
Sia-sia.....
Setelah menempuh jarak cukup jauh ditambah menembus kemacetan menuju apartmen Brisia, ternyata Brisia sedang pergi bersama kekasihnya.
Ardan memukul setirnya, ada raut kekecewaan, tetapi bukan karena Brisia melainkan Sera, sungguh Sera sudah berhasil membuatnya kacau, dia sengaja mengulur waktu untuk menyetujui proposal Sera agar bisa berjumpa lagi dilain kesempatan, ternyata Sera memprotesnya pedas, ditambah kemesraan Sera dan Hans membuatnya cemburu.
" Aaaaarrrrggghhhh...gue harus gimana sekarang" teriaknya didalam mobil.
Ardan mengakui semua yang terjadi karena kesalahannya, dia ingin memperbaikinya, tetapi semua usahanya terasa tidak berarti, bahkan kini Sera malah sudah memiliki kekasih baru.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui anaknya, itu artinya dia dapat bertemu Sera ketika nanti wanita itu pulang dari kerja.
Empat puluh lima menit mengendarai mobilnya, kini Ardan sudah berada dirumah orang tua Sera, dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk mencari Saina.
" Assalamu alaikum" ucapnya.
" Waalaikum salam " jawab serempak dari dalam.
" Bunda itu kayaknya suara daddy deh " suara kecil Saina.
" Coba Saina lihat, kan sudah lama Saina tidak bertemu daddy, pasti kangen kan " bujuk Bunda Sera.
Dengan langkah pasti Saina menuju pintu utama, " Daddy......." pekiknya ketika melihat yang datang ternyata benar daddynya.
Sosok yang dirindukan akhirnya datang juga, keduanya saling berpelukan.
" Daddy kemana saja, Saina kangen daddy " ucap Saina.
" Daddy kerja sayang, daddy lebih kangen sama putri kecil daddy ini " ucap Ardan sambil mencubit gemas pipi putrinya.
__ADS_1
" Oh kamu Dan, apa kabar, lama tidak kesini " Bunda Sera menghampiri.
Ardan melepas cubitannya, " Iya bunda, Ardan sedang sibuk ".
" Bermainlah bersama Saina, bunda sedang bikin kue untuk anak panti ".
" Kapan acaranya bun?" tanya Ardan.
" Lusa, memangnya mama kamu tidak memberi tahu? ".
" Mungkin mama lupa, Ardan juga pulang sudah larut akhir-akhir ini " jawab Ardan.
" Iya larut karena sibuk sama cemcemanya " sahut Sera yang baru datang.
" Kalau ngomong jangan ngaco, apa nggak kebalik, kamu yang sibuk sama cowok kamu " Ardan tidak terima.
" Setidaknya aku masih ada buat anak, nggak kaya kamu " balas Sera.
Keduanya terdiam, kini Sera duduk disofa sementara Ardan dan Saina bermain di atas matras yang biasa digunakan untuk bermain Saina.
Ardan asik bermain, sedangkan Sera asik berbalas pesan dengan Hans, terkadang senyuman tergambar diwajahnya, Ardan yang tadinya fokus menjadi kepo dengan isi pesan mantan istrinya itu.
" Dek, mommy lagi senyum-senyum tuh " Ardan memprovokasi.
" Mommy paling lagi chat sama uncle " jawab Saina santai.
" Memang sering ya mommy seperti itu " Ardan semakin penasaran.
" Iya dad, kan uncle mau jadi papanya Saina, jadi mommy harus baik sama uncle " jawab Saina polos.
__ADS_1
Tanpa Saina tahu rahang daddynya sudah mengeras, bagaimana tidak?, putrinya dengan gamblang mengatakan kalau dia akan memiliki papa baru, artinya Ardan akan diduakan oleh putrinya sendiri, lalu bagaimana nasib cintanya yang masih tersangkut pada mantan istrinya itu?.
" Memangnya Saina tidak sayang daddy lagi? " tanya Ardan.
Saina menatap daddynya, " Saina sayang daddy, tapi setiap daddy datang selalu berantem dengan mommy, Saina jadi bingung harus bagaimana " ucap putrinya polos.
Ardan paham, kondisi saat ini memang memusingkan bagi putrinya yang terpaksa dewasa sebelum waktunya, ini semua tidak luput dari kesalahannya, tetapi apa benar karena cemburunya menjadikan setiap bertemu dengan Sera hanya ada pertengkaran.
Apakah lebih baik Ardan jujur pada Sera bahwa dia masih mencintainya?.
Teman kencannya selama ini hanya pelampiasannya ketika cemburu pada Sera, dia tidak akan menjalin hubungan serius dengan wanita lain selain Sera, itu tekadnya.
Bahkan jika nantinya Sera tetap manikah dengan Hans, dia berjanji akan tetap setia menunggu Sera menjadi janda, itulah prinsip gila si Ardan plaboy cap kadal.
" Ser...dari tadi mainan HP terus, temenin anaknya main kek " tegur Ardan.
" Hellloooooo baru main sebentar aja udah banyak komplain, gimana aku yang tiap hari? " balas Sera.
" Ya kamu dari tadi malah cengar cengir sambil sibuk sendiri " protes Ardan.
Sera bergegas bangun menghampiri putrinya, " Minggir kalau capek main sama anakku " ucapnya sambil mendorong Ardan.
" Dih mainnya kasar, dek ini lho mommy dorong daddy " Ardan meminta dukungan Saina.
Sera melotot kearah Ardan.
" Mommy jangan dorong daddy, kita main sama-sama ya " Saina menengahi dan Ardan menjulurkan lidah kearah Sera.
Ingin rasanya Sera menjitak kepala Ardan yang entah apa isinya.
__ADS_1
#dikit dulu ya author lg ga enak body