Menikah Remaja

Menikah Remaja
ENAM PULUH


__ADS_3

Malam ini keluarga Arsena menginap dirumah orang tua Ardan, acara makan malam yang biasanya sepi kini tampak meriah dengan celotehan Saina yang mendominasi disana.


" Opa nanti Saina mau sering nginep sini ya " ucap bocah kecil dengan kuncir kuda dan poni depan itu.


" Boleh dong, kapanpun Saina mau pokoknya, rumah ini kan rumah Saina juga " tutur opa kesayangan Saina.


" Beneran opa? Berarti Saina kaya dong rumahnya dua " timpal bocah kecil yang sudah punya bibit matre itu.


" Iya bahkan..."


" Pa...sudah ini waktunya makan, jangan ngobrol " potong Ardan.


Ardan sadar betul mimik wajah Sera sudah berubah, pasti Sera akan marah lagi.


" Daddy jangan ganggu obrolan penting Saina sama opa" protes Saina.


" Makan dan ngga usah cerewet " hardik Sera.


Semua langsung terdiam fokus pada nasi dipiring masing-masing.


Setelah makan malam semua berkumpul diruang santai sambil nonton televisi.


" Dan, kalian nggak pindah kesini lagi " tanya papa Ardan.


" Nanti dulu pa, kita masih baru mulai " tolak Ardan.


" Papa senang kalau ada Saina rumah jadi rame " timpal papanya.


" Saina juga suka opa " celetuk Saina.


" Kalau kamu mau ya kamu bisa tinggal sama oma, opa disini mommy sama daddy justru senang, bisa jalan berdua tanpa kamu" Sera mengancam Saina.


Saina menjadi diam berfikir, " Oke Saina mau, biar Saina cepet punya adik ya mom ".

__ADS_1


Sera ternganga, sedangkan yang lainnya tertawa mendengar jawaban Saina.


" Kalian ini makin lama makin tidak akur" ucap mama Ardan.


" Yah mama kaya ngga tahu aja gimana Saina, titisan Ardan, mulutnya itu lho pengen ngulek rasanya " cerita Sera.


" Emang mulut Saina sambel " Saina tidak terima.


" Masa bisa plek ketiplek Ardan ya, eh tapi tidak masalah, biar Ardan ada lawannya " komentar mama Ardan sambil cekikikan.


" Apaan ma yang ada dibelain melulu sama si Ardan " Sera mengadu.


" Udah dong Sera, iya aku salah manjain Saina " ucap Ardan.


" Justru tidak Dan, kamu memang harus memanjakan Saina " timpal papanya sambil nyengir tanpa dosa.


" Papaaaaaaaaa....." ketiganya serempak.


Akhirnya tawa papa Ardan pecah, dan Saina ikut tertawa bersama opanya.


" Mommy iiiihhhh, dad bilang mommy Saina mau menginap lagi " tutur bocah itu manja ke daddynya.


Saina memang bermulut tajam mirip Ardan, tetapi kalau Sera suda mengultimatum dia tetap ketakutan, makanya semenjak Ardan kembali bersatu, Saina menjadi ada pelindungnya.


" Tidak ada bantahan, tidur sekarang sana sama daddy " tukas Sera.


Ardan langsung mengajak anaknya untuk kekamarnya dari pada ratu dihatinya makin marah lagi.


" Kamu jangan terlalu keras sama anak Ser " nasehat papa Ardan.


" Sesekali pa, tidak setiap hari juga, takutnya Saina jadi tidak punya aturan " Sera membela diri.


" Iya pa, papa dulu manjain Ardan, apa jadinya coba ".

__ADS_1


" Mama juga manjain Ardan kok bukan hanya papa ".


" Yee papa tuh yang sering nurutin semua maunya Ardan".


" Mama juga....".


" Kok malah mama sama papa yang ribut? " potong Sera menengahi.


Keduanya terdiam, malah saling buang muka, Sera jadi pusing kemudian memilih pamjt untuk istirahat.


Perdebatan malam itu ternyata bukan hanya di keluarga kecil Sera saja, kini sudah merembet ke orang tua Ardan, tetapi pada dasaranya mereka tidak marah sungguhan, karena hanya membela diri toh mereka saling menyayangi satu sama lain, bukan hanya sekali perdebatan terjadi justru sering terjadi.


Keluarga penuh drama pun kini sudah terlelap menuju mimpi masing-masing.


Saina memiliki kamar pribadi dirumah itu karena dulu mereka sengaja membuatkan kamar anak disampingnya untuk membiasakan anak mandiri, berbeda ketika dirumah orang tua Sera, ketiganya akan tidur bersama.


Tok....tok...tok....


Suara ketukan kecil dipintu konekting kamar Sera.


" Mommy....daddy....." suara kecil memanggil.


Sera langsung terbangun segera membuka pintu.


" Kenapa sayang?" tanya Sera melihat anaknya memeluk guling sambil mengetuk pintu.


" Saina takut mom, Saina mau bobok sama mommy " ucapnya lirih.


" Ayo sini masuk," Sera menuntun putrinya.


Menata tempat ditengah antara dirinya dan Ardan, kemudian langsung memeluk putrinya.


Sera berfikir mungkin ini kali pertama Saina tidur sendiri lagi makanya dia ketakutan, padahal sedari bayi dia sudah tidur dikamar terpisah waktu masih satu rumah dengan orang tua Ardan, Sera paham pasti aneh bagi anaknya.

__ADS_1


Dikit dulu ya....author lagi mau pindahan


__ADS_2