
Semenjak kejadian dirumah sakit,hingga Sera diijinkan pulang, Ardan menjadi sngat dingin, dia hanya akan tertawa ketika bersama anak sulungnya yaitu Saina yang kini semakin pintar.
Seperti pagi ini ketika sarapan, Ardan bercengkerama mesra dengan putri kecilnya yang sedang asik bercerita tentang kura-kura hadiah dari daddynya.
" Daddy nanti miaw diajak jalan-jalan boleh?".
" Boleh sayang, tapi jangan jauh-jauh dan harus sama suster ya" ucap Ardan sambil membelai kepala putrinya.
" Nanti biar sama mommy aja ya" Sera menyahut.
Ardan menatap tidak suka, " Kamu dirumah saja, jaga kondisi kandunganmu, biar Saina sama suster".
" Tapi....".
" Ngga ada tapi-tapian" tegas Ardan.
Papa dan mama Ardan menatap kedua anaknya lalu menghela nafas berat,mereka tahu rumah tangga anaknya sedang bermasalah tetapi mereka tidak mau ikut campur.
Setelah Ardan dan Saina pergi, Sera masih terdiam dimeja makan tampak lemah air matanya sudah siap terjun tetapi ditahan demi melihat mama mertuanya.
" Ser.....apa kalian masih berantem nak?" tanya mamanya pelan.
Sera langsung memeluk sang mama sambil menangis, dirinya saat ini sangat membutuhkan tempat bersandar, tetapi suaminya yang masih marah malah bersikap dingin dan menjauhinya.
" Ma.....mama....Sera sakit mama....Sera nggak kuat sama sikap Ardan, Sera nggak mau kaya gini terus ma....Sera mau pulang aja kerumah bunda..hiks...hiks....hiks...."tangis pilu Sera membuat mamanya ikut sedih, disaat hamil memang sudah sewajarnya seorang suami memanjakan istrinya, tetapi menantunya justru malah diabaikan oleh putranya.
" Sabar ya nak, nanti kita cari solusinya jangan pulang nak, nanti orang tuamu malah berfikir macam-macam, ada mama disini nak" mama mertuanya memeluk Sera sambil mengusap air matanya.
" Apa mama boleh tahu nak, sebenarnya ada masalah apa?" tanya mama mertuanya hati-hati takut Sera tersinggung.
Sera menggigit bibirnya, lalu menceritakan semua yang terjadi hingga membuat Ardan marah dan sudah hampir satu bulan mengabaikan istrinya dengan bersikap dingin.
__ADS_1
" Sera mencintai suami Sera ma....Sera tidak mencintai kak Leo lagi tapi kenapa Ardan menuduh Sera ma....." hiks....hiks...tangis Sera terdengar menyesakkan hati.
" Ini hanya salah paham saja, mungkin Ardan bersikap demikian karena dia sangat mencintai kamu nak, nanti mama bantu bicara sama Ardan, biar bagaimana pun masalah ini tidak boleh dibiarkanaa terlalu lama karena itu tidak baik dan juga untuk kandungan kamu tidak bagus nak efeknya".
Mama Ardan kemudian mengantar Sera kekamarnya untuk istirahat.
Jam 12 siang Ardan pulang karena kebiasaannya sehabis menjemput Saina mak dia akan mengantar anaknya sampai rumah kemudian makan siang.
Tetapi hari ini Ardan tidak menemukan istrinya di meja makan hanya ada Saina dan mamanya.
Ardan melihat kearah kamarnya dilantai dua tetapi istrinya tidak menunjukkan akan turun untuk makan siang.
Setelah selesai menikmati makan siangnya, Ardan berjalan cepat menuju kamarnya, ketika pintu dibuka dia tidak menemukan istrinya,lalu dia mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dikamarnya.
Tokk...tokk..tokkk
Tidak ada sahutan dari dalam, kemudian Ardan mendobrak pintu kamar mandinya dan melihat istrinya sudah bersimbah darah dan dalam keadaan pingsan.
Karena Sera tidak merespon akhirnya dengan setengah berlari Ardan menggendong Sera untuk membawanya kerumah sakit.
Seketika satu rumah heboh ketika melihat Ardan menuruni tangga sambil membawa istrinya yang sedang pingsan.
Sampai dirumah sakit , Sera langsung mendapatkan perawatan dari dokter.
Ardan mondar mandir tidak tenang, setelah hampir 15 menit dia dipanggil dokter untuk mengetahui keadaan istrinya.
" Bagaimana keadaan istri saya dok?".
" Istri anda mengalami keguguran pak, dan kami harus segera melakukan tindakan kalau tidak nyawa istri anda yang akan terancam karena istri anda sudah banyak kehilangan darah".
Bagai disambar petir, Ardan hanya bisa pasrah sambil merutuki kebodohannya yang sudah mengabaikan istrinya sehingga mereka harus kehilangan bayinya.
__ADS_1
Ardan menangis disamping ranjang istrinya sambil menatap wajah pucat istrinya yang baru saja melakukan kurtase.
Rasa bersalah berkecamuk dihatinya, menyesal tetapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi.
Mamanya yang tadi menemaninya kini harus pulang karena tidak mungkin meninggalkan cucunya terlalu lama.
Hingga dua jam Sera belum juga terbangun, keadaannya sangat lemah, dan Ardan tidak sedetikpun meninggalkan istrinya, tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya.
Hingga malam hari akhirnya Sera terbangun, dia memperhatikan sekelilingnya ternyata kini berada dirumah sakit, Sera melihat lelaki yang memporak porandakan hatinya tertidur dengan posisi duduk sambil mencium tangannya yang diinfus.
Pergerakan Sera membuat Ardan terbangun.
" Sayang kamu susah bangun, kamu mau apa sayang biar aku yang melayani kamu" tanya Ardan dengan berbinar bahagia.
"Aku mau minum".
Diambilnya minum yang ada dinakas lalu memberikannya pada istrinya.
" Sayang kamu mau apa lagi, aku bahagia akhirnya kamu bangun sayang".
" Apa yang terjadi?".
" Sayang....kita nanti bisa program lagi sayang kamu jangan sedih ya.... aku mencintaimu sayang" Ardan memeluk istrinya.
Sera memejamkan matanya, bulir bening mengalir tanpa bisa berhenti, sakit kehilangan yang dia rasakan saat ini.
Meski suaminya kini memeluknya tetapi hatinya sakit, karena ulah suaminya kini dia kehilangan bayinya.
" Sayang aku janji akan lebih memperhatikan kamu sayang, maaf sudah membuat kamu sedih sayang...aku mencintaimu sayang maafkan aku" ucap Ardan sambil menciumi puncak kepala istrinya.
" Apa maafmu bisa membuat dia kembali?".
__ADS_1