
Tidak terasa sudah 1 bulan merekaditinggalkan oleh ayah tercintanya....
Sera dan sang bunda sudah bisa lebih ikhlas atas apapun ketetapan Allah.
" Ser...minum susu hamilnya, itu bunda sudah bikin dari tadi kok belum diminum " ucap bunda sore itu.
Sera menengok ke arah bundanya, Sera tampak enggan berpaling dari taman bunga yang ada dipekarangan belakang rumahnya.
" Sera malas bun, setiap hari minum susu, bunda lihat Sera sekarang making gendut, dikehamilan kedua ini Sera kok nambah berat badannya banyak banget ya bun ".
" Itu bagus nak untuk pertumbuhan bayi dalam perut kamu,lagian susu juga bisa menambah tenaga kamu " nasehat bunda.
" Sera takut bun ".
" Apa yang kamu takutkan sayang ".
Sera mengembuskan nafasnya, " Sera takut Ardan akan seperti dulu lagi " jawabnya lirih.
Bunda mulai paham atas perasaan apa yang anaknya kini rasakan, mungkin ada trauma mendalam yang menjadikan putri semata wayangnya kini khawatir.
" Bunda selalu berdoa agar rumah tangga kalian selalu rukun dan awet hingga maut memisahkan, sama halnya seperti ayah dan bunda nak, kamu tidak perlu khawatir, bunda yakin Ardan sudah banyak berubah semenjak kalian bersatu lagi " ucap bunda menenangkan Sera.
Sejak meninggalanya ayah Sera, kini bunda memilih tinggal bersama putrinya agar tidak kesepian, rumah yang dulu ditempatinya kini ditempati oleh adik sepupu dari suaminya.
" Entahlah bun....bayangan masa lalu sering muncul akhir- akhir ini, apalagi sekarang Ardan sering pulang larut sekali ".
" Apa Ardan tidak memperhatikan kamu sayang ?".
Sera menggeleng, " Ardan sedikit cuek bun, bahkan bunda lihat sendiri tadi pagi ketika Saina merengek minta diantar oleh daddynya, Ardan dengan tegas menolak dengan alasan ada meeting penting, Sera takut bunda ".
Kini air mata Sera luruh dalam pelukan bunda, ada perasaan iba dalam hati bunda melihat anaknya kembali menitikkan air matanya.
" Bunda ingat kan dulu Sera menolak kembali pada Ardan, tetapi karena sebuah musibah akhirnya Sera kembali menikah dengan Ardan " cecar Sera sambil berlinangan air mata.
__ADS_1
" Sayang...bunda mohon hilangkan pikiran negatif dalam kepala kamu, fokus sayang sama kehamilan kamu, bunda yakin Ardan memang sedang bekerja keras demi kalian, dan untuk masalah tadi pagi mungki memang ada meeting yang tidak bisa ditunda " Bunda mencoba menenangkan putrinya.
" Sera tidak yakin bun, Sera kesal dengan sikap Ardan ke Saina, bagaimanapun juga dia tidak berhak berbicara keras pada Saina " tegas Sera.
Malam hari, acara makan malam semua berkumpul di meja makan tanpa Ardan, bagi mereka itu adalah pemandangan biasa yang sudah mereka rasakan akhir-akhir ini.
Saina tampak asik mengunyah makanan favoritnya yaitu ayam panggang dengan roti, bunda juga tampak memikmati makanannya, berbeda dengan Sera yang tampak gusar.
Sementara Ardan yang masih dikantornya tampak enggan untuk kembali kerumahnya, beberapa rekan bisnisnya masih mengajaknya menikmati malam dengan berbagai sajian yang ada di meja ruang meeting.
Sekretarisnya tampak terampil melayani keperluan para investor dan tentunya Ardan juga.
" Lun tolong siapin ruangan saya ya " perintah Ardan pelan.
" Baik pak, apakah bapak malam ini tidak pulang lagi? " tanya Luna.
" Mungkin..."
Luna yang sudah paham kalau bosnya akhir-akhir ini jarang pulang tepat waktu, hanya mengikuti perintah dari bosnya itu.
Sebuah kamar rahasia milik atasannya tampak berantakan, Luna segera merapikan kasur yang spreinya berantakan, lalu membersihkan lantai yang berserakan dengan berbagai bungkus, setelah rapi Luna menyemprotkan pengharum ruangan agar wangi dan siap ditempati.
Setelah rapi, Luna segera keluar meninggalkan ruangan itu tetapi ketika keluar ternyata bosnya sudah berada dalam ruangannya.
" Astaga pak....mengagetkan saja " pekik Luna.
Ardan sudah memeluk pinggang ramping sekretarisnya.
" Maaf mengagetkan kamu, masa udah sering dipeluk masih kaget aja ".
" Habis bapak tidak bilang kalau sudahan meetingnya ".
" Sudah selesai sejak kamu keluar dari ruangan tadi, mereka paham kalau aku butuh asupan gizi " seringai Ardan penuh arti.
__ADS_1
" Bapak tidak pulang saja, nanti ibu marah lho nungguin bapak yang tidak pulang-pulang " suara Luna manja sambil memainkan dasi bosnya yang masih terpasang rapi.
" Sejak kapan kamu peduli pada istriku, biasanya kamu cuek nemplok padahal istriku sedang telepon " sindir Ardan.
" Iiiih....bapak suka gitu deh " manja Luna sambil merapatkan diri pada bos sekaligus kekasihnya yang sudah mengisi relung hatinya sejak di masuk ke perusahaan itu.
Diusia Ardan yang kini sudah menuju tiga puluh tahun sangat pas bagi Luna yang masih diusia dua puluh lima tahun, dan menurut Luna dia juga siap menjadi istri kedua seandainya Ardan menginginkannya dan istri kekasihnya mengijinkannya.
" Mau disini apa dikamar ?" tanya Ardan yang sudah terbakar nafsu.
" Di kamar aja pak " jawan Luna.
Ardan langsung mengangkat tubuh ramping Luna dan membawanya masuk keruang istirahatnya.
Luna dengan sigap mengalungkan tangannya keleher Ardan sambil terus menguasai bibir Ardan.
" Nggak sabaran banget sih kamu " ucap Ardan ketika menurunkan Luna diatas ranjangnya.
" Habisnya kamu sibuk mulu semenjak mertua kamu meninggal " rajuk Luna.
" Maaf dong kan aku harus terus berada disamping istriku apalagi dia sedang hamil " jawab Ardan sambil membelai pipi tirus Luna.
" Kamu mau seperti biasa atau lebih " tanya Ardan.
" Aku takut nanti istri kamu curiga lho ".
" Sejauh ini aman kan ?" tanya Ardan.
" Aman sih walau kadang kesel lihat kalian bermesraan " sungut Luna.
" Udah dong jangan ngambek gitu, ini buktinya sekarang aku ada buat kamu " Ardan merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Luna dengan sigap langsung menaiki tubuh bosnya dan memeluknya erat seakan takut kalau kekasihnya itu diambil orang.
__ADS_1
Bagaimanakah nasib rumah tangga Sera selanjutnya.