
Seminggu berlalu setelah surat panggilan sidang pertama datang, disinilah mereka bertemu kembali yakni di pengadilan, dengan tujuan mediasi, Ardan berharap rumah tangganya masih bisa diselamatkan, dia akan memepertaruhkan segalanya demi keutuhan rumah tangganya, berbeda dengan Sera yang sudah mantap untuk berpisah dari suaminya.
Ardan datang dengan stelan rapi yakni kemeja dibalut dengan jas yang senada dengan celana bahan serta sepatu, tak lupa dia menata rambutnya sedemikian rapi, berharap Sera akan terpukau dengan penampilannya.
Sera datang dengan ditemani oleh kedua orang tua serta putrinya, Sera yang mengenakan kemeja putih dipadu padankan dengan rok sebatas lutut serta blazer tergantung ditangan sambil menenteng tas kremes pemberian mertuanya( calon mantan mertua).
Keduanya kini duduk berhadapan, sang mediator berada diantara mereka, mencoba untuk mendamaikan keduanya, Ardan mengeluarkan segala bentuk rayuan serta kata maaf, bahkan air matanya ikut membumbuhi usahanya dalam menaklukkan hati Sera, tetapi mediasi kali ini gagal karena Sera tetap pada pendiriannya untuk berpisah dari Ardan.
Karena mediasi gagal, Ardan meminta mediasi kembali tahap dua dan dikabulkan oleh pihak pengadilan, Sera hanya bisa pasrah mengikuti jadwal berikutnya karena dia tidak mau ribut di pengadilan.
" Bagaimana nak, apa keputusan kalian? " tanya bunda melihat anaknya keluar dari ruang mediasi.
Sera menghela nafas berat, kemudian menjawab dengan lemah " Seperti dugaan Sera bun, Ardan tetap mau mempertahankan rumah tangga ini, tapi Sera...." jawaban Sera tidak dilanjutkan, air matanya menetes, dia menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh siapapun kalau dirinya kini sedang terluka.
Bunda segera meraih putrinya lalu memeluknya, " Sabar sayang, ada bunda dan ayah serta Saina, perlu kamu tahu, kami disini mendukung apapun keputusan kamu sayang jadi jangan risau nak " nasehat bunda menenangkan putrinya.
Sedangkan sang ayah memilih diam menahan segala amarah, sang ayah menyibukkan diri dengan menemani cucunya bermain.
" Daddy....daddy....dedek kangen daddy...." teriak Saina sambil berlari kearah Ardan ketika melihat sosok daddynya keluar dari ruangan.
Ardan merentangkan kedua tangannya, menangkap putrinya kemudian memeluknya.
" Daddy juga kangen dedek Saina, dedek pinter kan sama mommy? " ucap Ardan sambil menciumi anaknya yang dia rindukan.
" Dedek sekarang udah bisa berhitung dad, sama bikin bebek, daddy lihat dong kerumah mommy " celoteh saina.
" Iya sayang nanti daddy kerumah mommy buat lihat ya ".
" Kok daddy nggak pulang- pulang, daddy kerjanya lama ya?" tanya Saina.
__ADS_1
Ardan menatap kearah Sera serta kedua mertuanya, mereka menata pias kearah Ardan dan Saina, " Iya sayang, daddy masih kerja, nanti kalau udah selesai daddy pulang ya, Saina sekarang nurut ya sama mommy, sama ayah, sama bunda, daddy janji setelah kerjaan daddy selesai daddy bakal jemput saina sama mommy pulang kerumah daddy ya " ucap Ardan kemudian memeluk putrinya sambil menyeka air matanya.
Sera ikut merasakan kesedihan Saina, tetapi hatinya terlalu sakit mengingat penghianatan Ardan, andai suaminya itu tidak bermain api tentu anaknya tidak akan mengalami perpisahan dengan salah satu orang tuanya.
" Saina ayo pulang sayang, sebentar lagi waktunya makan siang lho, pamit dulu sama daddynya yuk " ajak ayah Sera.
" Siap ayah,......daddy Saina pulang dulu ya, nanti daddy jemput Saina sama mommy ya, Saina sayang daddy " pamit Saina sambil mencium pipi Ardan.
