Menikah Remaja

Menikah Remaja
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, hubungan Sera dan Ardan semakin membaik, mereka sudah kembali satu kamar, Sera menyibukan diri dengan bekerja di bawah naungan yayasan milik mertuanya,begitupun Ardan yang kini sedang mempersiapkan diri sebagai penerus papanya yaitu sebagai pemimpin yayasan, *MAHENDRA GROUP*


Sementara para orang tua kini fokus mengurus cucunya yang makin pintar, mereka membagi waktu dalam merawat sang cucu, meski cucu perempuan tetapi papa dari Ardan sudah menunjuk Saina sebagai pengganti Ardan kelak.


" Ardaaaaaaaannnnn......kebiasaan banget handuk ditaruh dikasur, bikin emosi pagi-pagi!" pekik Sera disuatu pagi.


Ardan langsung secepat kilat menyambar handuk yang teronggok dikasur dan membawanya ke tempat handuk.


Wajah Sera sungguh menakutkan ketika marah, nyali Ardan langsung ciut.


" Ser...".


" APA!".


" Galak bener sih ".


" Kamu sih kebiasaan banget, nggak bosan apa denger aku ngomel tiap pagi?".


Ardan langsung memeluk istrinya dari belakang, " Mana mungkin aku bosan, justru aku merasa itu nyanyian merdu dari istriku".

__ADS_1


" Ardan iiiih....lepas nggak? aku lagi make up ini".


" Nggak mau...pokoknya mau peluk" rajuk Ardan.


" Apaan sih, nggak usah manja, malu sama anak".


" Habis kamu nggak mau kalau diajak mesra-mesraan sih".


" Udah deh mulai merajuk, heran punya laki manja banget".


Ardan bukannya melepas pelukannya malah makin mengeratkannya.


" Aku susah gerak Dan".


Sera menghela nafas, " Aku kerja, dituntut berpenampilan menarik karena aku dibagian pemasaran, beda sama kamu" tutur Sera.


" Kamu nggak usah cemburu, hatiku cuma ada kamu sama dedek, aku bisa jaga diri aku" lanjutnya sambil membelai lengan suaminya yang masih memeluknya.


" Aku takut Sera....aku takut kamu ninggalin aku karena balas dendam".

__ADS_1


P**letaaaakkkk......


Jidat Ardan dipukul pakai sisir oleh Sera, " Jangan ngaco kamu, nggak ada dendam dihatiku, aku udah lupain semuanya, sekarang aku mau jalani hidup bahagia sama kamu dan Saina, udah nggak usah bahas masa lalu, ntar yang ada kamu lagi yang kangen mantan".


" Apaan sih? nggak ada ya aku inget mantan".


Sera mencebikan bibirnya, Ardan yang gemas justru menciumnya sekilas kemudian berlalu pergi takut diamuk istrinya lagi.


" Dasar suami nggak jelas" ucap Sera sambil tersenyum melihat kekonyolan suaminya.


Sera selalu pergi dan pulang bareng dengan suaminya karena gedung tempat mereka bekerja hanya berjarak lima meter saja.


Bahkan ketika makan siang mereka selalu menyempatkan diri untuk makan bersama, itu juga yang membuat semua karyawan tahu bahwa Sera adalah istri dari calon atasan mereka dan menantu satu-satunya dari pak Mahendra.


Terkadang sang mama menyusul sambil membawa sicantik Saina yang selalu menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.


Pipinya yang bulat, kulit putih, rambut dikuncir dengan poni depan, dress yang serasi dengan sepatunya, serta wajah yang sembilan puluh persen mirip dengan Ardan membuatnya mudah dikenali sebagai putri calon penerus yayasan.


Apabila Saina datang sudah pasti semua kerjaan dilimpahkan pada Ardan karena papanya akan langsung fokus pada cucunya, sedangkan Sera hanya seperti rahim titipan karena dang anak sudah dimonopoli oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


Pernah Sera protes tetapi jawaban yang didapatkannya selalu sama, " Makanya bikin anak lagi biar nggak rebutan".


Sera memilih mengalah, karena dirinya belum terpikirkan untuk menambah anak, mengingat Saina dulu kurang perhatian dari keluarganya selama hampir empat tahun, sera srakan ingin menebusnya agar anaknya puas mendapatkan kasih sayang yang utuh.


__ADS_2