
4 bulan kemudian.....
Dirumah baru yang kini ditempati oleh keluarga Ardan dan Sera tampak penuh kedatangan tamu undangan serta keluarga dan kerabat karena mereka sedang mengadakan acara empat bulanan kehamilan Sera.
" Bunda....ayah masih tidur " tanya Sera.
" Iya kemarin katanya badan ayah agak meriang lagi nak " jawab sang bunda sambil menata kue yang dia bawa dari rumahnya.
Sera bergegas menuju kamar dimana ayahnya sedang beristirahat.
Tampak sosok lelaki yang menjadi cinta pertamanya tertidur pulas dikasur dengan selimut menutupi sebagian tubuh tuanya.
" Ayah....bangun yah acaranya sudah mau dimulai " Sera membangunkan ayahnya.
Namun ayahnya tetap tidak bergeming, bahkan Sera mulai mengguncang tubuh kurus ayahnya yang terbaring diatas kasur tetapi tetap saja sang ayah tidak membuka matanya.
Perlaha air mata Sera mulai membanjiri pelupuk matanya sembari manahan suaranya, dengan bibir bergetar Sera mencoba lagi membangunkan ayahnya.
" Aaayah tolong buka mata ayah, ayah... Sera mohon ayah " suara Sera semakin kencang.
Bunda yang berada di ruangan depan kamar dimana suaminya beristirahat pun mendengar suara putrinya yang terisak.
__ADS_1
Beliau segera mengikuti arah suara tangis putri semata wayangnya.
Ketika membuka pintu, tampak tubuh suaminya yang terbaring dengan tangan dalam genggaman putrinya yang terperosok duduk dilantai sambil berderai air mata.
Dengan tubuh gemetar bunda mendekati sosok yang selalu mendampinginya selama ini,diambillah tangan suaminya sambil mengechek denyut nadinya.
Air mata bunda menetes seketika, hancur luruh hatinya mengetahui kenyataan bahwa suaminya kini telah tiada.
Bunda segera menghampiri tubuh putrinya yang masih terguncang karena tangisannya semakin pilu.
" Sayang kita harus kuat, ayah sudah tiada nak " suara bunda tercekat ditenggorokan.
" Bunda jangan bicara sembarangan ayo kita bawa ayah ke rumah sakit dulu bun " ajak Sera sambil terus terisak.
" Sayang, a...yah " Ardan langsung merengkuh istrinya dalam dekapannya.
" Biarkan dokter yang memeriksa ayah dulu ya sayang " Ardan menenangkan istrinya.
Setelah dokter memeriksa ternyata memang ayah Sera sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangis pilu terdengar nyaring, Sera merasa teramat kehilangan, sang bunda sedang ditenangkan oleh mama Ardan, sementara papa Ardan mengkoordinir semua orang yang ada dirumah tersebut untuk segera mempersiapakan tempat untuk jenazah dari besannya.
__ADS_1
Saina yang masih kecil tampak terdiam.
Acara empat bulanan yang seharusnya dilaksanakan kini berganti dengan tangisan kesedihan dari seluruh keluarga, tampak beberapa tamu undangan undur diri bergantian dengan tamu yang datang melayat.
Tubuh kaku sang ayah kini sudah terbarung diruang tamu beralaskan kain tebal dan tertutup kain jarik.
Sera terus menangis disisi bundanya yang sedang melafalkan do'a untuk suaminya,berat rasanya kehilangan orang yang sangat disayanginya tetapi dia harus kuat demi Sera yang kini sedang mengandung.
" Bunda...kenapa ayah diam-diam meninggalkan kita ".
Bunda terdiam, kalau boleh jujur bunda juga ingin rasanya berteriak mengurangi rasa sesak didadanya, tetapi beliau tidak mau membuat anaknya ikut merasakan kesedihannya.
"Ayah kenapa ninggalin bunda, ayah tahu kan bunda lemah tanpa ayah, sekarang bunda sendirian ayah, maafkan semua kesalahan bunda selama menjadi istri ayah, bunda belum bisa menjadi istri yang sempurna, bunda selalu manja sama ayah,bahkan keputusan memiliki anak hanya satu itu juga atas keinginan bunda....ayah....bunda sangat kehilangan ayah, sesak dada bunda yah ".
Suara hati bunda menumpahkan semua kegundahan dihatinya, bunda menggigit bibirnya demi menahan agar tangisnya tidak pecah,hanya air matanya yang terus mengalir deras membasahi baju putih yang kini menutupi tubuhnya.
Sikecil Saina tiba-tiva mendekati jenazah ayahnya,kemudian duduk sambil menggenggam tangan dingin ayahnya yang kini telah tiada.
" Ayah kenapa ninggalin Saina, ayah marah ya sama Saina, ayah nggak mau lihat adik Saina ya....Ayah ayo bangun jangan tidur terus ayah....huwa....huwa...." tangis Saina pecah.
Ardan segera mendekati putrinya lalu memeluknya erat.
__ADS_1
" Sayang, Ayah sudah kembali sama Allah sang pencipta, kita doakan ayah sama-sama yuk, daddy yang ajarin ya " bujuk Ardan sambil mengusap pipi putrinya yang basah terkena air mata itu......