oleh daddinya, maka tingkahnya sedikit lebih angkuh dan merasa berkuasa hanya karena cucu pemilik yayasan.


" Pokoknya Saina enggak mau sekolah " tegas Saina.


" Oke opa telepon sekolah kamu dan bilang kami udah nggak sekolah lagi selamanya " ancam opanya tegas.


Oma sampai kaget pasalnya selama ini opanya terkenal sangat memanjakan cucu kesayangannya itu.


Saina terdiam sambil menahan air mata yang sudah dipelupuk matanya.


Ooa menghela nafasnya, " Opa bukan tidak sayang sama kakak, justru karena opa sayang sama kakak makanya opa bersikeras kakak harus pergi ke sekolah demi masa depan kakak" ucap opa sambil membelai kepala cucunya.

__ADS_1


Saina menatap opanya sambil berlinangan air mata, " Saina kangen daddy sama mommy opa...hiks hiks " tangisnya pun pecah.


" Dengar sayang, daddy sama mommy mendarat jam dua siang, sedangkan kakak sekolah hanya sampai jam sebelas, jadi masih bisa jemput kan? " nasehat opanya.


Akhirnya dengan berat hati, Saina mau pergi ke sekolah dengan diantar oleh opanya.


Siang hari Saina pulang dengan terburu-buru takut ditinggal, sang oma sudah menyiapkan baju dan keperluan cucunya.


" Oma makannya dimobil aja ya pliiiissss " rajuk Saina.


" Iya sayang, oma sudah siapin kok, tenang saja, makan siang dengan menu kesukaan cucu oma ini " ucap oma sambil mencubit manja hidung cucunya.


Perjalanan menuju bandara siang itu cukup lancar sehingga hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di bandara.


Saina yang sudah tidak sabar memikih berlarian sambil berharap waktu cepat berlalu.


" Lama banget opa " keluh Saina setelah lelah berlarian.


Opa memberikan minum untuk cucunya, " Sabar sayang, mereka sedang mengantre bagasi ".

__ADS_1


" Kenapa sih daddy sama mommy nggak naik mobil saja biar cepet " protes Saina.


" Mana bisa sayang, Tanah suci itu sangat jauh dan berada di negara lain jadi hanya bisa ditempuh dengan pesawat atau kapal laut ".


" Terus kenapa daddy sama mommy kesana opa ?".


"Daddy sama mommy melakukan perjalanan religi atau beribadah mendekatkan diri kepada sang pencipta langit dan bumi, disana adalah tempat umat islam berkumpul menjalankan ibadah bersama seluruh dunia " opa menjelaskan.


Saina hanya manggut-manggut tanda mengerti.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya yang ditunggu datang juga, tampak Sera berjalan setengah berlari menghampiri putrinya, sedangkan Ardan menyusul dibelakang dengan mendorong troly bandara yang penuh dengan koper dan beberapa tas oleh-oleh yang mereka beli sebagai buah tangan.


" Mommy...." pekik Saina sambil berlari kearah Sera.


Mereka berpelukan, tampak Sera menciumi putrinya karena sangat merindukannya setelah ditinggal cukup lama.


" Sayang, mommy kangen banget sama kakak " ucapnya sambil menitikkan air mata.


Ardan kemudian menyusul dan ikut bergabung memeluk istri dan anaknya.

__ADS_1


" Daddy juga kangen sama anak cantiknya daddy nih, ikut dong pelukannya " ucap Ardan.


Ketiganya tertawa lepas sambil melepas rindu, kedua orang tua Ardan menikmati pemandangan itu dengan penuh haru dan bahagia.


__ADS_2