Menikah Remaja

Menikah Remaja
EMPAT PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Acara syukuran telah usai, semua para tamu sudah pulang kerumah masing-masing, hanya beberapa kerabat yang masih membantu membersihkan sisa acara, Sera ikut membereskan hiasan yang terpasang dengan bantuan Hans, ya lelaki itu masih belum pamit pulang karena si kecil Saina masih menginginkan keberadaanya disana.


Orang tua Ardan sudah pamit pulang, dalam perjalanan mama Ardan membayangkan betapa dia akan kehilangan Sera seutuhnya setelah Sera mendapatkan pengganti Ardan, apalagi sosok lelaki yang tadi dilihatnya dipesta sudah dekat dengan cucu semata wayangnya.


Hati mama Ardan sangat tidak rela tetapi apa daya nasi sudah menjadi bubur, inilah akibat dari kelakuan anaknya yang dicap badboy.


Ardan pamit dengan uring-uringan karena melihat Hans masih berada dirumah mantan mertuanya bahkan sedang asik membantu Sera.


" Sudah kak....kakak pasti lelah ya ".


" Tidak, aku senang bisa membantu, setidaknya dapat menebus keterlambatanku tadi " jawab Hans sambil nyengir.


" Makasih ya kak, ini diminum dulu kak " ucap Sera menyerahkan sebotol air mineral.


" Sama-sama cantik, makasih ya sudah undang kakak dan mengikut sertakan dalam acara Saina, kakak senang sekali " ungkap Hans tulus.


Keduanya terdiam, keringat membanjiri kening hingga leher terlihat tetesan air, mereka menikmati kipasan angin alami dari pepohonan sekitar sambil mengawasi Saina yang sedang bermain dengan kelinci baru hadiah dari Hans.


" Kakak senang kalau Saina suka dengan kelincinya " ucap Hans.


" Iya, Saina memang suka binatang, dulu dia punya kucing kecil dia beri nama miaw, tetapi karena kita pindah kesini, miaw tidak bisa ikut, dia sempat sedih menginginkan miaw, tetapi bunda tidak mengijinkan karena bunda takut kucing " cerita Sera.


Hans tersenyum kemudian bangkit dan berjalan kearah Saina, " Duh yang asik main sama kelinci, uncle jadi dicuekin nih? " Hans pura-pura merajuk.


" Tidak Uncle, Saina tetap sayang uncle kok " sahut Saina sambil terus bermain dengan kelincinya.


" Hmmmm oh ya kelincinya namanya siapa? " tanya Hans.

__ADS_1


" Namanya Flo " sahut Saina lagi.


" Flo? Boleh tahu tidak Kenapa namanya Flo?" tanya Hans.


" Emmm..... Saina pengen punya adik kaya Lisa temen Saina di sekolah, Lisa punya adik namanya Flo lucu banget uncle " cerita Saina dengan wajah sendu.


Hans membelai kepala Saina dengan penuh kasih sayang, " Saina berdoa saja, semoga Saina nantinya punya adik juga ya, minta sama Allah setiap hari " nasehat Hans.


Saina kembali ceria kemudian bermain lagi dengan Flo.


" Saina minta adik Ser " ucap Hans to the point.


Sera yang sedang menikmati sup ayam langsung tersedak, bagaimana tidak begitu Hnas duduk didepannya langsung berkata demikian.


" Hati-hati Seraa...kamu ini makan kaya anak kecil, ini minum " Hans mengulurkan air minumnya.


" Lah emang tadi Saina bilangnya gitu, kakak hanya menyampaikan saja lho, kakak salah ya? Maafin kakak ya?" pembelaan Hans lembut plus permintaan maaf.


Sera menghangat, dia tidak jadi mengoceh lagi, " Kak apa tawaran kakak masih berlaku" ucap Sera setelah keduanya terdiam cukup lama.


" Tawaran apa?", Hans tampak berfikir, " Oh tawaran yang bisnis kaos ya? Iya itu masih berlaku, kamu mau ambil lumayan buat tambahan" cerocos Hans.


" Apaan sih kak, ya sudah tidak jadi " sungut Sera kemudian beranjak dari duduknya hendak pergi meninggalkan Hans.


" Hey...." Hans mencekal tangan Sera.


Sera berbalik menatap kearah Hans, " Apa".

__ADS_1


" Sampai kapanpun masih berlaku, kakak justru sangat senang kalau kamu akhirnya menanyakan hal itu, apa kamu sudah memiliki jawaban?".


Sera mengangguk, Hans tersenyum penuh arti kemudian mengajak Sera duduk disampingnya.


" Katakan, apapun jawaban kamu kakak akan terima dan itu tidak akan merubah apapun".


" Sera....mau coba membuka hati untuk kakak, tapi maaf hati Sera hanya tinggal sepotong, jadi Sera mohon kakak jaga dengan baik " ucap Sera, tanpa terasa air matanya menetes.


Hans mengelap air mata Sera, " Kaka tidak bisa berjanji menjadi lelaki sempurna, terapi kakak akan berusaha untuk menjaga dan menyayangi kamu, Saina,dan keluarga kita ".


Sera semakin banjir air mata, ini adalah kali pertamanya dia membuka hati kembali setelah menutup rapat paska dihancurkan oleh mantan suaminya.


" Apa kakak tidak masalah dengan status sosial Sera kak?, Sera janda punya anak satu lho kak, bagaimana tanggapan orang, bagaimana tanggapan keluarga kakak?" pertanyaan Sera penuh kekhawatiran.


" Untuk apa memikirkan omongan orang, yang menjalani kita bukan mereka, dan untuk keluarga kakak mereka pasti bisa memahaminya, karena Ibu dulu menikah dengan papi dalam kondisi sudah memiliki anak masing-masing" cerita Hans.


"Papi duda punya anak 2, kak Nesa dan kak Nesi mereka kembar, sedangkan ibu janda punya anak 1 bang Heru, kemudian dari pernikahan keduanya lahirlah kakak, tetapi ketika kakak berumur tiga tahun papi dan ketiga saudara kaka mengalami kecelakaan mobil ketika perjalanan ke Aceh, semuanya meninggalkan kami" lanjut Hans.


" Jadi kakak hanya tinggal memiliki seorang ibu ?" tanya Sera.


" Iya, hanya ibu yang kakak punya,kami tinggal berdua, setiap kakak kerja ibu ditemani oleh asisten rumah tangga kami yang sudah mengabdi dari kakak masih bayi" jawab Hans.


" Maaf ya kak, kakak jadi sedih karena omongan Sera" sesal Sera melihat raut kesedihan diwajah Hans.


" Kakak bahagia kok, hanya kakak berharap tadinya papi bisa ikut merasakan kebahagiaan kakak " ungkap Hans.


Sera mengelus telapak tangan Hans, menenangkan lelaki yang beberapa waktu lalu resmi menjadi kekasihnya.

__ADS_1


# Pacaran dulu apa langsung nikah?????


__ADS_2