
Hari ini semua masih terbawa suasana berkabung, Ardan sudah dari subuh pamit pulang kerumah orang tuanya untuk mengambil beberapa lembar baju, Ayah Sera memilih berkebun, bunda Sera mengantar Saina sekolah, sedangkan Sera kembali ke kamarnya.
Sera menatap cincin yang melingkar dijari tangan kirinya, cincin lamaran dari almarhum Hans, kemudian dijari kanan tampak sepi tidak ada cincin pernikahan, karena menikah dadakan, Ardan belum sempat membelikan cincin pernikahan.
Kemudian Sera membuka laptopnya, dia mulai mengechek email, tampak email Hans ketika kalang kabut tidak bisa menghubungi Sera.
" Kak kalau terus seperti ini Sera bisa gila, tetapi Sera sungguh sangat kehilangan kakak" gumamnya lirih.
Air matanya kembali terjatuh, entah sudah keberapa kalinya.
Kehilangan Hans terlalu cepat membuatnya terpuruk, tetapi dialam bawah sadarnya dia tahu kalau saat ini dia sudah menjadi seorang istri dari mantan suaminya.
Siang hari Ardan datang bersama Saina, kebetulan dia masih cuti jadi sekalian jemput putrinya pulang sekolah.
Setelah parkir, Saina segera turun lalu mengajak daddynya untuk masuk bersama, diruang tengah sudah ada ayah Sera yang sedang membaca berita.
" Ayah " seru Saina.
" Eh cucu ayah sudah pulang ".
" Iya dong " jawab Saina ceria.
" Happy sekali kayaknya cucu ayah ini ".
" Iya ayah, Saina happy banget dijemput daddy hari ini, kan daddy sudah lama tidak jemput Saina " ceritanya.
" Saina ganti baju dulu yuk, terus cuci tangan sama kaki " ajak Ardan.
" Siap daddy " jawab Saina kemudian berlari duluan meninggalkan Ardan.
" Tampaknya kali ini usaha kamu harus lebih extra Dan, Sera yang sekarang bukan Sera yang dulu, Ayah hanya bisa mendoakan semoga keadaan segera pulih seperti sedia kala, lebih bersabarlah " nasehat ayah Sera.
__ADS_1
" Baik yah " jawab Ardan kemudian pamit untuk mengurus anaknya.
" Lho kok sudah selesai" tanya Ardan kaget ketika masuk kamar anaknya sudah ganti baju dengan baju santai.
" Mommy yang bantuin dad " jawab Saina.
" Dek, adek kan sudah besar, haris belajar gantk sendiri ya, nanti daddy ajarin, daddy yakin anak daddy pasti pintar " ucap Ardan.
" Iya dad, besok Saina ganti sendiri " jawab Saina.
Sera yang mendengar dari balik pintu kamar mandi hanya tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
* Ada perubahan juga ternyata * batinnya.
Sera berjalan keluar menuju ranjang, merapikannya dan membereskan mainan putrinya.
" Biar nanti aku yang merapikannya, kamu istirahat saja " perintah Ardan.
* Kemana perginya si mulut pedas, kenapa sekarang menjadi perhatian begini, kayak bukan dia saja * batin Sera berkecamuk.
Ardan menghela nafas berat, kemudian memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang sudah dirapikam oleh Sera.
" Itu koper kamu " tanya Sera ketika melihat koper milik Ardan.
" Iya, aku mengambil beberapa baju untuk menginap disini, aku juga kan kerja jalannya dari sini " jawab Ardan sambil memejamkan matanya lelah.
" Aku bantu rapikan boleh?" tanya Sera lagi.
" Kalau tidak keberatan aku tidak melarang, tapi kalau kamu lelah tidak usah, aku sudah biasa mengurus diri sendiri " sahut Ardan yang sudah mulai mengantuk.
Sera membawa koper Ardan kedepan lemari pakaiannya, namun ketika dibuka ternyata sudah tidak ada tempat lagi untuk baju Ardan, dia bergeser ke lemari Saina ternyata sama saja, dia kebingungan, ingin membeli lemari tetapi takut penuh kamarnya, kalau tidak membeli mau ditaruh mana baju Ardan.
__ADS_1
Ditengah kebingungannya, terdengar suara serak dari atas kasur.
" Kalau tidak ada space tidak masalah biarkan tetap didalam koper " ucap Ardan.
Sera menggigit bibirnya, malu rasanya, sudah menawarkan tempat tetapi ternyata tidak ada.
" Apa aku beli lemari buat kamu" tanya Sera pelan.
" Untuk apa?" tanya balik Ardan.
" Untuk menaruh baju kamu lah, memang lemari gunanya untuk apa?" jawab Sera sedikit sewot.
Ardan tersenyum, dia sengaja menggoda Sera agar tidak berlarut dalam kesedihan.
" Ya sudah beli yang ukuran sedang, karena jas dan baju kerja aku biasa digantung, sepatu di space bawah, tas di space atas, dalaman dilaci, dan baju rumahan di samping gantungan " celotek Ardan seenaknya.
Sera melotot, " Itu mah lemari besar, bukan sedang lagi " protesnya.
" Ya sudah makanya biarkan didalam koper, aku tidak masalah memakai baju yang tidak rapi " Ardan memberi saran.
" Tahu ah, diajak ngomong susah kamu itu " sungut Sera kesal lalu meninggalkan Ardan yang masih tergolek diatas kasur.
Jujur Ardan sangat lelah, bolak balik mengurus pernikahan Sera, dan ini itu, baru kali ini dia dapat santai bertemu kasur.
Ingin rasanya dia menggoda istri baru rasa lamanya tetapi tenaganya sudah tidak ada lagi.
Ardan memilih memejamkan matanya.
Mengembalikan tenaga dan pikirannya yang terkuras.
Meski Sera sudah mau berbicara dengannya tetapi Ardan bisa melihat masih ada kesedihan yang mendalam pada diri Sera, jadi Ardan tidak akan memaksanya untuk fokus pada keluarganya.
__ADS_1