Menikah Remaja

Menikah Remaja
LIMA PULUH LIMA


__ADS_3

HARI PERNIKAHAN


Sudah dari subuh Rombongan keluarga Sera menuju hotel, mereka siap dimake up oleh MUA pilihan keluarga Mahendra, sebagian ada yang mengecek ke ballroom acara memastikan persiapan dan keadaan disana.


" Bun, mah, Sera gugup ".


" Tenang nak, mama yakin semua akan berjalan lancar " mama Ardan menenangkan.


" Kamu kenapa sayang, Apa yang membuat kamu gugup? " tanya Bunda.


" Entahlah, dari kemarin perasaan Sera tidak enak " jawab Sera lesu.


" Itu hanya perasaan calon pengantin, biasa dirasakan oleh semua mempelai lho sis " sang MUA menengahi.


Akhirnya proses merias pun selesai.


" Ser gimana, sudah ada kabar dari keluarga Hans " tanya Ardan.


" Belum, memang rombongannya belum datang juga? " tanya balik Sera.


" Belum, padahal acara ijab kabul jam delapan kan ?" tanya Ardan memastikan.


" Iya, aku coba hubungi kak Hans lagi deh " tukas Sera, kemudian mencoba menghubungi Hans.


Beberapa kali Sera mencoba menghubungi Hans tetapi tidak mendapatkan jawaban, semua menjadi panik karena para tamu undangan sebagian sudah mulai berdatangan.


" Ayah....Sera bagaimana?" tanya Sera pada ayahnya sambil meneteskan air mata.


Ayahnya hanya memeluk menenangkan putrinya, Ardan menatap pilu, giliran dia mengikhlaskan wanita yang dicintainya untuk menikah tetapi malah seperti ini, ingin rasanya dia menghajar lelaki yang kini belum sampai dihotel tersebut.

__ADS_1


" Apa perlu Ardan cari kerumahnya " tawar Ardan.


" Mungkin lebih baik kita tunggu sebentar lagi " cegah Ayah Sera.


" Mau sampai jam berapa yah, ini sudah mau jam delapan?" bunda ikut cemas.


" Dan coba kamu telepon lagi si Hans " titah ayah Sera.


Ketika Ardan mau menghubungi, bersamaan ponselnya berbunyi, " Sebentar Yah, Ardan angkat telepon dulu ".


^ Ya hallo ^.


^......^


^ Ya benar, ada yang bisa saya bantu ^


^ ...........^


Ardan berjalan lemas menuju kamar dimana keluarganya berkumpul menenangkan Sera.


" Cepat Dan hubungi Hans, jangan menunda lagi para tamu sudah kasak kusuk, ayah malu " bentak ayah Sera.


Ardan menghela nafas berat, dia menggelengkan kepalanya, " Percuma Yah, Hans tidak mungkin datang, Hans...sudah meninggal " jawabnya lirih.


" Kamu ngomong apa sih, kalau kamu tidak suka dengan pernikahan ini bilang saja tidak perlu mengarang cerita, kak Hans pasti datang, kak Hans tidak mungkin ninggalin aku," cerocos Sera tidak terima sambil berlinangan air mata.


Kesalahan Ardan adalah selalu menyampaikan seadanya.


" Dan, kamu jangan macam-macam lihat Sera histeris, tolong jangan sakiti Sera lagi ayah mohon Dan, ayah mohon " ayah Sera mengatupkan kedua telapak tangannya didepan Ardan air matanya tumpah melihat putrinya meraung menangisi nasibnya.

__ADS_1


" Ardan tidak bohong Yah, tadi dari pihak keluarga Hans yang menghubungi, mereka meminta maaf karena kecelakaan merenggut nyawa Hans dan bu Tika dalam sekali waktu, kalau Ardan bisa menggantikan posisi Hans tentu Ardan mau yah demi kebahagiaan Sera, untuk apa Ardan berbohong segala " cerita Ardan.


Seketika Sera pingsan, bunda Sera ikut menangis, semuanya berlarut dalam kesedihan, Saina yang biasanya ceria kini ikut terdiam dalam dekapan opanya.


Ardan berusaha tegar mewakili keluarga meminta waktu para tamu untuk bersabar dan menikmati hidangan yang ada terlebih dulu dikarenakan acara masih diundur dalam waktu yang belum bisa ditentukan.


" Apa yang harus kita lakukan yah, apa kita bubarkan para tamu saja " tanya bunda.


Ayah ikut prihatin dan bingung entah apa yang harus dilakukannya.


" Apa kita nikahkan Sera dan Ardan kembali, dari pada acara kita batalkan, kita tentu akan menanggung malu terhadap para kolega dan tamu undangan lainnya " saran papa Ardan.


Semua menoleh pada pak Mahendra, Sera yang sudah siuman memilih diam seribu bahasa.


" Pa, please jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Ardan tidak suka" timpal Ardan.


" Jujur kalau masalah itu bukan wewenang saya " ucap Ayah Sera.


" Ma...menurut mama bagaimana?" papa Ardan meminta suara.


" Mama bingung pa " jawab mama Ardan.


" Semua demi Saina, kita jangan egois, pikirkan Saina, kalau memang ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan tentu penjara akan sangat penuh dengan para pendosa, selama ini papa memilih diam, tetapi kali ini papa mohon pikirkan nasib putri kalian" tegas papa Ardan.


" Bagaimana nak?" tanya bunda Sera pada putrinya.


Sera masih terdiam, semua begitu cepat sampai pikirannya kini kosong, rasa sesak memenuhi dadanya, rasa kesal,amarah semua bercampur menjadi satu.


" Sera terserah kalian saja, Sera tidak sanggup berfikir apapun " ucap Sera berat.

__ADS_1


Bagaimana tidak, jika dihatinya sekarang dipenuhi cinta dan kasih sayang Hans, mengapa justru kegagalan dihari pernikahannya terjadi, apakah ini bentuk hukuman dari Tuhan karena dia pernah melakukan kesalahan hingga terlahir Saina?, tetapi itu sudah sangat lama terjadi, bukankah seharusnya lelaki tengil dihadapannya yang mendapatkan karma?, lalu mengapa justru dirinya yang merasakan sakit selama ini, baru akan merasakan kebahagiaan justru Tuhan segera mengambilnya, atau memang ini jalan dari Tuhan?, ENTAHLAH.......


Kita hanya mengikuti alurnya saja.


__ADS_2