Menikah Remaja

Menikah Remaja
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

" ARDAAAAAN !" pekik Sera kala melihat Ardan sedang dalam pelukan seorang wanita.


Ardan kaget lalu melepaskan pelukannya dengan Ramona, tatapan mata Sera sudah tidak bersahabat, dia maju kearah Ardan dan wanita itu kemudian melayangkan tamparan keras ke kedua manusia didepannya.


PLAKK....PLAKKKK


Ramona tidak terima mencoba menampar balik tetapi lengannya dicekal oleh Ardan.


" Lepasin Dan, aku nggak terima ditampar sama dia " Ramona meronta.


Sedangkan Ardan hanya terpaku, lidahnya kelu menatap kearah Sera.


" Bagus ya kamu berani main api dibelakangku " amuk Sera sambil memukul dada Ardan.


" Sera..."


" Jangan sebut nama gue pake mulut kotor loe! loe nggak berhak lagi " hardik Sera.


" Aku bisa jelasin ke kamu, tapi jangan kaya gini Ser "pinta Ardan.


Ramona pun tidak mau kalah, " Hun kamu ngapain sibuk jelasin ke dia" ucapnya manja.


Sera memejamkan matanya menahan amarah, kemudian pergi meninggalkan keduanya.


Dengan mengendarai mobil Sera lebih cepat sampai dirumah, dan segera membereskan pakaiannya juga pakaian Saina, lalu mengambil Saina dari pengasuh dan membawanya pergi tanpa pamit ke mertuanya yang sedah istirahat dikamarnya.

__ADS_1


Tujuan Sera tentu bukan rumah bundanya,tetapi rumah omanya di bandung agar Ardan tidak mudah menemukannya.


Setelah menempuh tiga jam perjalanan akhirnya Sera sampai dirimah omanya, semua menyambut dengan suka cita, disana ada opa Mike,oma Regina dan ceu Neni( asisten rumah tangga).


Melihat cucu dan cicit satu-satunya berkunjung tentu membuat mereka sangat bahagia.


" Wah cicit oma udah gede, ini pipi dikasih apa bisa bulet gini Ser?".


" Cuma ASI oma tapi nyusunya kuat"


" Opa jadi malas nih ke perkebunan " sahut opa sambil menciumi pipi gembul cicitnya.


" Yeeee mentang-mentang ada cicitnya langsung deh cucunya dilupain " canda Sera.


Semua pun tertawa, apalagi Saina sudah aktif berjalan sambil membeo, mereka menghabiskan waktu dengan bercengkerama manjq diatas karpet sambik menjaga bayi yang sudah tidak bisa diam itu.


Sera pun tersenyum menutupi kegugupannya, " Ardan lagi sibuk dicafe ceu, jadi nggak bisa ikut " bohongnya.


Sedangkan Ardan dibuat kalang kabut ketika pulang kerumah ternyata istri dan anaknya sudah tidak ada,bahkan mama nya tidak tahu kemna menantu dan cucunya pergi.


Ardan pun menelpon mertuanya.


" Assalamu alaikum bunda, apa Sera dan Saina ada disana?" tanya Ardan tanpa basa basi.


" Waalaikum salam, enggak Dan memangnya Sera sama Saina kemana?" jawab bunda ikut khawatir.

__ADS_1


" Bunda tenang dulu biar Ardan cari ,tapi Ardan mohon jangan sampai Ayah tahu ya bun ".


" Iya ,bunda berdoa semoga Sera dan Saina cepet ketemu" tutup bunda.


Ardan semakin kebingungan ketika menghubungi ponsel Sera tetapi tidak tersambung karena Sera sengaja mematikannya.


" Dan...apa kalian bertengkar?" tanya sang mama.


Ardan mengusap wajahnya kasar mengingat kejadian siang tadi dimana dirinya ketahuan sedang makan berdua dengan Ramona.


Ardan hanya bisa menyesali semuanya karena bujuk rayu Ramona membuatnya harus ditinggalkan oleh dua orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Hingga menjelang pagi Ardan masih terus mencari anak dan istrinya dengan mengendarai motor agar bisa lebih leluasa menuju kerumah para sahabat dari istrinya tetapi hasilnya nihil.


Adzan subuh berkumandang, berat rasanya kaki Adran melangkah pulang tetapi apa daya tubuhnya sudah lelah, pikirannya kacau.


" Dimana cucu dan menantu papa? " tanya sang papa ketika melihat Ardan memasuki pintu rumah utama.


Ardan terdian tanpa berani menatap kearah papanya.


Bughhh......


Suara pukulan di wajah Ardan, pipi yang masih perih akibat tamparan Sera pun semakin meradang akibat pukulan papanya.


" Ini yang mau kamu tunjukin ke papa? disuruh ngurus yayasan nggak mau, giliran buka cafe malah selingkuh? kamu pikir papa nggak tahu!?, wajar kalau Sera pergi dari rumah ini, kamu lihat saja kalau kamu tidak berhasil membawa cucu dan menantu papa kembali dalam waktu 2 hari,papa bakal tutup permanen cafe kamu ingat itu!?".

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu papa Ardan pun berlalu meninggalkan Ardan yang masih terdiam sambil menahan perih karena bibirnya robek akibal pukulan sang papa.


__ADS_2