Menikah Remaja

Menikah Remaja
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Ketika sampai dirumah, Sera kaget karena suasana terlihat ramai orang, bahkan ada dua mobil yang dia kenali terlihat parkir di halaman rumah orang tuanya.


Sera segera memarkirkan mobilnya, kemudian turun dan berjalan setengah lari masuk ke dalam rumah, namun seketika dunianya gelap setelah melihat kenyataan tangan putri kesayangannya dibalut perban dan dijidatnya terpasang plester.


" Saina, anak mommy kenapa, Yah anak Sera kenapa yah, Bun " tanya Sera panik, kepalanya pening.


" Maafin aku Ser, aku teledor sehingga dedek jatuh, posisi ayah dan bunda agak jauh dari kita sehingga terlambat untuk menolong dedek" Ardan menjelaskan.


Sera memejamkan matanya menahan emosinya, karena disana ada mantan mertuanya yang ikut datang ketika mendengar cucu kesayangan mereka terjatuh dari komedi putar yang masih beroperasi.


" Maafkan ayah dan bunda nak" ucap Ayahnya lemah.


" Iya Ser maafin kami yang nggak sigap menolong Saina" timpal bunda.


" Sera bawa Saina masuk dulu ya, semuanya permisi" ucap Sera kemudian menggendong Saina dan membawanya ke kamar.


Semua yang ada di ruang tamu hanya memandang lesu kepergian Sera dan Saina, bahkan sikap Sera membuat semua orang uang ada merasa tidak enak hati.


" Kamu gimana sih Dan, jagain cucu papa nggak becus!" hardik sang papa.


" Namanya musibah pah " jawab Ardan.


" Musibah apa musibah? Kalau kamu tidak lalai tentu cucu papa nggak bakal jatuh sampai harus dijahit, kamu pikirkan bagaimana perasaan Sera" cecar papanya lagi.

__ADS_1


" Sudah pah, nggak enak sama orang tua Sera" mama Ardan mencoba menengahi.


" Iya pak Mahendra, kita jangan saling menyalahkan dulu" ucap bunda Sera.


" Jujur kami malu, kelakuan Ardan susah ditoleransi, selalu bikin gara-gara" lanjut pak Mahendra.


" Sudahlah, kita tunggu Sera keluar, kita minta maaf saja nanti " sambung pak Wijaya, ayah Sera.


" Ya kalau Sera mau memaafkan, kita tahu jelas bagaimana sifat Sera, dia paling susah untuk memaafkan kesalahan orang lain terutama kesalahan Ardan" ucap mama Ardan.


Selang beberapa saat, Sera keluar dari kamar, dia mendudukkan dirinya disofa dekat dengan bundanya.


" Aku kecewa kamu tidak menjaga Saina dengan baik, tetapi aku tidak menyalahkanmu, semua sudah terjadi, kita berdoa saja agar Saina cepat pulih kembali" ucap Sera pada Ardan.


" Untuk saat ini tidak ada lain kali, aku tidak mengijinkan, kalau mau datang kerumah temani Saina main dirumah tidak perlu keluar rumah segala" tegas Sera.


Semua terdiam, tetapi Ardan malah mulai memanaskan suasana," Makanya kita rujuk Ser, agar aku bisa setiap saat menjaga Saina, bermain dengan Saina tanpa harus bolak balik".


Sera menatap sengit pada mantan suami tengilnya itu, " Apa kamu bilang? Menjaga dan bermain dengan Saina? Aku nggak salah denger? Ketika masih bersama saja kamu lebih sibuk sama selingkuhan kamu apalagi sekarang? Pasti kamu bakal makin sibuk mengurus anak barumu dengan selingkuhanmu itu" hardik Sera.


" Itu bukan anakku, anak aku cuma Saina!" bentak Ardan.


" Sifat kamu itu nggak bakal bisa berubah, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi casanova" cibir Sera.

__ADS_1


" Maksud kamu apa, kalau aku pernah selingkuh itu karena kamu yang tidak bisa membahagiakan suami kamu makanya jadi istri itu yang menyenangkan suami!" balas Ardan.


" Untuk apa? Kan aku sekarang single parent, Free , bahkan kalau aku mau banyak yang mau menjadi ayah sambung buat Saina!" ungkap Sera telak.


Ardan bagai kebakaran jenggot, merasa tidak aman dan tidak rela jika Sera didekati pria lain, apalagi akan merebut posisinya sebagai ayah Saina.


" Aku nggak akan biarin anakku memanggil pria lain ayah, hanya aku ayahnya Saina,TITIK!!!" ucap Ardan penuh Amarah.


Kedua orang tua yang sedari tadi hanya sebagai penonton dan pensengar akhirnya ikut berbicara.


" Cukup!!!... Mau sampai kapan seperti ini, berantem terus?, saat ini kita fokus pada kesembuhan Saina, bukan yang lain, ayah pikir kalian sudah dewasa ternyata masih sama saja" ayah Sera membentak mantan pasangan dihadapannya.


" Ardan, jangan bikin orang tua kamu semakin malu" nasehat papa Ardan.


" Saina yang mulai pah, yah" bela Ardan.


" Apa kamu bilang?" Sera tidak terima.


" Sudah-sudah mama pusing dengan kalian berdua, pah ayo kita pulang dulu mama mau istirahat" ajak mama Ardan.


Akhirnya kedua orang tua Ardan berpamitan, kedua orang tua Sera juga memilih masuk kamar.


Sedangkan Ardan dan Sera yang masih bersitegang memilih saling membisu diruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2