Menikah Remaja

Menikah Remaja
LIMA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hari minggu, acara arisan dirumah orang tua Ardan.


Ardan, Sera dan Saina sudah rapi untuk mengadiri acarnay tersebut, bunda dan ayahnya memilih tidak ikut karena salah satu saudaranya ada yang datang dari bandung.


" Bun, nanti Sera menginap kayaknya " pamit Sera.


" Iya tidak apa-apa nak, kamu sudah lama tidak menginap disana " jawab bunda Sera.


Sera sedang merapikan beberapa lembar baju miliknya dan Saina.


" Ardan tidak dibawakan baju nak?" tanya bunda.


" Bajunya masih banyak katanya dirumah sana " jawab Sera sambil sibuk menata baju dalam koper kecil.


" Jangan sampai ada yang ketinggalan, buku pelajaran Saina juga dibawakan " bunda mengingatkan.


" Sudah beres kanjeng, semua sudah siap " jawab Sera sambil nyengir kuda.


" Dasar kamu ini ".


" Bagaimana hubunganmu dengan Ardan sekarang" lanjut bunda.


Sera terdiam lalu menggelengkan kepalanya, " Entah bun, aku masih trauma jadi aku menjalaninya dengan santai " jawab Sera lesu.


" Ardan sudah banyak berubah, dia menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan Saina, dia bahkan selalu meluangkan waktu untuk Saina meski sedang sibuk " ucap bundanya.


" Bun, Sera yang tahu dan Sera juga yang merasakannya....".


" Tapi kamu seolah menutup hatimu Ser, apa kamu masih berharap pada almarhum Hans?" potong sang bunda.


" B-bunda....., Mengapa bunda jadi seperti ini, apa salah kalau Sera punya trauma?, rasa sakitnya masih jelas terasa, bukan perihal Sera mengharap pada orang yang sudah meninggal, tapi Sera hanya meminta waktu, biarkan Sera yang menjalaninya bun " ucap Sera sambil berlinangan air mata.


Bunda menjadi tidak tega, dia pun meraih tubuh putrinya lalu memeluknya, terasa bergetar tubuh Sera karena tangisnya.


" Maafkan bunda nak, bunda salah terlalu memaksamu " sesal bunda.


Sera tidak menjawabnya, dia masih menangis, bukan karena marah terhadap bundanya tetapi lebih kesal saja.


Dia melepaskan diri dari pelukan bunda, kemudian menghapus air matanya, " Sera pamit ya bun, takut kesiangan,nggak enak kalau telat " pamit Sera.


" Hati-hati nak " jawab bundanya.

__ADS_1


Sera berjalan kearah depan dimana anak dan suaminya sudah menunggu didalam mobil.


" Mommy lama ih, kan Saina mau kerumah Opa " teriak Saina dari dalam mobil.


" Ya ya ya .....sabar bos " jawab Sera sambil berusaha memasukkan koper ke dalam bagasi.


" Sudah biar aku, kamu masuk ke mobil saja " pinta Ardan.


Sera segera masuk, memilih dikursi belakang, karena kursi depan sudah ada anaknya yang tidak mau pindah.


" Hati-hati dijalan, kabari kalau sudah sampai, salam untuk papa dan mamamu " pesan ayah Sera.


" Siap yah, kita berangkat dulu ya, assalamu alaikum " ucap Ardan.


" Waalaikum salam " jawab ayah Sera.


Dijalanan....


" Waduuuuh macet parah nih kayaknya " celetuk Ardan.


" Iya dad gara-gara mommy lama " timpal Saina.


" Kok jadi mommy sih " protes Sera.


" Apaan sih " Sera sewot.


" Sudah-sudah, daddy jadi nggak konsentrasi nyetir nih " Ardan menengahi.


" Itu anak kamu, selalu kamu belain jadinya gitu tuh" sahut Sera kesal.


Ardan hanya melirik dari spion tengah, lalu menggelengkan kepala, baginya wanita yang sedang merajuk di kursi belakangnya sangatlah imut, justru dia merasa senang dengan percekcokan antara ibu dan anak itu, Ardan merasa dunianya kini lebih berwarna.


Mobil yang dikendarai Ardan telah memasuki halaman rumah orang tua Ardan, disana sudah ada beberapa mobil tamu yang sudah terparkir rapi, Ardan segera parkir dan menurunkan barang, Saina sudah berlari masuk kerumah opanya, sedangkan Sera turun dengan muka ditekuk.


" Udah dong, masa masih ngambek sama anak sendiri ".


" Aku tuh kesel banget sama Saina, semakin berani ngelawan kalau sama aku " tutur Sera.


" Namanya juga anak- anak, nanti biar aku nasehatin Saina, sudah ya nggak usah manyun, nggak enak sudah banyak tamu yang datang" ucap Ardan.


Sera berusaha menetralisir kekesalannya, mencoba tersenyum, kemudian mengikuti Ardan masuk kerumahnya.

__ADS_1


" Assalamu alaikum ".


" Waalaikum salam, eh sini Dan, Ser masuk, Saina sudah sama opanya, mama nggak tahu lagi ngadu apa" jawab mama Ardan.


" Paling ngaduin yang tadi dimobil ribut sama Sera, dasar tukang ngadu " sungut Sera moodnya kembali jelek.


" Sudah dong, nggak usah dibahas deh, ma Ardan keatas dulu ya naruh koper " ucap Ardan berpamitan.


Kini Sera mengekor mamanya menata kue kedalam piring di meja tengah.


" Loh jeng menantumu masih ini " tanya seorang tamu.


" Memang mau siapa lagi?" timpal mama Ardan.


" Saya kira ganti jeng, kan waktu ity mereka sempat pisah kan?" cecarnya lagi.


" Berpisah untuk bersama lagi, tidak masalah, toh sekarang keduanya malah makin lengket kok" bela mama.


Sera terdiam seribu bahasa, rasanya ingin mengiris mulut tante Debi yang memang tukang nyinyir itu, Sera yang masih memegang pisau mengeratkan pegangannya.


" Sudahlah jeng Debi, lebih baik jeng Debi segera memikirkan dengan siapa anak jeng Debi menikah, tidak perlu mengurusi atau ikut campur keluarga saya " balas mama Ardan lagi.


Wanita bernama Debi yang merupakan adik ipar dari papa Ardan pun memilih pergi karena kesal.


" Kalau ada orang yang menghina kita, harus kita balas dengan cerdas, jangan diam saja, karena kita harus membungkam mulutnya supaya tidak membeo sesukanya " nasehat mama Ardan.


" Iya ma, lain kali Sera tidak akan tinggal diam ".


Acara Arisan keluarga berjalan lancar, kini semua tamu sedang menikmati makan bersama, Saina berceloteh dipangkuan opanya, tidak sedikitpun niat untuk jauh dari opa tercintanya.


Sera dan Ardan duduk berdampingan layaknya suami istri yang sesungguhnya, Sera mengambilkan makanan untuk suaminya, kini keduanya makan bersama.


" Aku seneng Ser, kamu sudah mau tersenyum lagi " ucap Ardam disela mengunyah.


" Kalau makan tuh diem, nggak usah sambil ngomong, muncrat tuh " sarkas Sera.


" Biarin, tinggal dilap sih ".


" Jorok, pantes Saina jorok juga mirip kamu ".


" Giliran yang jelek-jelek dibilang mirip aku ".

__ADS_1


" Emang iya, suka kentut, ngupil sembarangan, cerewet, mulut pedas mirip banget kamu " cerocos Sera.


Ardan tertawa sambil memegangi perutnya......


__ADS_2