Menikah Remaja

Menikah Remaja
Tujuh Puluh Enam


__ADS_3

Sera dan Saina hari ini berencana untuk pergi ke taman bermain dengan ditemani oma dan opanya, sedangkan Ardan mendapat tugas mengumpukkan pundi-pundi rupiah demi kelangsungan hidup seluruh keluarga dan para karyawannya.


Walaupun Ardan sudah mencoba meminta ijin untuk ikut ke taman bermain tetapi justru Sera sendiri yang menolaknya dengan alasan Ardan sudah lama tidak bekerja, nanti keluarganya mau makan apa.


Alasan Sera membuat Ardan melongo, padahal selama ini dia tidak ke kantor karena Sera selalu merengek minta ditemani dan tidak mau ditinggal oleh suaminya.


Ardan terus menggerutu sepanjang jalan, rasanya kesal karena ditinggal oleh keluarganya untuk berwisata.


" Apa nanti aku susul saja ya mereka, enak saja aku yang kerja mereka malah asik bermain" gumam Ardan.


Rombongan Sera beserta keluarganya sudah berangkat menuju taman bermain, kedua orang tua Sera juga ikut pergi ketaman bermain yang terkenal dengan permainan extremenya itu.


Tentu saja mereka lebih mengawasi Sera dari pada Saina cucunya, pasalnya Sera terkadang lupa kalau dirinya tengah berbadan dua.


" Bunda, Sera pengen naik kora-kora " rengek Sera.


" Tidak, mau kamu merengek sampai guling-guling, bunda tidak akan memberikan ijin" tegas sang bunda.


Sera yang merasa belum puas mencoba meminta ijin kepada ayahnya, namun jawaban sang ayah sama dengan jawaban bundanya.


Tidak mau menyerah begitu saja, Sera kini mencoba meminta ijin kepada papa dan mamanya, dengan sedikit bumbu air mata dan mengatas namakan ngidam.


" pliiiis pa, ma....kalian pasti nggak mau kan cucunya ileran " rayu Sera membujuk mertuanya.


Mama yang lebih dulu peka akhirnya mengijinkan, tetapi sang papa tidak memberikan ijin beralasan kondisi kehamilan menantunya itu.


" Udah pah ijinin Sera kasian dia lagi ngidam " mamanya ikut membujuk.


" Jeng kaya nggak tahu kalau Sera suka memanipulasi, udah jangan kasih ijin " sang bunda mencoba menyadarkan besannya.


Dari kejauhan tampak pria tampan berjalan keearah rombongan kecil yang sedang duduk di kursi depan taman sambil menunggui cucu cantiknya yang sedang menikmati es krim.


" Assalamu alaikum, hay Sera " sapa pria tersebut.

__ADS_1


Sera mengernyitkan dahinya.


" Waalaikum salam, kita kenal?" tanya Sera bingung.


" Kamu lupa, aku temennya Leo, waktu itu kita pernah bertemu diacara ulang tahun Leo " cerita pria tersebut.


Sera masih tampak berfikir, " Sorry gue lupa, nggak inget siapa elo ".


" Kamu sempet mau nikah sama Hans kan?".


Sera tertegun mendengar nama Hans disebut, jantungnya berdetak kencang, ada besitan rasa yang dia sendiri tidak tahu itu apa.


" Bilang aja loe siapa ?" tegas Sera.


" Rey ".


" Hah...Rey si culun?".


" Gila loe makan apa sampai bisa berubah cakep kaya gini " cerocos Sera.


Tanpa sadar diujung ada sepasang mata yang menatap penuh amarah, melihat orang yang dicintainya sedang berbincang sambil tertawa riang dengan pria asing.


Sementara orang tua mereka sedang asik menjaga cucu semata wayangnya yang sedang asik makan sambil bermain.


Langkah panjang Ardan menembus keramaian menuju kearah dimana posisi istrinya berada.


" Sudah puas bercandanya " ucapnya penuh penekanan.


" Eh daddy kok nyusul kesini, kamu udahan kerjanya " tanya Sera balik.


Sera biasa saja seolah tidak paham kalau orang yang disapanya kini sedang menahan amarahnya.


Rey yang paham akan situasinya pun segera pamit undur diri.

__ADS_1


Ardan menunjukkan wajah masam, hatinya bergejolak karena menahan rasa cemburunya.


" Daddy ih ditanyain diem aja, oh ya dad tadi aku mau naik kora-kora tapi malah semua melarang, temenin aku yuk " cerocos Sera tanpa merasa berdosa.


" Tidak ada, ayo ikut aku ".


Ardan membawa Sera untuk mengikuti langkahnya menuju restoran dimana keluarganya berada.


" Daddy...." pekik Saina melihat daddynya datang.


" Kamu nyusul Dan " tanya papanya.


" Hem...".


" Kamu udah makan belum Dan, ayo sini makan dulu " ajak bundanya.


" Ardan udah kenyang bun, makasih " tolak Ardan halus.


Sera dengan santai menikmati makanannya, padahal Ardan yang masih menahan amarahnya tampak menatap tajam kearah istrinya.


Ardan sebenarnya mau marah tetapi dia malu karena masih berada ditempat umum.


" Dad yang tadi itu Rey culun anak IPA3, dia menyapa karena udah lama nggak ketemu, dia datang sama keluarganya, tahu gak dad anaknya udah tiga aja tuh si culun, dia tadi nanyain kamu dan Saina, eh pas banget kamu datang " tutur Sera santai menceritakan kejadian yang membuat Ardan panas dingin.


Setelah mendengar cerita Sera, Ardan menjadi malu sendiri karena cemburu buta, dia pun segera membelai rambut istrinya.


" Kamu cemburu ya dad ?" tanya Sera.


" Boleh kan aku cemburu, karena istriku cantik banget " jawab Ardan.


Sera tersenyum, semua ikut tersenyum lega, pasalnya sebelum mendengar penjelasan Sera, suasana masih terasa tegang karena Ardan memasang muka masam penuh amarah.


........................

__ADS_1


__ADS_2