
Sampai dirumah sakit, Sera langsung menuju ke ruang rawat mama mertuanya, kedatangannya bukan hanya membuat Ardan bahagia tetapi juga kaget dari mana Sera tahu kalau mamanya dirawat.
Muncul pemikiran apakah selama ini ada mata-mata yang selalu memberi kabar pada Sera?, apapun itu Ardan tampak bahagia.
" Assalamu alaikum pah...bagaimana kondisi mama?" tanya Sera pada sang papa.
" Waalaikum salam nak....benar ini kamu Ser? mama mengalami sakit magh kronis karena mama tidak pernah mau makan nak " jawab papanya lemah sambil menitikkan air matanya.
" Sekarang kondisinya lemah karena tidak ada asupan masuk ke tubuhnya" lanjut sang papa.
Sera menangis sedih bagaimanapun mama adalah orang yang selama ini membantunya dalam hal apapun setelah dia menikah dengan Ardan, Sera sangat menyayangi kedua mertuanya tetapi apa daya ketika Ardan menghianatinya maka dia memilih untuk meninggalkan semuanya.
" Maafin Sera pah....maaf Sera udah bikin mama sakit, Sera udah bikin mama menderita pah maafin Sera" tangis Sera semakin pecah kala sang papa menyambutnya dengan pelukan, keduanya sama-sama menangis.
Sedangkan Ardan hanya menjadi penonton, dia ikut menangis tetapi tertahan karena dia merasa diabaikan oleh kedua orang didepannya.
" Papa yang harusnya meminta maaf sama kamu Sera....karena kelakuan anak papa, kamu jadi sakit hati, papa malu Ser...papa malu" ungkapan hati papa mertuanya.
" Pah...."
" Diam kamu anak bandel!" ketus sang papa kepada Ardan.
Padahal Ardan hanya memanggilnya saja karena dokter datang.
__ADS_1
" Keluarga ibu Novita" tanya Dokter.
" Iya dok saya suaminya" jawab pak Mahendra mengurai pelukannya pada Sera.
Ardan mencuri pandang pada istri yang dirindukannya, tetapi Sera mengabaikannya.
" Kondisi pasien sudah mulai stabil jadi kami akan memindahkan keruang perawatan, mohon diurus untuk administrasinya ya pak" ucap Dokter.
" Terima kasih dok, saya akan segera urus administrasinya " jawab pak Mahendra berbinar.
Ada rasa syukur dihati keluarga Mahendra, meski belum sepenuhnya pulih tetapi kini kondisi mamanya sudah stabil.
" Sera , papa urus administrasi dulu kamu bisa temani mama kamu diruang rawat ya"
" Biar Ardan yang urus administrasinya pah" tawar Ardan.
" Memangnya kamu punya uang?" ejek papanya.
Adran pun tersenyum kecut.
Kini Sera dan Ardan sedang bersama diruang rawat menunggu sang mama, keduanya saling diam tidak ada pembicaraan, sebenarnya Ardan sangat ingin memeluk istrinya melepas kerinduannya tetapi mengingat kesalahannya dia pun mengurungkan niatnya.
Sera tetap acuh terhadap Ardan, tujuannya datang hanya untuk mertuanya bukan untuk suami yang sudah menggoreskan luka dihatinya.
__ADS_1
" Ser....ak"
" Jangan bicara apapun, gue nggak minat ngobrol sama loe !" tegas Sera memotong pembicaraan yang baru saja akan dimulai oleh Ardan.
" A...air "
" Mama....ini Sera ambilkan air" Sera segera tanggap begitu melihat mama mertuanya sadar.
Setelah meminum air mama mertuanya pun menatap kearah Sera, menantu yang dirindukannya, dia pun menangis pilu memeluk Sera.
Hikss...hikssss....hiiikkkssss......
Suara tangis yang memilukan pun pecah diantara keduanya,Ardan tidak enak hati kemudian memilih keluar dari ruang rawat, dan ternyata papanya sudah ada di depan ruang rawat mamanya.
" Bagaimana? puas kamu sudah bikin mamamu sampai seperti ini?" tanya sang papa.
Ardan menunduk, " Ardan akan perbaiki semuanya pah, Ardan akan membawa Sera dan Saina kembali lagi kerumah, Ardan tahu Ardan salah, Ardan rela melakukan apapun asal Sera dan Saina kembali pah ".
" Kamu yakin setelah apa yang kamu lakukan Sera akan dengan mudah memaafkanmu? ".
Ardan menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu, bagaimana kamu akan membawa mereka kembali sedangkan kamu sendiri ragu untuk itu ".
__ADS_1
Ardan menghela nafas, ternyata begitu dalam luka yang dia goreskan sehingga untuk menyembuhkannya butuh waktu yang lama, bahkan dirinya tidak yakin bisa sembuh atau tidak, karena kini Sera sudah membangun benteng pertahanan yang kokoh.