
Kesempurnaan hanya milik Allah, didunia ini tidak ada yang sempurna, maka wajar apabila dalam menjalani hidup ada kalanya cobaan datang menghampiri, itu semua bentuk ujian kita untuk naik ketaraf berikutnya.
Begitun dalam rumah tangga, ada kalanya kerikil kecil maupun kerikil tajam menjadi pengganjal, seperti yang terjadi didalam rumah tangga Ardan dan Sera, kira-kira mampu nggak ya mereka bertahan???....
" Kenapa kamu sekarang pulang larut terus, apa dikantor lagi sibuk banget?" tanya Sera ketika melihat suaminya baru pulang diwaktu yang sudah menunjukkan tengah malam.
" Lagi sibuk " jawab Ardan singkat.
" Ya aku tahu, tapi apa nggak ada karyawan yang ngerjain sampai kamu harus lembur, udah hampir satu bulan full kamu pulang selalu diatas jam dua belas lho " tanya Sera lagi.
" Kamu ini, suami baru pulang bukan dilayani malah diocehin, kamu pikir aku nggak capek apa? " suara Ardan meninggi.
" Nggak usah pakai teriak ini udah malam, kasihan yang lain udah pada tidur".
" Makanya nggak usah berisik jadi istri " timpal Ardan sambil berlalu kedalam kamar mandi.
Sera hanya menghela nafas, memang dia salah langsung menegur suaminya, tetapi dia sudah menahan lama dan memang sudah hampir 1 bulan ini Ardan selalu pulang diatas jam dua belas malam.
Sera bergegas menyiapkan baju tidur suaminya, tetapi ketika dia melewati meja rias tampak ponsel suaminya menyala, ternyata ada pesan masuk entah dari siapa, Sera enggan untuk melihatnya.
Karena selama ini mereka memang tidak pernah saling membuka ponsel pasangan, bagi mereka itu adalah privasi.
Tetapi melihat ponselnya menyala lagi tanpa sengaja dia melirik kearah ponsel suaminya, tiba-tiba jantungnya berdegub kencang, rasanya lemas melihat sekilas pengirim pesan tersebut mengirimkan lambang hati.
"Siapa ya? , apa aku tanya langsung sama Ardan, atau aku buka sendiri ?" lirihnya.
Ketika tangannya berusaha menggapai ponsel suaminya, bersamaan Ardan keluar dari kamar mandi.
" Ngapain kamu? Mau buka ponsel aku? " tanya Ardan.
Sera gelagapan, " E-enggak tadi aku mau ambil sisir " elaknya.
" Alasan.... Kamu pikir aku bodoh apa".
__ADS_1
" Kok kamu kasar sih Dan ".
" Kasar? Emang aku pukul kamu? ".
" Kamu berubah Dan, aku tadi tanpa sengaja lihat ada yang kirim lambang hati itu siapa?".
" Berubah gimana? Kamu tu ngaco ya, makanya jangan kebanyakan nonton sinetron jadi ketularan ogeb kan" jawab Ardan dengan nada tinggi.
Sera murka dibilang ogeb oleh suaminya, " Apa kamu bilang? OGEB!? Kamu tu yang ogeb!".
" Kamu mau ngajak ribut malam-malam? " bentak Ardan.
" Aku nggak kenal kamu yang kaya gini, permisi " ucap Sera sambil berjalan keluar melewati suaminya.
Sera menuju kamar Saina, laku mengunci pintunya dan tidur berdua putrinya, meski dia sudah merebahkan tubuhnya tetapi pikirannya masih melayang, mengingat notifikasi ponsel suaminya.
* Apakah Ardan selingkuh lagi?, apa dia udah bosen sama aku?*
Sera memeluk putri kecilnya, menahan segala kesedihannya, ada rasa trauma karena dulu Ardan pernah berselingkuh darinya.
Setelah Saina siap untuk berangkat kesekolah barulah,Sera masuk ke kamarnya, tampak Ardan masih bergelung dengan selimut, Sera masuk ke kamar mandi dan segera bersiap untuk mengantar Saina tanpa membangunkan suaminya.
Alaram Ardan berbunyi sudah kesekian kalinya, Ardan tampak terbangun dan kaget karena waktu sudah meenunjukkan pukul sebelas siang, itu artinya dia terlambat ke kantor.
