
Keluarga Ardan malam itu menginap dirumah orang tua Sera karena Saina merengek mau ikut ayahnya ngeronda.
Ardan sudah melarangnya tetapi Saina malah menangis tanpa henti sehingga Ardan memutuskan untuk mengijinkannya meski hanya sebentar ternyata bocah itu tidak kuat karena banyak nyamuk.
" Dad nyamuk kenapa suka gigit anak kecil" tanya Saina polos.
" Bukan cuma anak kecil sayang, orang dewasa juga digigit nyamuk " jawab Ardan bijak.
" Tapi tadi di pos yang digigit nyamuk Saina doang, ayah dan temen ayah nggak digigit ?" protes Saina.
" Makanya tadi daddy melarang Saina ikut ya karena itu alasannya sayang, takut anak daddy yang cantik ini digigit nyamuk ".
" Pokoknya Saina mau balas dendam besok kalau berangkat ronda, Saina mau bawa semprotan nyamuk " celoteh Saina.
Ardan menepuk jidatnya, tidak habis fikir dengan putrinya.
Segera Ardan mengajak Saina masuk kamar untuk istirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Pagi hari Ardan sengaja memasak untuk istri dan anaknya dengan dibantu oleh bundanya
" Pakai blender saja Dan kalau susah nguleknya " tutur sang bunda.
Ardan masih terus berusaha menghaluskan bumbu dengan ulekan meski susah payah karena dia ingin menyajikan yang terbaik untuk keluarganya.
Setelah cukup lama bumbu bikinan Ardan akhirnya halus juga.
Dia mulai memasak dengan mengikuti arahan dari bundanya.
__ADS_1
Tang teng tang teng....suara alat memasak saling beradu, Sera yang masih terlelap akhirnya terbangun, apalagi indra penciumannya mengendus aroma yang harum membuat indra pengecapnya ingin mencoba tes rasa.
Ketika sampai didapur, Sera melihat suaminya sedang memasak, sedangkan didepan wastafel bundanya sedang mencuci piring dan si mbok Dar sedang membersihkan sisa kekacauan yang dibuat oleh suaminya.
" Dad...kamu masak?" tanya Sera.
Semua menengok kearah sumber suara.
Ardan langsung tersenyum, " Iya sayang....kamu mau cobain nggak, udah matang nih " tanya Ardan seraya memanggil istrinya untuk mendekat.
Sera mengambil piring lalu menyodorkan pada suaminya, " Aku mau yang banyak ya " ucap Sera.
Ardan melayani istrinya, dengan telaten dia menyuapi Sera karena memang semenjak hamil istrinya itu menjadi lebih manja.
" Gimana enak nggak?" tanya Ardan.
Ardan hanya bisa tersenyum kecut, membayangkan dirinya harus berperang lagi dengan ulekan sungguh dia memilih lebih baik banyak kerjaan menumpuk dikantor dari pada harus mengulek bumbu, tetapi jika hasilnya bisa menyenangkan hati istrinya tentu dia akan melakukannya lagi.
" Iya tetapi jangan setiap hari ya...gizinya kurang sayang ".
" Gampang tinggal banyakin topingnya aja kan, ada sosis, telur, daging, sayuran kan jadi bergizi".
Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melawan Sera hanya akan membuatnya pusing lebih baik mengikuti kemauan istrinya.
" Iya sayangku yang cantik " ucap Ardan sambil memeluk istrinya dari samping.
" Daddy.....jangan peluk mommy " terial Saina yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka.
__ADS_1
Keduanya menengok ke sumber suara, Ardan pun melepas pelukannya.
" Hay sayang daddy sudah bangun, sini ikut sarapan sama mommy " ajak Ardan.
" No....Saina mau ikut ayah ke kebun mau bakar ubi " tolak Saina.
" Dikebun kotor lho " ucap Sera.
" Tapi kata ayah seru ".
" Oke seru tapi, ada tanah basah, ada cacing, ada kotoran kambing atau ayam, kalau Saina mau ikut harus siap bau ya dan jangan merengek" terang Ardan.
Saina tampak berfikir, membayangkan perpaduan semua yang diucapkan daddynya bercampur jadi satu maka baunya tidak dapat dibayangkan lagi oleh bocah cilik itu.
" Iiiih jorok dong? " ucap Saina.
" Bukan jorok tetapi memang seperti itulah keadaan kebun ".
" Saina nggak jadi ikut dad, mau ke kantor opa saja yang nggak bau " celetuk Saina kemudian mengambil piring yang biasa digunakannya untuk sarapan.
Bunda dan ayah sudah ikut bergabung untuk sarapan, dan mereka menikmati nasi goreng perdana buatan Ardan.
Rencananya sore Ardan, Sera dan Saina akan balik kerumah orang tua Ardan, itu semua ide dari Sera, kali ini semua anggota keluarga hanya mengikuti maunya Sera karena bumil satu itu sedang tidak bisa diajak untuk bernegosiasi.
Apapun keinginan Sera adalah keputusan mutlak sampai nanti kelahiran anak keduanya.
...................
__ADS_1