" Hati-hati ya sayang, iya nanti daddy jemput " jawab Ardan.
Saina berjalan bersama ayah dan bunda Sera, sedangkan Sera menghampiri Ardan dan berkata, " Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada Saina ".
" Ser..a-aku....aku minta maaf sayang " ucap Ardan sambil menggenggam tangan Sera.
Sera memejamkan matanya, menahan amarahnya kemudian menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman suaminya.
" Maaf....andai kata maaf mampu mengobati luka, maka didunia ini tidak perlu ada obat atau rumah sakit "ucap Sera kemudian berlalu meninggalkan Ardan yang masih terdiam sambil menyusut air matanya yang terus mengalir, penyesalan tampaknya selalu muncul dibelakang.
" Sera ".
Sera memutar pandangannya kearah suara itu berasal.
Tampak wanita yang sudah seusia bundanya menatapnya dengan berlinangan air mata, tubuhnya bergetar karena tangisnya semakin terdengar pilu.
" Mama ".
Sera berjalan kearah mama mertuanya yang sedang menangis, kemudian memeluknya dan mereka berdua menangis bersama menumpahkan segala rasa yang terpendam selama hampir dua minggu terpisah, selama ini mama mertuanya memang selalu mendukungnya dalam segala hal bahkan menganggap Sera adalah putrinya sendiri makanya hubunga diantara keduanya sangat dekat.
" Mama minta maaf Ser....mama minta maaf, mama minta maaf..hikshikshiks " suara mama Ardan terdengar sangat memilukan.
__ADS_1
" Mama nggak perlu minta maaf, mama nggak salah, mama jangan kaya gini ma, nanti Sera makin merasa bersalah sama mama, Sera gagal menjadi menantu yang baik ma, Sera gagal ma hikshikshiks....." tangis Sera semakin pecah dalam pelukan mama mertuanya.
Ardan yang melihat adegan dihadapannya ikut menangis, menyalahkan dirinya yang bodoh sudah melukai orang-orang tercintanya hanya karena kesenangan sesaat hidupnya hancur, menghancurkan hati wanita yang sudah melahirkannya serta wanita yang sudah memberikannya keturunan.
Rasanya Ardan ingin menghabisi nyawanya sendiri untuk menebus semua kesalahannya tetapi dia yakin Sera tidak akan dengan mudah memaafkannya.
Sera membawa mamanya untuk duduk di kursi agar mamanya bisa lebih tenang, keduanya tampak menyusut air matanya.
" Sera...apa kamu mau memaafkan kesalahan Ardan? ".
Sera hanya terdiam.
" Kalau kamu tidak mau mama tidak akan memaksa nak, kamu jangan merasa terbebani dengan pertanyaan mama " pungkas mama mertuanya.
Sera tidak menjawab perkataan mama mertuanya, bibirnya terasa kelu, hatinya juga sudah membatu terlalu sakit baginya untuk berbagi suami dengan wanita lain.
Sera juga tidak mampu membayangkan bagaimana suaminya berbagi peluh dengan wanita lain, kemudian berbalik dengannya, sungguh Sera merasa jijik kalau mengingat semuanya.
" Ma...mama kesini sama siapa? " tanya Sera.
" Mama kesini sama supir , papa dikantor karena banyak kerjaan yang terbengkalai semenjak masalah ini muncul " jawab mamanya sambil sesekali menyusut air matanya.
" Sera antar mama pulang ya " tawar Sera.
" Mama kangen Saina, apa mama boleh ketemu cucu mama nak? ".
" Boleh ma, sampai kapanpun Saina tetap cucu mama, walaupun bagaimana status Sera nanti tidak akan mempengaruhi hubungan Saina dan keluarga Mahendra " tutur Sera.
Keduanya bangkit berjalan beriringan menuju mobil Sera berada, kemudian mobil berjalan menuju rumah orang tua Sera.
__ADS_1
Ardan yang sedari tadi mengamati keduanya dari jauh hanya mampu menghela nafas berat, kenyataan yang dia lihat dari interaksi kedua wanita yang dicintainya tampak Sera masih enggan berdamai dengannya, harapanya untuk kembali bersama istri dan anaknya kini semakin menipis.