Menikah Remaja

Menikah Remaja
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Dari subuh Ardan sudah uring-uringan, hari ini dia dijadwalkan harus berangkat ke Kalimantan untuk mengurus kerjasama dibagian properti yang dikembangkan oleh papanya, namun entah mengapa dia ingin sekali Sera ikut dengannya.


Padahal biasanya dia selalu pergi sendiri tapi kali ini dia menjadi aneh dengan menginginkan istrinya ikut, sedangkan Sera yang masih menjadi karyawan dan mempunyai tanggung jawab tentu menolak ajakan suaminya itu.


" Kamu nggak nurut sama suami dosa tahu hukumnya ".


" Aku kerja Dan, jadi nggak bisa sembarangan ninggalin tanggung jawab".


" Makanya nggak usah kerja, masih kurang apa aku yang kerja, pakai kamu ikut-ikutan kerja?".


Sera memejamkan matanya menahan emosi yang sudah naik kekepalanya, " Biasanya kamu nggak seribet ini, ngapain sih aku harus ikut?" suara Sera agak meninggi.


" Suka-suka aku lah, kamu kan istri aku, mau aku minta kamu buat ikut kemanapun itu terserah aku, kenapa mau nolak? mau dosa? mau jadi istri yang nggak berbakti sama suami?" cerocos Ardan.

__ADS_1


" IYAAAA....KENAPA?!, kamu pikir aku nggak bisa marah! kamu pikir aku cuma bisa diem denger kamu ngoceh dari pagi? mau kamu ngomong apapun terserah aku nggak peduli!" ucap Sera sambil berlalu meninggalkan suaminya.


Ardan berjengkit kaget, tidak biasanya Sera membalas ucapannya dengan kasar, bahkan Sera meninggalkannya dalam kebingungan.


Sera yang sudah kesal berjalan cepat ke kamar anaknya yang sedang bersiap berangkat sekolah, ya kini Saina sudah memulai bersekolah di taman bermain hanya untuk latihan bersosiialisasi, itupun masih diyayasan milik opanya.


Tetapi ketika Sera ingin membuka pintu tiba-tiba dia merasakan kepalanya berdenyut keras bahkan sampai membuatnya hilang keseimbangan, beruntung Ardan yang tadi mengikutinya dengan sigap menangkap tubuh istrinya.


" Ser kamu kenapa?....kamu sakit?maafin aku Ser, aku nggak bakal maksa kamu lagi tapi aku mohon jangan sakit" ucap Ardan panik sambil membawa Sera kembali kekamar dan membaringkan Sera diatas kasur mereka.


Semua penghuni rumah itu panik, kemudian membawa Sera ke rumah sakit untuk diperiksa.


Ardan yang panik berlari memanggil dokter agar segera memeriksa istrinya, " Aduh pak Ardan ini kaya baru anak pertama, ini sudah yang kedua harusnya sudah hafal tanda kalau istri pak Ardan ini sedang hamil" sindir dokter Fatimah.

__ADS_1


Dokter Fatimah adalah dokter keluarga Mahendra yang selalu siap kapanpun dipanggil oleh keluarga tersebut, tetapi karena tadi Ardan terlalu panik sehingga memilih berlari membawa istrinya ke rumah sakit.


" Apa...hamil?" tanya Ardan memastikan.


" Iya pak....mari kita lihat untuk pemeriksaan lanjutannya diruangan saya" ajak dokter Fatimah , "suster tolong persiapkan untuk pemeriksaan selanjutnya ya" perintah dokter Fatimah ke suster jaga diruangan tersebut.


Setelah dibawa pindah ruangan dokter Fatimah melakukan USG untuk melihat keseluruhan perkembangan janin diperut menantu keluarga yang sudah membantunya selama ini.


" Bisa dilihat ya pak, ini kantungnya sudah ada janinnya, kira-kira sudah berusia 10 minggu, apa selama ini nona Sera tidak ada keluhan? misal menginginkan makanan tertentu atau sebagainya?" ucap Dokter.


" Sepertinya tidak ada dok, hanya tadi tiba-tiba Sera pingsan, tapi sepertinya saya yang mengalami ngidam dok, saya selalu ingin bersama istri saya, saya juga sering marah kalau Sera memilih menemani Saina dari pada saya" cerita Ardan sambil mengingat beberapa kekonyolannya yang sering membuat Sera naik darah.


Dokter Fatimah tersenyum, " Lain kali tolong lebih dijaga untuk emosi nona agar tidak memicu darahnya naik ya pak, karena kalau sampai non Sera sering pingsan karena darah naik akan membahayakan ibu serta janinya" nasehat dokter Fatimah, " Nanti saya berikan resep obay beserta vitaminnya, dan silahkan ditebus diapotek, untuk semsntara biarkan non Sera istirahat dulu sambil menghabiskan infusnya" lanjut dokter Fatimah.

__ADS_1


" Baik dok".


__ADS_2