
Diruang sidang......
" Dengan ini saudara Ardan Mahendra dan saudari Sera Wijaya resmi bercerai, untuk hak asuh anak karena masih dibawah umur dimenangkan oleh saudari Sera Wijaya, dan sidang kami tutup " Tok....Tok....Tok....
( Anggap aja kaya gitu ya, soalnya author nggak tahu gimana disidang perceraian yang sebenarnya hehehee)
Berakhir sudah, rumah tangga Ardan dan Sera sudah diputuskan resmi berpisah, Ardan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sedangkan Sera menitikkan air matanya, dia sangat sedih ketika rumah tangganya berakhir tetapi ada rasa lega di hatinya karena sudah tidak harus merasakan penghianatan dari Ardan lagi.
Sera berdiri dan menjabat tangan mantan suaminya, Ardan menyambutnya lalu tersenyum pahit sambil berlinangan air mata, " Maaf sudah menyakitimu, aku harap kamu akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku ".
" Aku harap kamu lebih dewasa Ardan Mahendra, terima kasih sudah menuruti keinginan terakhirku" jawab Sera.
Keduanya saling berpelukan, Ardan tidak bisa menahan air matanya, Sera berusaha tegar untuk tidak menangis didepan Ardan walaupun hatinya meraung.
" Aku masih boleh ketemu dedek kan? " tanya Ardan disela tangisnya.
" Kapanpun pintu rumah kami selalu terbuka untukmu kalau mau ketemu Saina " jawab Sera.
" Aku tidak mau jadi ibu yang egois, karena Saina juga anak kamu, Saina butuh kamu, bahkan oma opanya juga bebas bertemu Saina" lanjut Sera.
" Ser....untuk terakhir kalinya boleh nggak aku cium kening kamu? " pinta Ardan sambil memelas.
" Maaf Dan kita sudah berakhir, aku harap kamu mulai menerima status kita sekarang, jadi aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu" tegas Sera kemudian berlalu dari hadapan Ardan, mantan suaminya.
Sera meninggalkan gedung pengadilan dengan statud baru yaitu janda diusia dua puluh dua tahun dengan anak satu.
Dia sadar kedepannya tidaklah mudah dihadapi tetapi ini adalah keputusan terbaik untuk rumah tangganya.
Kedua orang tua dan mantan mertuanya menunggunya diparkiran, Sera berjalan kearah tetua berada, orang tua Ardan tak henti-hentinya menitikkan air mata karena kegilangan menantu sebaik Sera, tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun untuk ikut campur dalam rumah tangga anaknya.
__ADS_1
" Papa, Mama,...maaf Sera sudah mengakhiri semuanya, tetapi papa dan mama jangan khawatir, Sera tidak akan pernah membatasi kapanpun papa dan mama mau ketemu Saina, karena yang berakhir adalah hubungan Sera dan Ardan, bukan hubungan Saina dengan keluarga Mahendra " tutur Sera.
"Ayah, Bunda,.... Maaf sudah membuat kalian kecewa dan terluka, tapi Sera sudah ikhlas dengan keadaan ini, Sera sudah siap yah,bun " lanjut Sera kemudian memeluk kedua orang tuanya.
" Ayah dan bunda selalu menerimamu nak, selama ini ayah diam bukan tidak peduli, hati ayah mana yang tidak remuk anaknya disakiti, kini akhirnya ayah bisa memeluk putri ayah kembali " ucap Ayah Sera.
Sedangkan sang bunda tidak dapat berucap apapun karena terus menangisi nasib putri semata wayangnya.
" Jeng maafkan kesalahan keluarga kami, maafkan kesalahan putra kami, kami merasa malu jeng" ucap mama Ardan.
Bunda tetap terdiam sambil menangis, kini putri kecilnya resmi menyandang status janda, apa kata masyarakat nantinya, sudah menikah karena hamil, kini malah bercerai, membayangkannya saja bunda Sera sudah tidak sanggup.
" Sera tetap putri kami, butik tempat Sera bekerja itu sudah resmi milik Sera sejak kelahiran Saina, yayasan sosial yang dia kelola bersama mamanya juga milik mereka berdua, jadi tolong jangan khawatir tentang masa depan Sera dan Saina, untuk Ardan nantinya menjadi urusan kami" ucap papa Ardan.
