Menikah Remaja

Menikah Remaja
TUJUH PULUH DELAPAN


__ADS_3

Setelah terjadi peperangan, orang tua Ardan tetap membawa cucu pertama mereka ke kota kembang Bandung.


" Sudahlah ma, sekarang kita istirahat sambil menikmati perjalanan, nggak usah manyun mulu kasian Saina " bujuk si opa.


Oma dengan tatapan tajam sambil melirik kearah cucunya.


Kemudian memilih memejamkan matanya untuk mengurangi rasa kesalnya.


Perjalanan ke Bandung memakan waktu sedikit lebih lama karena hari ini lalu lintas terpantau lebih padat dari biasanya.


Saina yang sudah mulai bosan pun mulai merengek minta kembali pulang karena sudah terlalu capek.


" Oma pulang aja yuk, Saina capek opa nyetirnya lambat nggak kaya daddy " celetuk Saina.


" Sabar sayang sebentar lagi kita sampai kok " bujuk omanya.


" Opa ngebut deh sekarang "...


" Noooo " teriak istri dan cucunya.


" Katanya tadi minta cepet " rajuk opanya.


" Cepet bukan berarti ngebut dong opa " ucap Saina.


" Tau nih opa kamu ada - ada aja, mau uji nyali kali " dengan tatapan tajamnya oma ikut menyela.


Perdebatan mereka pun terhenti didepan sebuah hotel di pusat kota kembang itu.


Saina yang sudah sangat lelah memilih segera mengikuti langkah omanya menuju kamar yang sudah dipesan oleh opanya.


Kaman suite itu terdapat dua kamar tidur, satu buah dapur,ruang tamu dan ruang santai.

__ADS_1


Oma mengantar Saina ke kamar yang sudah dipilih oleh cucunya itu.


" Saina istirahat dulu ya nak, oma juga mau istirahat dulu " tutur omanya.


" Baik oma ".


Saina memilih memejamkam matanya yang sudah terasa perih karena kelelahan.


Kriiiing....kriiiiing


Ponsel oma berbunyi dan oma segera menjawabnya.


" Iya Dan....kenapa? ".


" Saina rewel nggak ma ? ".


" Sempat tadi rewel karena macet tapi alhamdulillah sudah nggak lagi, sekarang kita sudah di hotel, Saina sedang istirahat dikamarnya " .


Sera yang disebelahnya pun mencubit perut suaminya karena diadukan ke mamanya.


" Auuu sakit yank ".


" Makanya jangan suka ngadu, wajar aku khawatir sama anakku ".


" Anak aku juga kali ".


" Sudah-sudah mama malah pusing denger kalian ribut, ya sudah mama mau istirahat dulu kalian hati-hati dan cepet balik kesini ya daaaa ".


Oma menutup telepon dari anaknya dan segera masuk kekamar menyusul suaminya untuk istirahat.


Malam hari mereka bertiga menikmati kota kembang sambil menuruti semua permintaan cucu kesayangnnya.

__ADS_1


" Oma mau beli boneka yang gede boleh nggak ".


" Boleh sayang, apapun untuk cucu oma boleh ".


" Yeeeey makasih oma " sebuah kecupan mendarat dipipi omanya.


" Kok opa nggak dicium? " seloroh opanya.


" No....Opa nggak beliin Saina mobil remot jadi Saina ngambek " ucap Saina.


" Lagian Saina kan cewek ngapain minta mobil remot, ya opa nggak mau lah ".


" Itu buat adik Saina yang siperut mommy ".


" Memangnya Saina yakin kalau adiknya pasti cowok ?".


Saina menganggukkan kepalanya, " Yakin seribu persen opa ".


Senyum mengembang dibibir opanya, dalam hati dirinya berharap bahwa cucu keduanya berjenis kelamin laki-laki agar nantinya ada yang melanjutkan perusahaannya, tetapi kalaupun perempuan baginya tidak masalah toh seperti Saina sudah dikenalkan diperusahannya sebagai penerusnya kelak.


Opa membelai kepala cucunya, " Kita berdoa saja semoga adik Saina benar laki-laki ya sayang supaya semakin lengkap keluarga kita " ucapnya.


" Aamiin....oma juga berdoa demikian " sahut oma.


Saina kemudian memeluk oma dan opanya.


" Nanti kalau dapat cucu laki-laki tetap harus sayang sama Saina ya, kalau enggak nanti Saina mau tinggal dirumah bunda biar opa sama oma kangen terus nangis ".


Keduanya tertawa mendengar ancaman serta muka yang cemberut dari cucu kesayangannya.


.......

__ADS_1


__ADS_2