
Hari ini Sera kembali pergi dengan Hans untuk urusan bisnis, perjalanan kali ini ditempuh dalam waktu cukup lama karena posisinya berada didaerah jauh dari jakarta.
Sedari pagi bunda sudah menyiapkan kebutuhan anak dan cucunya karena Sera akan mengajak Saina.
Dia enggan berpisah lama dari anaknya, makanya dia meminta ijin pada Hans untuk membawa anaknya, dan kebetulan diijinkan oleh Hans.
Jam sembilan pagi Hans sudah datang menjemputnya, Sera dan Saina langsung ikut masuk ke dalam mobil Hans, mereka bertiga tampak seperti keluarga kecil yang mau melakukan perjalanan wisata, padahal itu adalah perjalanan bisnis.
Setelah berpamitan kini mereka bertiga sudah berangkat, orang tua Sera menutup pintu lalu masuk ke dalam rumah, tetapi belum lama terdengar suara deru mobil masuk ke halaman mereka.
Ternyata Ardan lah yang datang, namun kecewa bagi Ardan ternyata anaknya dan wanita pujaannya sudah pergi.
" Memangnya Sera tidak bilang sama kamu Dan?" tanya bunda.
" Tidak bun " jawab Ardan.
Mau marah tapi dia tidak berhak, akhirnya Ardan pun pamit pulang, memilih kembali ke perusahaannya, menyibukkan diri agar bisa sedikit mengurangi rasa rindunya pada dua wanita pengisi hatinya itu.
Namum semua sia-sia, pikirannya malah dipenuhi oleh dua wanita beda generasi itu, akhirnya Ardan memberanikan diri untuk menghubungi Sera dengan alasan rindu pada putrinya.
^ Hallo ^ sahutan Sera ketika ponselnya menunjukkan nama mantan suaminya itu.
^ Hay....dedek sedang apa Ser?^ tanya Ardan.
^ Ada tuh lagi main pasir ^ jawab Sera santai.
^ Sama siapa? Kok main pasir? Memangnya kalian lagi dimana? ^ pertanyaan Ardan merentet bagai kereta api.
^ Lagi dipantai, memangnya kamu harus tahu kita pergi sama siapa? ^ cibir Sera.
^ Pastilah soalnya anak aku ikut sama kamu, makanya aku harus tahu dimana dan dengan siapa kamu membawa anak aku pergi demi keselamatan anak aku ^ cecar Ardan.
__ADS_1
Tanpa Ardan sadari perkataannya membuat Sera semakin jengah dengan sikap mantan suaminya itu, seandainya sikap itu ditunjukkan ketika mereka masih berstatus suami istri tentu Sera akan sangat bahagia karena suaminya perhatian pada dirinya dan anaknya.
Sera geram lalu menutup telepon dari Ardan, dia memilih fokus menjaga anaknya yang sedang bermain dengan uncle Hans.
" Saina....sudah yuk, mommy ngantuk nih " panggil Sera pada putrinya.
Hans mengajak Saina kembali ke arah Sera berada.
" Mommy ayo mandi, Saina mau minum susu " ajak Saina sambil menarik tangan ibunya.
Sera berpamitan pada Hans setelah berjalan menuju kamar masing-masing.
Sewaktu sampai ke hotel, receptionis mengira mereka adalah keluarga kecil yang sedang liburan, tetapi malah memesan dua kamar berbeda yang berdekatan.
" Uncle nanti main ke kamar Saina ya bye...." ucap Saina sambil melambaikan tangan.
Hans tersenyum, " Oke siap bos" balas Hans.
Saina segera masuk kamar ketika pintu sudah dibuka, " Maaf ya kak kalau Saina jadi merepotkan" ucap Sera tidak enak.
Keduanya masuk kamar yang bersebelahan tanpa conecting, jadi aman ya guys.
Malam hari ternyata Saina enggan diajak leliar kamar, dia teringat janjinya dengan Hans untuk min bersama dikamarnya, Sera terpaksa menghubungi Hans untuk datang ke kamarnya.
Berbeda dengan Hans yang antusias bertemu dengan Saina, karena dia juga dapat bertemu dan mengagumi wanita pujaanya dalam diam.
Hans memang menyukai Sera, tetapi dirinya lebih memilih mendekati anaknya dulu sebelum mamanya, dia tidak peduli status Sera karena baginya itu hanya sebatas status yang terpenting dia ingin melindungi wanita pujaannya itu dan ditambah dengan putrinya yang menggemaskan.
Tok...tok...tokkk.....
Suara pintu diketuk, Saina antusias membukakan pintu, Hans masuk mengikuti langkah kecil Saina, tampak Sera sedang berkutat dengan laptopnya.
__ADS_1
Sera duduk dikursi dengan celana pendek, kaos oblong warna pink dan rambut panjang nya dikuncir asal sedikit berantakan, kaca mata anti radiasi membingkai wajahnya.
Sungguh penampilan bagai gadis remaja, bukan seorang wanita sudah memiliki anak, ditambah kulit nya yang mulus badan ramping semakin menunjang penampilannya.
" Eeh kak Hans sudah datang, maaf ya kak Sera lagi dapat order baru jadi lagi nyicil desain nya "sapa Sera.
" Pantas aku masuk kamu tidak tahu" timpal Hans.
Kini mereka bertiga asik bermain bersama, meski sudah enam bulan bekerja sama dengan Hans, hubungan keduanya hanya sebatas partner bisnis tidak ada yang lain.
Mungkin bagi Sera tidak akan ada lagi pria yang bisa menerima dirinya lagi dengan status janda beranak satu, tetapi bagi Hans dirinya sedang menunggu celah untuk masuk.
Waktu meenunjukkan pukuk sepuluh malam, Saina terlelap sambil memegang tangan Hans, kepalanya bersandar pada paha milik Hans.
" Kak dipindah saja nanti kakak capek " Sera menyarankan pada Hans.
Namun ditolak oleh Hans, " Biar seperti ini dulu, aku tidak keberatan kok" tolaknya halus.
Sera meemilih membereskan mainan anaknya lalu merapikan tempat tidur, setelahnya Hans memindahkan Saina ke kasur.
" Saina sangat pintar ya Ser" ucapnya.
" Heum iya kak " jawab Sera.
" Apa dia sering bertemu dengan ayahnya?" tanya Hans.
" Iya, aku tidak msmbatasi keduanya untuk bertemu meskipun tanpa aku" jawab Sera bijak.
" Apa kalian ada rencana rujuk?" tanya Hans lagi.
Sera berfikir sejenak, " Entahlah kak, terlalu sakit rasanya untuk dengan mudah memaafkan daddynya Saina".
__ADS_1
Hans menghela nafas....mengatur kata dari kalimat yang akan keluar dari mulutnya.
" Aku suka kamu Sera" ungkap Hans.