
Saina terlelap dalam pelukan mommynya, hingga adzan subuh menggema keduanya masih asik merajut mimpi.
Ardan yang sudah terbangun tampak tersenyum melihat pemandangan disampingnya, dua perempuan cantik beda usia yang memenuhi relung hatinya kini berada dihadapannya, memiliki mereka adalah hal yang paling terindah dalam hidupnya, rasanya menyesal jika dahulu kala dirinya pernah meninggalkan mereka demi wanita lain.
" Sera...bangun sayang udah subuh " Ardan membangunkan Sera dengan mengguncang tubuh istrinya pelan.
Sera yang merasa tidurnya terusik pun terbangun, mengeliat kemudian membetulkan selimut anaknya.
" Saina minta pindah, takut katanya " cerita Sera.
" Wajar dia sudah lama tidur bersama dengan kita, nantinya juga akan terbiasa lagi " jawab Ardan.
" Heum....aku harap kamu tidak masalah kalau berbagi kasur dengan anakmu sendiri " ucap Sera.
" Maunya aku selamanya bisa menjadi daddy terbaik bagi Saina, jadi kalau hanya untuk berbagi kasur itu bukan hal yg berat, aku malah senang " lanjut Ardan.
Keduanya beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu keemudian melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Ardan tersentuh ketika Sera mencium tangannya takdzim usai melaksanakan shalat subuh, karena baru kali ini Sera melakukannya paska keduanya kembali menjadi suami istri.
__ADS_1
Tanpa terasa air matanya menetes, " Makasih ya Ser " ucap Ardan.
" Untuk ".
" Apapun yang kamu sudah lakukan, kamu banyak memberikanku pelajaran meski kita seumuran tapi aku berada jauh dibawah kamu kalau urusan ruma tangga".
" Kita sama-sama belajar, aku juga masih belajar kok ".
" Mari kita mulai dari awal lagi Ser, aku sangat menyesal, aku nggak mau kehilangan kamu dan Saina lagi " mata Ardan berkaca-kaca.
" Nggak usah lebay, tunjukin aja keseriusan kamu, karena kalau sekali saja kamu mengulang kesalahan yang sama, aku bakal bawa Saina jauh dari kamu yang kamu nggak bakal bisa ketemu lagi" ucap Sera tegas.
" Aku tidak melarang kita kontak fisik, tetapi untuk yang lebih maaf Dan aku belum siap, aku masih trauma " ucap Sera lirih sambil memukul dadanya pelan agar mengurangi rasa sesaknya.
Ardan langsung memeluk istrinya untuk pertama kali, tangis keduanya pecah, seakan menuangkan semua rasa yang terpendam dalam diam selama ini.
" Kamu jahat Dan, JAHAT, kamu tega ninggalin aku sama Saina, aku sakit hati banget Dan, SAKIT, kamu duain aku, kamu berbagi kasih sama wanita lain, bahkan kamu rela berbagi...."
" Iya Ser iya aku memang jahat, aku senang akhirnya kamu ungkapin semua rasa sakit kamu, aku lega sayang setidaknya aku tahu dan aku akan perbaiki semuanya " potong Ardan tidak kuat mendengar lanjutan kalimat Sera.
__ADS_1
Sera menangis sambil memukul dada Ardan, bahkan dia menggigit tangan Ardan untuk mengurangi jeritan suara tangisnya.
Ardan menerima semua perlakuan Sera saat itu, dia berharap setelah ini Sera mau membuka hatinya kembali, meski pasti tidak mudah tetapi dia berharap banyak setelah kejadian ini.
" Maafin aku Ser....maafin aku ".
" Aku udah maafin kamu, tapi hati aku masih sakit banget Dan ".
" Aku akan coba sembuhin Ser, aku janji aku nggak bakal ulangi lagi ".
" Buktikan aja jangan banyak janji, dulu kamu juga pernah janji tapi kamu malah ulangi, sekarang kamu mau janji-janji lagi trus berharap aku percaya itu nggak mudah Dan, apalagi bukan cuma satu kali lho ".
" Iya aku bakal buktiin sama kamu, asal kamu dukung aku dan jangan terlalu keras mengunci hati kamu, biar aku bisa masuk lagi walau pernah terisi oleh mendiang Hans".
" Kak Hans orang baik Dan ".
" Aku tahu, justru aku bilang makasih sama dia udah jagain jodoh aku selama ini " ucap Ardan sambil nyengir.
Sera pun memukul perut Ardan lalu meninggalkan suami tengilnya itu.
__ADS_1