" Tanpa itu semua kami masih bisa membiayai hidup Sera dan Saina, jadi pak Mahendra tidak perlu sampai seperti itu" pungkas Ayah Sera,kemudian segera berpamitan untuk membawa Sera pulang.
Sampai dirumah orang tuanya, Sera segera masuk menghampiri putrinya yang sedang menikmati cemilan ditemani pengasuhnya.
" Mommy, daddy nggak jemput kita?" tanya Saina.
" Daddy tidak akan pernah jemput kita nak, tetapi daddy bilang akan sering menengok Saina " jawab Sera.
Dia memang akan mengatakan yang sebenarnya pada anaknya agar Saina mengerti meski untuk saat ini anaknya akan bingung teyapi dia yakin lambat laun anaknya akan mengerti kondisi keluarganya yanh sudah tidak utuh lagi.
Setelah bermain bersama putrinya, Sera pun pamit membersihkan diri, rencananya hari ini dirinya akan beristirahat total kemudian besok dia akan mengambil semua barang-barangnya dari kediaman Mahendra.
Semua bagaikan mimpi bagi Sera tetapi inilah hidup yang harus dijalaninya, dari menikah diusia remaja, memiliki anak, kemudian harus menelan pil pahit kenyataan bahwa suaminya menduakannya bahkan untuk kali ini sangat fatal baginya setelah mendengar penuturan dari wanita yang menjadi kekasih suaminya.
Flashback...
" Kamu yang bernama Stela?" tanya pak Mahendra pagi itu.
__ADS_1
" Benar pak....ada yang bisa saya bantu pak " jawab Stela santai.
" Ikut saya keruang meeting " tegas pak Mahendra.
Ketika masuk ruang meeting disana sudah ada Sera dan mama Ardan, serta Roni asisten pribadi Ardan, Stela tampak kaget dan gugup.
Pak Mahendra melemparkan beberapa lembar foto kearah Stela, tampak beberapa gambar kemesraan dirinya dan Ardan tercetak jelas dalam foto tersebut.
" Jelaskan sejujurnya, maka kamu selamat " perintah pak Mahendra.
" Sa-saya mohon maaf pak, saya..." dengan gemetar Stela menjawabnya, " Kami saling mencintai pak, saya mohon maafkan saya, saya tahu saya salah, tetapi pak Ardan juga harusnya berada disini saat ini dengan saya pak ".
" Tidak perlu banyak bicara, katakan berapa lama kalian bersama dan ngapain aja".
" Maafkan saya bu Sera, saya sangat mencintai suami ibu,bahkan suami ibu berjanji menikahi saya meski hanya nikah siri, karena saya sedang hamil bu "lanjut Stela menjelaskan.
Bahkan rencana untuk bulan madu ke Bali sudah ada dalam daftar jadwal Ardan bulan depan, itu artinya Ardan sudah mempersiapkan dengan matang kepergiannya dengan Stela.
Untung saja Roni tahu kalau bosnya memesan tiket ke Bali atas nama dirinya dan Stela makanya Roni mengadukan kepada Bigbosnya yaitu pak Mahendra.
" Aku akan memberikan suamiku dengan ikhlas kalau kamu meminta, tidak perlu dengan cara kotot seperti itu, asal kamu tahu anak kamu harus mendapat pengakuan secara hukun yang sah, kalau hanya nikah siri itu artinya anak kamu tidak memiliki seorang ayah, apa kamu sudah memikirkan kedepannya bagaimana?" ucap Sera tenang sambil menatap Stela.
" Dasar pelakor, wanita jahat, bisa-bisanya kamu menggoda suami orang, kamu pikir kamu layak hah " bentak mama Ardan.
" Mama tenang ma, mama jangan kaya gini " Sera menenangkan mamanya.
Seharusnya dirinyalah yang butuh pelukan tetapi Sera malah memberikan pelukan ketenangan untuk mama mertuanya yang sedang terbakar amarah.
" Aku rela ma kalau harus melepaskan Ardan untuk wanita yang dicintainya, insha Allah aku ikhlas ma " ucap Sera sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Sakit, kecewa, marah itu pasti tetapi Sera memilih menyembunyikan luka yang diberikan oleh suaminya itu.
__ADS_1
end