Menikah Remaja

Menikah Remaja
DELAPAN PULUH EMPAT


__ADS_3

Di bandara siang ini.....


Sera bersama bunda dan putrinya sudah sampai sejak satu jam yang lalu dengan ditemani oleh mertuanya.


Penerbangan kali ini Sera memilih untuk tidak memberi tahu suaminya yang sudah tiga hari tidak menampakkan batang hidungnya.


" Hati-hati sayang, maaf mama tidak bisa ikut karena kesehatan papa juga sedang butuh pemeriksaan lagi" ucap mama mertuanya.


" Iya ma, mama tidak perlu khawatir, ada bunda yang menemani Sera, dan juga Sera mohon mama jangan kasih tahu Ardan dimana Sera berada " balas Sera.


" Iya sayang mama janji tidak akan memberi tahu anak kurang ajar itu".


Akhirnya Sera bersiap untuk memasuki pesawat, mereka berpamitan dengan orang tua Ardan.


Ada kesedihan mendalam dihati papa Ardan tetapi demi kesembuhannya dia berusaha tegar agar nantinya dapat bertemu dan bersama kembali berkumpul dengan cucu-cucunya.


Sementara Ardan yang mengatas namakan dinas selama tiga hari, kini dalam perjalanan pulang kerumah.


Dia tidak tahu kalau anak dan istrinya sudah meninggalkan negara ini untuk sementara.


Setelah sampai dirumah, dirinya mendapati rumh yang kosong, bahkan para asisten rumah tangganya tidak ada, hanya ada penjaga dan tukang kebun saja.


" Pak Yanto,kenapa rumah sepi, dimana istri dan anak saya " tanya Ardan kepada penjaga rumahnya.


" Maaf tuan, nyonya membawa ibu dan non Saina pergi dari pagi "jawab pak Yanto.


" Kemana ?" tanya Ardan lagi.


" Maaf tuan saya kurang tahu ".


" Terus kenapa semua penghuni rumah?".

__ADS_1


" Para asisten diliburkan dari kemarin pak, untuk berapa lamanya saya juga kurang tahu ".


" Ya sudah sana " perintah Ardan.


Kemudian dia memasuki kamarnya, tampak kosong juga dan ketika membuka lemari alangkah terkejutnya Ardan mendapati baju dilemari Sera tampak kosong.


Ardan berlari menuju kamar putrinya dan ternyata sama saja lemari milik Saina kosong melompong.


Ardan mencoba menghubungi Sera tetapi ponselnya tidak aktif, ( mungkin Sera sedang didalam pesawat ).


Ardan langsung keluar menyambar kunci mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Namun ketika sampai dirumah orang tuanya, sebuah tamparan keras dia dapatkan dari mamanya.


Seumur hidup Ardan tidak pernah melihat mamanya marah sampai memukulnya, tetapi kali ini wanita yang telah melahirkannya meluapkan amarah bahkan sampai menamparnya.


" Ma...".


" Ma...Ardan bisa jelasin semuanya ".


" Mau jelasin apa hah? Jelasin kalau kamu memang ada main sama wanita itu? Atau kamu mau menceritakan hubungan terlarang kalian yang sudah tidak bisa ditolerir?!" geram sang mama.


" Ma stop tolong dengarkan Ardan, Ardan akui Ardan memang ada hubungan dengan Luna, bahkan Ardan mau minta ijin untuk menikahi Luna, kalau Sera menolak Ardan akan melepaskan Sera, berat beban Ardan harus mengurus orang tua Sera juga ma, dan untuk urusan hati, Ardan sudah mantap dengan Luna, hanya Luna sumber kebahagiaan Ardan saat ini, bukan Sera lagi " tutur Ardan.


Sebuah tamparan mendarat lagi dipipi Ardan, kali ini bukan dari mamanya tetapi dari papanya.


'' Mulai detik ini jangan sebut kami keluarga, dan mulai detik ini juga keluar kamu dari perusahaan, karena perusahaan itu milik saya, dan saya harap tinggalkan rumah yang kamu tempati saat ini, itu rumah milik Sera bukan milikmu !" tegas papanya.


" Pa..." ucap sang mama.


" Cukup ma...jangan membela anak ini, papa malu kepada keluarga Sera, bagaimana kita memohon agar anak kurang ajar ini diterima lagi tetapi apa yang kita dapatkan, dia kembali mencoreng muka kita " ucap Papa Ardan tegas.

__ADS_1


" Papa tidak tahu bagaimana sikap Sera pada Ardan pa , Sera..." ucapan Ardan terpotong.


" Sikap Sera tergantumg dari sikap kamu, apa kamu sudah membahagiakan Sera?" cibir papanya.


" Sera membawa bunda untuk tinggal bersama, Ardan tidak bisa pa " Ardan mencoba memprovikasi.


" Kamu pikir Sera menghidupi orang tuanya dari uang yang kamu berikan? Kamu salah, Sera mencari uang sendiri, bahkan uang dari butiknya lebih banyak dari uang jajan yang kamu berikan ".


" Tapi...".


" Cukup! Silakan angkat kaki dari rumah ini" potong Papa Ardan tegas,kemudian berlalu meninggalkan anak semata wayangnya.


" Ayo ma, kita masuk, jangan biarkan hati mama goyah lagi ".


Akhirnya keduanya meninggalkan Ardan yang masih termangu di teras.


Kini dirinya fix menyandang status baru yakni pengangguran.


Ardan tampak kecewa dengan sikap kedua orang tuanya, dia memilih pergi menuju apartmen kekasihnya.


Luna yang baru saja mandi mendapati Ardan sudah terduduk di sofa kamarnya.


" Sayang, kok balik lagi, katanya malam ini mau tidur di rumah ?" tanya Luna.


" Suntuk " jawab Ardan.


" Mau aku buatkan teh?"


" Boleh "


Luna segera membuatkan teh untuk kekasihnya, meskipun didalam benaknya penuh tanda tanya, Luna mengesampingkannya terlebih dulu.

__ADS_1


....................


__ADS_2