Menikah Remaja

Menikah Remaja
DELAPAN PULUH LIMA


__ADS_3

Pagi di Belanda....


Sera memboyong bunda serta anaknya ke negara yang berbeda dari tujuan awal, pasalnya dia tidak mau kalau sampai mertuanya khilaf dan memberi tahu Ardan bahwa dirinya berada di Singapura, jadi dia mengubah tujuannya tanpa sepengetahuan mertuanya.


" Bunda....bagaimana disini?" tanya Sera sambil duduk di depan meja makan.


Susu hangat dan roti tersedia di hadapannya tentu sang bunda yang menyiapkannya.


" Dimanapun bunda asal bersama anak dan cucu, bunda akan merasa senang nak " jawab sang bunda tanpa menoleh kearah putrinya karena sedang memasak.


" Sera minta maaf bun, karena Sera bunda jadi jauah dari ayah, tetapi Sera sudah meminta orang kepercayaan Sera untuk mengurus makam ayah kok bun ".


" Kamu tidak perlu meminta maaf nak, justru bunda prihatin dengan keadaan kamu sekarang, dalam kondisi hamil, kamu masih memikirkan bunda dan mengurus Saina sendirian tanpa adanya Ardan disamping kamu nak " bunda menitikkan air mata.


" Bunda tidak perlu khawatir, Sera baik-baik saja " ucap Sera menenangkan bundanya.


Kalau boleh jujur sebenarnya hati Sera remuk untuk kesekian kalinya, dirinya beruntung tidak sampai gila, dimana dia harus kehilangan ayahnya, kemudian perselingkuhan suaminya, bahkan kini dirinya harus melahirkan tanpa didampingi oleh suaminya.


Tetapi mungkin memang lebih baik menjauh dari suaminya demi menjaga kewarasannya.


Sera yang dipaksa dewasa oleh keadaan kini sudah mulai terbiasa menghadapi masalah yg datang dengan lebih tenang dan bijak, berbeda dengan Sera yang dulu, apabila ada yang dia tidak suka maka sikap barbarnya akan langsung dia tunjukkan.


Saina mendapatkan pendidikan dari sekolah barunya di Belanda tetapi masih menunggu dua minggu lagi karena harus mengurus surat kelengkapan untuk administrasi.


Sera sudah mendaftarkan dirinya pada sebuah rumah sakit untuk proses kelahiran buah hatinya nanti.


Sementara Ardan yang kini menjadi pengangguran di jakarta, tampak masih bermalas-malasan diatas kasur, Luna yang sudah rapi dengan baju kantornya pun tampak heran melihat kekasihnya masih belum siap berangkat ke kantor.


" Sayang kamu hari ini masuk kerja nggak?" tanya Luna manja.


" Malas ".


" Tumben kamu malas, biasanya semangat ".


" Udah sana kerja nggak usah berisik Lunaaaa".

__ADS_1


Luna pun segera pamit berangkat ke kantor dimana sebelumnya Ardan lah pemimpin dikantor tersebut.


Ketika memasuki lobby tampak pandangan orang-orang aneh menatapnya, Luna yang awalnya biasa saja menjadi grogi, langkahnya tampak hati-hati menuju lift.


" Kamu Luna ?" suara yang didengar Luna sebelum pintu lift terbuka.


Luna kaget, " Iya pak " jawab Luna.


" Ikut saya !".


" Kemana pak?" tanya Luna.


" Rob....bawa wanita ini ke ruanganku !" perintah pak Mahendra.


Ajudannya tampak mengangguk kemudian menggiring Luna untuk mengikuti langkah Big bosnya.


Sampai di ruangan yang dimaksud, pak Mahendra berdiri menghadap kaca sambil menatap gedung diseberang.


Luna tampak gugup ketika memasuki ruangan tersebut, aura dari pak Mahendra tampak begitu dingin menakutkan.


" Kamu kenal saya " tanya pak Mahendra.


" Kamu berani mendekati anak saya tapi kamu tidak kenal saya?" tanya pak Mahendra dengan tatapan menghunus.


Luna tercekat kaget, ternyata orang yang dihadapannya saat ini adalah bigbos di perusahaan tempat dia dan kekasihnya mengumpulkan rupiah.


" Ma...maaf pak "ucap Luna gugup.


" Apa, maaf? " cibir pak Mahendra.


" Sudah berapa lama kalian berhubungan? " lanjut pak Mahendra.


" S..sudah sepuluh bulan pak, tapi..." ucapan Luna terpotong.


Pak Mahendra menolak Luna melanjutkan penjelasannya dengan menggunakan telapak tangannya.

__ADS_1


" Kamu cukup jawab pertanyaan saya, apa kamu tahu Ardan sudah menikah?".


Luna mengangguk.


" Dimana letak otakmu " suara pak Mahendra meninggi begitu mengetahui kebenaran bahwa wanita dihadapannya mengetahui bahwa Ardan sudah menikah tetapi nekat melanjutkam hubungan mereka.


Luna ketakutan, dia merasa sangat kecil dihadapan orang tua kekasihnya.


" Pak...ampuni saya, kalau perasaan tulus saya pada putra bapak sudah membuat bapak tidak suka ".


" Silakan tinggalkan perusahaan ini, jangan pernah muncul dihadapan saya lagi, sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubungan kalian, bagi saya dan keluarga saya hidup hanya sekali, mati sekali, menikahpun hanya sekali, kalau anak bodoh itu nekat menikahimu, jangan pernah anggap kami adalah keluargamu karena sampai kapanpun menantu kami hanya satu yaitu Sera Wijaya dan tidak akan tergantikan apalagi oleh wanita murahan model seperti kamu, Paham!!!" tegas pak Mahendra.


Luna segera keluar dari ruangan tersebut, hatinya sakit mendengar penghinaan dari papa kekasihnya.


Luna membereskan barang-barangnya kemudian pergi meninggalkan perusahaan tersebut.


Ketika sampai diapartmen dia segera mwnceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada Ardan sambil menangis tersedu-sedu dalam pelukan kekasihnya.


Ardan menghela nafas berat, namun dia masih dengan tenang memeluk Luna.


" Sayang papa kamu jahat banget sama aku ".


" Sabar sayang kita pasti bisa menghadapinya ".


" Lalu apa kamu masih bekerja disana?" tanya Luna curiga.


Ardan meenggelengkan kepalanya.


Luna segera melepaskam diri dari pelukan Ardan.


" Kenapa kamu tidak cerita? sekarang bagaimana kita bisa hidup? Kita sama-sama pengangguran, belum lagi...." Luna menuju kamar mandi mengambil sesuatu kemudian menunjukannya pada kekasihnya, " Aku hamil anak kamu, aku udah periksa usia kehamilan sepuluh minggu,kamu ingat akhir-akhir ini kita tidak pernah absen kan, ternyata aku hamil" pekik Luna sambil menangis.


Ardan terdiam sambil memandang benda pipih yang dibawa kekasihnya.


Dunia Ardan seakan runtuh, disaat istri dan anaknya menghilang, dirinya resmi menjadi pengangguran, kini kekasihnya hamil oleh perbuatannya, sungguh Ardan seperti terperosok ke dasar bumi.

__ADS_1


.......


Lanjut gak ya?????


__ADS_2