
Bagi sebagian orang sering menganggap status janda itu rendah, tetapi kalau janda yang bisa membawa diri dan tidak mudah terprovokasi itu baru mahal.
Apalagi hanya karena omongan Stela, itu sangat tidak berarti bagi Sera, menurutnya omongan yang keluar dari sampah tetaplah sampah tidak lebih, apalagi omongan pelakor model Stela yang hanya mengincar harta,
Walaupun menyandang status janda, tetapi Sera selalu terlihat berharga bagi Hans, sejauh ini hubungan mereka berjalan lancar, dengan orang tua masing-masing juga sudah saling mengenal.
Bahkan ibu Tika, ibunya Hans sudah menyuruh anaknya untuk melamar Sera, tetapi Hans tidak mau sembarangan apalagi terkesan sangat ingin mengikat Sera, dia takut Sera justru ilfil padanya.
" Kapan mau melamar Sera, kamu ini terus saja nanti- nanti, ibu kan pengen gendong cucu dari kamu nak " ibu Tikw ngomel dari pagi.
" Iya bu, nanti, kita masih mau ngatur keberangkatan kita ke Aceh lho, untuk peringatan wafatnya papi dan kakak-kakak Hans " jawab Hans.
" Ibu seperti ragu untuk pergi nak, apa tidak sebaiknya kita bikin acara disini saja " tawar sang ibu.
" Bu....ibu jangan berfikir yang aneh- aneh, niat kita kan untuk ziarah lho, sudah lama sekali kita tidak pernah ziarah ke makam papi dan kakak-kakak, sekalian Hans mau meminta ijin untuk melamar pujaan hati Hans ".
" Entahlah Hans, ibu pengen kita disini saja, cuma kamu yang ibu punya, tetapi kalau kamu bersikeras apa boleh buat, toh kamu sudah dewasa kamu yang menentukan bagaimana langkah kamu kedepannya " Ibu Tika berucap lirih.
Ada ganjalan dihatinya, tetapi dia tidak tahu apa yang pasti sehingga tidak mampu berbicara pada putranya.
Disisi lain ada seorang pria yang kini hanya monoton menjalani hidupnya, setiap hari hanya ke kantor, pulang, terkadang menjenguk anaknya.
Begitu saja, beberapa kali mencoba dekat dengan teman wanita tetapi bayangan masa lalunya kembali menghantuinya.
Bahkan dia sampai stres memikirkan nasibnya yang kini tidak tentu arah, dia tahu kepada siapa dia harus kembali tetapi benteng penghalangnya cukup susah untuk dilaluinya.
Perlu kendaraan khusus untuk menghancurkannya, tetapi dia merasa putus asa disaat melihat pelabuhannya kini memiliki kapal baru yang siap berlayar bersamanya, bukan hanya untuk singgah.
__ADS_1
Hari ini....
Disaat hatinya kacau tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dari luar.
Tok...tokkk...tok....
" Masuk " titahnya.
" Maaf pak, ada tamu dari design yang waktu itu sudah membuat janji " asistennya memberi tahu.
" Baiklah siapkan ruang meeting, saya akan segera kesana " perintahnya lagi.
" Siap pak, permisi " pamit asistennya.
Ardan melangkah ke ruang meeting, dia memakai jaznya yang tadi sempat dilepaskan oleh Brisia, teman kencannya.
Ketika membuka ruang meeting betapa kagetnya Ardan, ternyata tamunya adalah rivalnya yaitu Hans, dan wanita yang berada disampingnya adalah Sera.
" Selamat siang pak Ardan " sapa Hans sambil mengulurkan tangannya.
" Selamat siang " Ardan menyapa balik dan membalas uluran tangan Hans.
Ekor mata Ardan melirik kearah Sera, namun Sera mengabaikannya berusaha fokus pada proposal yang akan dia serahkan.
" Baik pak, sebelumnya perkenalkan ini ibu Sera, beliau designer terkenal dari boutique Arsena, dan tentunya bapak sudah kenal persis siapa beliau, nantinya beliau ini yang akan melakukan pengerjaan untuk seragam yang pernah kita bicarakan melalui telepon minggu lalu, untyk lebih detailnya beliau akan menerangkan tentang rancangannya " Hans menerangkan.
" Silahkan " ucap Ardan singkat.
__ADS_1
Sera sedikit gugup, bagaimana tidak, kini dihadapannya adalah mantan suaminya,dan disampingnya adalah kekasihnya.
Dengan susah payah Sera menerangkan tentang proposalnya, bahkan tidak sedikit dia berusaha mengoreksi kalimatnya dikarenakan kegugupannya.
Ardan manggut-manggut, dia selalu mengagumi karya dari mantan istrinya tersebut, gaya bicaranya mengingatkannya dikala keduanya masih suami istri, ketika Sera memarahinya, atau protes padanya.
" Saya akan kaji ulang, kalau memang nantinya masuk dalam anggaran biaya yang sesuai dan cocok maka saya akan menghubungi anda kembali " ucap Ardan setelah Sera menerangkan.
" Maaf pak, bagian mana yang harus dikaji ulang, setahu saya semuanya sudah sesuai dengan permintaan bapak dan sudah standar nasional " protes Sera.
" Ibu Sera tentu tahu, kalau hasil meeting tidak selamanya langsung lolos, bahkan ada yang butuh waktu lama untuk mendapatkan Acc dari perusahaan " terang Ardan.
Sera masih tidak terima, baginya Ardan hanya mengulur waktu untuk menolak proposalnya.
" Kalau memang tidak mau pakai jasa kami katakan saja sekarang, jadi kami tidak perlu menunggu lagi " cecar Sera.
Ardan menjadi gemas, ingin rasanya dia mencomot bibir Sera yang terus nyerocos.
" Maaf pak, kami akan menunggu hasil dari bapak " Hans menengahi.
" Kak jangan mau dibodohi, itu hanya akal-akalan dia saja " bisik Sera.
" Tenang Ser, kalau projek ini lolos berarti memang bukan rejeki kita " Han balas membisiki Sera berusaha menenangkan.
" Terserahlah " Sera manyun, tiba-tiba jemari tangannya digenggam oleh Hans dibawah meja.
Sera melunak dan memilih mendengarkan keputusan Hans dan Ardan.
__ADS_1
Akhirnya keduanya pamit dan berjalan beriringan sambil bergandengan tangan,itu semua tidak luput dari pandangan Ardan yang membuatnya kalang kabut, memilih segera pergi untuk menemui wanita yang tadi sempat membuang jaznya.
Brisia...