Dia segera berlari ke kamar mandi, namun ketika selesai mandi tidak tampak baju kerja yang biasa Sera siapkan.
Bahkan dia juga tidak menemukan keberadaan istrinya, Ardan memilih memakai pakaian sembarang lalu bergegas tancap gas ke kantor.
Sampai dikantor, Ardan kaget mendapati papanya baru saja bersalaman dengan investor dari jepang yang harusnya meeting dengannya.
" Maaf tuan saya terlambat, tadi saya ada meeting dengan klien dadakan " ucap Ardan beralasan.
" Oh tidak masalah tuan Ardan, saya sudah tanda tangan kontrak dengan tuan Mahendra langsung, senang bekerjasama dengan Mahendra Group" ucap investor tersebut sambil menjabat tangan Ardan.
__ADS_1
Sedangkan Ardan mendapat tatapan tajam dari sang papa, hanya bisa tersenyum palsu.
Setelah pertemuan dengan investor tersebut pak Mahendra pun segera menyeret putra semata wayangnya ke ruang kerjanya.
" Bagus ya, kamu sebagai penanggung jawab proyek ini malah datang sesuka hati, kamu pikir kantor ini milik kamu! " ucap papanya tegas.
" Maaf pah "sahut Ardan sambil tertunduk.
" Kamu bilang apa? Maaf? Kamu pikir dengan kata maaf bisa memperbaiki semuanya HAH!!!?" bentak papanya.
" Pah...papa ini kenapa sih pakai teriak segala, iya Ardan tahu Ardan salah tapi nggak perlu pakai teriak pah, Ardan nggak budek" jawab Ardan nggak terima dimaki sang papa.
" Oooh ternyata kamu masih belum sadar kalau papa tahu perbuatanmu dikantor ini", pak Mahendra menghela nafas berat, " Stela sudah papa pecat dari sini, dia sudah mengakui hubungan terlarang kalian, bahkan kalian berencana mau jalan berdua pun Stela sudah jujur semuanya, dan kamu tahu apa akibat dari perbuatanmu? Sera mengajukan gugatan cerai ke pengadilan hari ini " ungkapnya kemudian.
Ardan bagai disambar petir, bagaimana ini bisa terjadi, semuanya begitu cepat sampai otaknya tidak mampu berfikir lagi.
" Pah..Ardan bisa jelaskan semuanya pah, ini tidak seperti yang kalian pikirkan, Ardan dijebak pah " Ardan membela diri.
" Terlambat Ardan semuanya sudah sangat terlambat, Sera sudah tidak sudi lagi bertemu denganmu, bahkan dia membawa cucu papa, kamu mau mama kamu menderita lagi? Atau memang sudah watak kamu yang memang tidak bisa dirubah, papa tidak habis pikir dimana otak kamu" ucap sang papa lalu pergi meninggalkan anaknya yang masih terdiam di dalam ruang kerjanya.
Sekarang semua sudah jelas, Ardan bermain api dengan Stela, maka Ardan harus siap menerima segala resikonya, termasuk kehilangan istri dan anaknya.
Dia sangat menyesal mengingat semalam baru saja dia bertengkar hebat dengan Sera, bahkan ketika Sera keluar dari kamarnya dirinya malah asik menghubungi Stela melalui panggilan video bukannya mengejar sang istri.
Ardan terperosot kelantai sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, dia mencoba menghubungi Sera tapi ponsel Sera ternyata mati, Sera sengaja mematikan ponselnya.
Sera kembali kerumah orang tuanya bersama putrinya, dirinya bertekad mengakhiri rumah tangganya yang sudah berjalan empat tahun bersama suaminya.
Memang berat, tetapi dia tidak mau hatinya tersakiti lebih dalam lagi, sudah cukup kedua kalinya Ardan menduakannya.
Kini Sera memutuskan untuk hidup berdua dengan anaknya tanpa suami, toh dia masih memiliki orang tua lengkap, dia juga masih bekerja dibutik mertuanya, atau lebih tepatnya sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya.
Saina yang masih kecil hanya akan menjadi korban dari kedua orang tuanya, Sera paham betul akan hal itu, tetapi dia berjanji akan mencukupkan kasih sayangnya untuk Saina agak nantinya putrinya tidak kekurangan kasih sayang meski hidup dalam keluarga yang sudah tidak utuh lagi.
__ADS_1
#enaknya cerai beneran gak nih