Menikah Remaja

Menikah Remaja
TIGA PULUH


__ADS_3

Di ruang perawatan, Sera terdiam sambil meraba perutnya yang masih rata, sesekali air matanya menetes haru mengingat kehamilan pertamanya sangat berbeda dengan kehamilannya yang kedua ini.


Kalau dulu ketika dia hamil Saina rasanya dunianya runtuh tetapi kini bagaikan mendapatkan gantinya, keluarga besarnya sangat antusias menyambut hadirnya calon cucu kedua yang akan ikut meramaikan rumah besar milik keluarga Ardan.


Sera mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan tampak sepi, karena tadi setelah memastikan istrinya istirahat Ardan berpamitan untuk menjemput anak pertama mereka.


Bayangan Saina putri kecilnya yang kini sudah aktif disekolah membuat Sera semakin rindu, dan tiba-tiba tangisnya pun pecah.


Entah mungkin kalau tidak ada Saina, kehidupan Sera tidak akan seperti ini, memiliki mertua yang sudah menganggapnya anak sendiri, suami yang bertanggung jawab serta kehidupan yang lebih baik meskipun terkadang ada kerikil yang menjadi sandungan tetapi Sera bersyukur dirinya bisa melewatinya hingga dititik ini.


Tok..tok...tokk..


" Selamat siang, saya dokter yang bertugas hari ini...Se...ra" lanjut dokter yang baru saja masuk keruangan tersebut.


" Kak Leo?" Sera tak kalah kaget.


" Maksud saya dokter ..." bibir Sera kelu menatap mantan kekasihnya.


Leo seorang dokter muda yang baru saja ditugaskan di rumah sakit tempat Sera dirawat, awalnya Leo enggan untuk kembali ke kota tersebut tetapi karena tugas dirinya tidak bisa menolak kecuali mau mendapatkan sanksi dari dinas kesehatan.


Leo gugup ketika memeriksa keadaan Sera, meski dirinya bukan dokter kandungan tetapi sebagai dokter jaga maka dia memeriksa semua pasien dilantai tersebut.

__ADS_1


" Apa kabar Ser...?" ucapnya lirih sambil merapihkan peralatannya.


" A..aku baik kak, kabar kak Leo bagaimana?" tanya Sera.


" Aku...seperti ini saja, tidak ada perubahan signifikan" jawab Leo sambil memandangi wajah mantan kekasihnya tersebut.


" Ser..."


" Kak.."


" Kamu duluan Ser" ucap Leo.


" Heeeeh.....entahlah Ser, meski sudah berlalu rasanya masih tetap sama saja" Leo membuang nafas kasar.


" Belajarlah membuka hati kakak, karena....".


Braaakkkk.....


Leo tersungkur dari kursinya, Ardan mendorong tubuh Leo untuk menjauh dari istrinya.


" Ardan stop....apa yang kamu lalukan?" pekik Sera melerai suaminya.

__ADS_1


" Oh jadi kamu membelanya? kamu masih cinta sama dia?!" Ardan menatap nyalang terhadap istrinya yang masih lemah diatas ranjang pasien.


" Aku nggak mau ada keributan Dan, Kak Leo maafkan Ardan, maafkan aku...aku mohon kak Leo keluar dulu" ucap Sera sambil berlinangan air matanya.


Ketila Leo sudah pamit keluar, Sera langsung mengusir suaminya.


" Kamu juga keluarlah, aku mau sendiri dulu" perintah Sera tanpa memandang suaminya.


Hatinya kesal bercampur marah melihat sifat suaminya yang arogan tanpa bertanya terlebih dulu.


Sera sadar Ardan sedang dilanda cemburu tetapi dengan kekerasan yang dilakukan suaminya sungguh membuat Sera kecewa.


" Hooh rupanya kamu lebih suka ditemani oleh dokter sialan itu dari pada aku, suamimu sendiri?".


Sera hanya diam sambil menahan tangisnya.


" Ternyata kamu masih mencintainya, maaf aku sudah membuat kalian terpisah, setelah anak yang dikandunganmu lahir, maka kamu boleh memilih untuk bebas biar aku yang merawat kedua anakku" tegas Ardan kemudian berlalu keluar meninggalkan istrinya yang masih terdiam.


Sera menangis meraung rasanya sakit mendengar Ardan menuduhnya masih mencintai mantan kekasihnya, Sera sengaja diam demi menjaga moodnya agar tidak mempengaruhi kondisi kandungannya yang lemah, tetapi justru itu membuat suaminya salah paham.


" Apa maksudmu Dan, aku sangat mencintaimu tetapi kamu malah menuduhku yang tidak benar...hiks...hiks.....sabar ya nak nanti pasti daddy balik lagi, daddy hanya lagi emosi sesaat, daddy sayang kok sama kita" Sera membelai lembut perutnya yang masih rata.

__ADS_1


__ADS_2