Menikah Remaja

Menikah Remaja
DELAPAN PULUH SATU


__ADS_3

Setelah acara pemakaman Ayah Sera, semua berkumpul kembali dirumah Sera, keluarga besar dari orang tua Sera berkumpul untuk mengirim doa.


Sera tampak begitu terpukul akan kehilangan orang yang menjadi cinta pertamanya, dia bersandar didada Ardan sedangkan air matanya seolah enggan untuk berhenti dan terus mengucur dari mata indahnya.


Bunda juga tidak berbeda dengan Sera, dipelukan kakak kandung bunda tampak sesekali menyusut air matanya.


Kehilangan yang paling berat adalah kehilangan orang yang paling kita cintai, apalagi kehilangan secara mendadak tanpa bisa berada disisinya disaat menghembuskan nafas terakhirnya.


Mereka yang ditinggalkan sungguh masih belum bisa menerima, tetapi kalau yang Maha Kuasa sudah berkehendak, kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas.


" Sayang, kamu makan dulu ya ".


Sera menggelengkan kepalanya.


" Kasihan dedek diperut kamu sayang, aku suapin ya " pinta Ardan lirih.


" Sedikit saja Dad " ucap Sera pasrah.


Ardan tampak telaten menyuapi istrinya, meski Sera terlihat tidak berselera namun tetap mengunyah makanannya demi bayi yang kini berada didalam rahimnya.


Saina tampak bermain bersama dengan sepupunya baik dari keluarga ayah ataupun bundanya.


Orang tua Ardan berlaku sebagai pemberi komando untuk acara pengajian malam harinya untuk mendoakan almarhum besannya.


Dekorasi yang sudah disediakan untuk acara empat bulanan Sera kini sudah dirubah menjadi tempat untuk para tetua duduk memimpin doa yang dikirimkan untuk almarhum ayah Sera.

__ADS_1


Sera dan Ardan pasrah gagal melakukan acara syukuran karena bertepatan dengan berpulangnya ayah Sera, bagi mereka tidak masalah yang terpenting ayahnya mendapatkan penghormatan terakhir dengan layak.


" Dad... Kakak dimana aku kangen " suara Sera lemah.


" Sebentar ya aku cariin kakak ".


Ardan mencari putrinya, setelah berkeliling ternyata putrinya sedang menikmati susu yang dibuatkan oleh omanya.


" Kakak sedang apa ".


" Minum susu dad, kakak haus ".


" Haus itu minum air sayang bukan minum susu, coba daddy tanya ini susu yang ke berapa?" tanya Ardan lembut, pasalnya Saina lebih memilih minum susu dari pada air putih.


Entah mengapa anak kecil itu lebih suka susu, bahkan ketika meminum air putih dia bisa muntah.


Ardan membelai rambut putrinya, " Mommy nyariin kakak, ayo kita ketempat mommy dulu ya " ajak Ardan.


Saina mengikuti langkah daddynya menuju dimana mommynya berada.


Sera langsung memeluk putrinya, air matanya kembali luruh, dia terus menciumi wajah putrinya.


" Mommy sudah...kakak malu " protes Saina.


" Mommy kangen sayang ".

__ADS_1


" Mommy jangan nangis lagi ya, kata oma, ayah sekarang sudah tidak sakit lagi, ayah sudah bertemu Allah ".


Sera langsung memeluk putrinya, dia tidak menyangka anak sekecil Saina bisa menasehatinya, dia terharu pada tumbuh kembang putrinya.


" Iya sayang betul kata kakak "


Sera menatap suaminya, senyum tipis muncul diwajahnya, " Iya maaf ya mommy terlalu kaget dengan meninggalnya ayah, mommy harusnya lebih dewasa, mommy bersyukur memiliki kalian ".


Ardan langsung berhambur memeluk istri dan anaknya.


Malamnya dikediaman Ardan tampak para tamu berkumpul membaca doa untuk almarhum ayah Sera.


Bunda yang sudah sedikit tenang memilih tetap dikamar sambil ditemani oleh mama Ardan dan Sera.


" Kita pasti bisa bun, kita kuat bun ".


Sera terus menguatkan bundanya.


" Iya jeng, jeng tidak perlu khawatir, ada kita yang akan menemani jeng " besannya ikut menasehati.


" Makasih jeng, makasih sayang "


" Bunda tinggal sama Sera saja ya disini, biar Sera ada temennya kalau Ardan kerja dan Saina sekolah " pinta Sera.


" Nanti bunda pikirkan ya nak, bunda masih belum bisa mengambil keputusan " jawab bunda lirih.

__ADS_1


.....................


__ADS_2