Menikah Remaja

Menikah Remaja
DELAPAN PULUH ENAM


__ADS_3

" Sayang...."


" Apalagi "pekik Luna sambil menghempaskan tangan Ardan.


" Kamu dengerin aku dulu, aku janji aku pasti akan kembali ke perusahaan itu, aku bakal luluhin hati orang tuaku " rayu Ardan.


Keduanya bertengkar, Luna tidak terima dengan kondisi Ardan saat ini, bagaimana bisa dirinya harus hidup dengan lelaki pengangguran, meskipun tampan tapi tidak memiliki harta, bagi Luna itu hanya sia-sia.


" Kamu yakin bisa dapetin hak kamu lagi, kamu pikir gimana bisa orang tua kamu dengan mudah memaafkan kamu, terus kamu kembali sama istri kamu, lalu aku bagaimana, Hah?!" hardik Luna.


Wanita cantik yang tadinya kalem, manja,centil dan menggemaskan bagi Ardan kini tampak seperti asing karena sifat arogannya.


"Kamu berubah Lun".


" Aku kaya gini karena kamu, aku mau sama kamu karena aku pikir masa depan aku bakal terjamin, tapi kenyataanya apa, kamu yang nggak punya apa-apa malah cuma menjadi beban aku dan bodohnya aku mau mengandung anak kamu " cerocos Luna.


Plaaaaaakkk......


Tamparan Ardan melayang di pipi putih Luna, seketika Luna menangis, meraung meratapi nasibnya.

__ADS_1


Ardan termangu, dia terdiam sambil teringat bagaimana dia berumah tangga dengan Sera, sekalipun dirinya tidak pernah main tangan tetapi entah mengapa pada gadis dihadapannya itu dia sampai melayangkan tangannya.


" Maafkan aku Luna " Ardan bermaksud mendekati Luna tetapi Luna langsung menepis uluran tangan Ardan.


" Aku mau gugurin anak ini, aku nggak mau hidupku susah ditambah harus merawat anak " tutur Luna tegas.


" Kamu mau menambah dosa?" geram Ardan.


" Apa, kamu nggak usah bicara tentang dosa, aku sudah bersahabat dengan dosa semenjak mengenalmu, dan untuk hidup bersamamu aku rasa sudah tidak menjadi prioritasku lagi, aku akan keluar dari tempat ini, lepaskan aku dan kita hidup masing-masing" lanjut Luna kemudian beranjak meninggalkan Ardan yang masih termangu.


Setelah membereskan barangnya Luna segera pergi meninggalkan Ardan sendirian di apartmen yang dibelinya ketika masih berstatus duda dulu.


Pikirannya buntu, makanya dia hanya bisa terdiam.


Kabar terpuruknya Ardan terdengar sampai ke telinga orang tuanya, awalnya sang mama merasa iba namun pupus karena suaminya dengan tegas melarang memberikan belas kasih kepada anak semata wayangnya itu.


Emosi karena terus dicecar,dicaci dan dihina oleh Luna membuat Ardan khilaf hingga menampar Luna,dia merasa Luna sama saja dengan istrinya, apalagi kini Luna juga ikut meninggakannya dikondisi terpuruknya.


Sementara di negara lain.

__ADS_1


" Sera gimana kandungan kamu sayang" suara mertuanya di telepon.


" Baik ma, malahan sekarang sudah dalam posisi yang bagus dan semuanya pas, tinggal menunggu waktu lahirnya saja, mama sama papa bagaimana disana ?".


" Mama agak sibuk kan kamu lagi gak ada jadi mama yang check butik, kalau papa sedang sibuk mencari penanggung jawab sementara perusahaan, kemungkinan kalau tidak om Dewa, ya sahabatnya Ardan si Samuel ".


Sera menghela nafas, ternyata dampak dari permasalahan rumah tangga sungguh besar, dan hingga kini Sera tidak pernah tahu kabar dari Ardan.


" Mama sabar ya dan selalu dampingi papa, Sera minta maaf kalau sudah merepotkan mama dan papa,ya sudah Sera mau jemput Saina dulu ya ma ".


" Iya sayang, jaga diri dan titip cucu mama ya, daaa sayang "tutup mamanya.


Setelah mematikan sambungan telepon, Sera menundukkan kepalanya diatas meja, tanpa terasa air matanya menetes.


Berat bagi Sera disituasi seperti ini, diam-diam dia juga sudah mendaftarkan perceraiannya melalui pengacaranya, walaupun sakit dirinya harus segera membuat keputusan.


Pernikahan keduanya berakhir di meja pengadilan, namun kali ini Sera benar-benar tidak mau kembali pada Ardan apapun alasannya.


....................

__ADS_1


__ADS_2