
Setelah kabar kehamilan Sera menyebar, kini Sera justru dikekang oleh kedua wanita yang kompak menjaga calon cucu barunya itu.
Jangankan untuk ke butiknya, mau makan saja bunda atau mamanya yang menyiapkan, Sera tidak boleh melakukan apapun.
Alhasil bukanya senang Sera justru merasa bosan dengan keadaan ini.
" Ardan Mahendra bangun kamu, buruan rapi-rapi mumpung masih pagi " ucap Sera membangunkan suaminya.
" Ini masih gelap Ser " jawab Ardan masih dengan rasa kantuknya.
" Justru karena masih pagi gelap, mumpung orang masih pada tidur kita kabur " tutur Sera.
Ardan terbelalak kaget, seketika kantuknya lenyap sudah.
" Kabur? Maksudnya kabur? " tanya Ardan.
" Aku bosan dikurung terus, aku mau keluar rumah susah, aku bete Dan " ucap Sera setengah menangis.
Ardan menjadi iba melihat istrinya bersedih, dia paham Sera pasti bosan, apalagi bila teringat dia ingin sekali kepantai....
" Oke sayang kita ke pantai, siapin baju yang nyaman ya, hari ini harinya kamu, aku mandi dulu " ucap Ardan.
Binar bahagia muncul diwajah yang tadinya sendu, Sera bersemangat mempersiapkan semua keperlua yang akan dibawa olehnya.
Tepat pukul empat lewat tiga puluh menit keduanya sudah siap meluncur, dengan modal meninggalkan sebuah pesan pada kedua orang tua mereka agar tidak panik ketika keduanya tidak ada dirumah.
" Yeeeeeey....aku seneng banget Dan, makasih ya daddynya Saina" pekik Sera kegirangan.
Ardan menatap istrinya, dia tidak pernah menyangka perempuan yang dulunya manja dan tengil itu kini menjadi istrinya bahkan sedang mengandung anak keduanya.
" Apapun sayang demi kebahagiaan kamu " ucap Ardan sambil mencium tangan istrinya.
__ADS_1
Sera terus menampilkan senyumannya, rasanya sangat lega bisa keluar dari rumah yang membosankan baginya, meski ada rasa berat karena tidak mengajak anaknya karena harus sekolah.
Satu jam berlalu sampailah mereka ke pantai yang dituju, Sera tampak tergesa-gesa turun dari mobil untuk segera menikmati air laut.
" Dingiiiin....seger banget ".
Sera berlarian menikmati suasana pantai sambil menunggu matahari terbit.
Ardan merapikan bawaannya kemudian menyusul istrinya.
" Sayang jangan jauh-jauh ya ".
" Aku suka maen air, makasih ya Dan " ucap Sera sambil memeluk perut suaminya.
" Maaf ya telat bawa kamu kesini" jawab Ardan sambil membingkai wajah istrinya.
Jarak mereka sangat dekat, Ardan mendaratkan kecupan di kening istrinya.
" I Love You too daddy sayang, terus kaya gini ya jangan sakiti aku lagi " Sera menitikan air matanya.
" Tidak sayang, aku janji akan selalu jaga jiwa ragaku untuk kamu dan anak-anak kita ".
Kecupan mesra mewakili seluruh perasaan Ardan pada Sera bersamaan dengan munculnya sang mentari di ufuk timur, sinarnya menghangatkan pagi yang dingin ditepi pantai.
Kini keduanya menikmati susu hangat yanag mereka beli disalah satu kedai susu dipinggir pantai, ditemani roti tawar gandum yang dibawa Ardan dari rumahnya.
" Kita kaya lagi pacaran ya " celetuk Sera.
" Anggap saja begitu, maklum kan kita memang nggak pernah pacaran " jawab Ardan.
" Iya...ya, nikah dua kali sama kamu tapi nggak pernah pacaran, pacarannya malah sama orang lain " tutur Sera.
__ADS_1
" Anggap saja mereka jagain jodoh orang ".
" Dih enakan kamu dong " sungut Sera.
" Terus maunya kamu sama siapa yank? udah kita nggak usah bahas itu, yang kita bahas sekarang adalah kehidupan kita saja " .
" Hmmmm....ngambek" ledek Sera.
" Enggak sayang...aku nggak mau ngambek sama kamu, yang ada kamu tuh yang hobby ngambek sekarang ".
" Bawaan orok kali " celetuk Sera asal.
" Hust jangan ngaco deh, anak kita belum tahu apa-apa masa udah difitnah ".
" Apaan sih...ngeselin kamu mah ".
" Tapi cinta kan ?".
" Nggak usah lebay, anak udah mau dua juga ".
Ardan yang gemas pada Sera langsung memeluknya, " Cinta banget deh sama istri aku ".
" Ada maunya kan?" tuduh Sera.
" Iya mau ngehamilin kamu terus yank ".
" Nggak mau, enak aja, dua anak cukup " tolak Sera.
Ardan pun pasrah mengikuti mau istrinya dari pada ngambek lagi, yang ada bahaya baginya dan rumah tangganya.
.........................
__ADS_1