
Pagi ini Ardan sudah rapi mau pergi ke kantor, tetapi Sera justru mengeluarkan jurus ngambeknya karena enggan ditinggal oleh suaminya.
Ardan berusaha memberikan pengertian ke istrinya, tetapi usahanya sia-sia, Sera melakukan aksi mogok makan dan mogok bicara.
Kalau saja Ardan tidak ada meeting penting pasti dirinya memilih menemani istri tercintanya, tetapi urusan pekerjaan kali ini tidak bisa dia tinggalkan makanya dia tetap pergi meskipun dia harus menerima konsekuensi dari istrinya nanti.
Siang itu mama Ardan baru pulang dari mrnjemput cucunya, diruang santai tampak Sera sedang menonton televisi tanpa memperdulikan siapa yang datang.
" Mommy....." panggil Saina.
" Hay sayang, cepat cuci kaki dan tangan, terus ganti baju baru makan ya ".
" Mom dedeknya nakal nggak?" tanya Saina.
" Emmmm nggak nakal sih cuma agak manja kaya kakaknya " jawab Sera sambil mencubit sayang pipi anaknya.
" Nanti kakak boleh gendong ya mom ?".
" No...biar daddy saja yang gendong jangan ada yang bantuin oke sayang....sekarang buruan ke atas " ultimatum Sera.
Mama Ardan yang ikut mendengar obrolan cucu dan menantunya syok, tetapi karena dia sudah sangat paham sifat dari menantunya, dia hanya bisa maklum saja.
Sera memang keras kepala, bahkan dia tidak segan menghukum suaminya kalau melakukan kesalahan, walaupun didepan mertuanya.
Sore hari Ardan dan pak Mahendra pulang, bedanya kalau pak Mahendra disambut dengan sumringah oleh istri dan cucunya, Ardan hanya disambut oleh putrinya karena istrinya masih melakukan aksi mogok bicara dengannya.
" Dan...Sera kenapa lagi?" tanya sang Mama.
__ADS_1
Ardan menghela nafas, " Meeting kali ini memang sukses, tetapi justru rumah tangga Ardan yang menjadi terancam, Sera marah karena Ardan berangkat meeting ".
" Sera ngidam?" tanya mamanya lagi.
" Mungkin ".
" Atau mungkin bawaan bayi Dan " potong papanya.
" Bisa jadi pa, kaya waktu mama hamil Ardan dulu maunya nemplokin papa " imbuh mamanya.
Ardan jadi berfikir apa benar omongan kedua orang tuanya.
Akhirnya Ardan meemberanikan diri untuk keatas menuju kamar dimana istrinya berada.
Tok...tok...toookk...
Hening tidak ada jawaban dari dalam.
Ardan tidak kehabisan akal, dia masuk kekamar Saina kemudian membuka pintu conecting dari dalam beruntung pintu dalam keadaan tidak dikunci.
Ketika pintu dibuka dia mendapatkan pemandangan dimana istrinya sedang terlelap sambil memeluk kemeja miliknya yang sudah kotor.
" Segitu kangennya sama suami kamu yank sampai meluk kemeja kotor kaya gitu " gumamnya sambil tersenyum.
Ardan segera membersihkan diri agar ketika bertemu dengan bumilnya dirinya sudah bersih.
Sera samar-samar mendengar suara air gemericik dari kamar mandi.
__ADS_1
Sera melangkah ke lemari mencari baju untuk suaminya, kemudian menuju kedepan pintu kamar mandi bersamaan dengan Ardan membuka pintu.
" Aaaa.... Sayang ngagetin sih " pekik Ardan.
" Kamu segitu kagetnya, ngumpet dari aku ya?" tuduh Sera.
Padahal Ardan hanya tidak ingin membuat istrinha terganggu.
" Nggak sayang, aku takut ganggu kamu".
" Aku kangen kamu " ucap Sera langsung memeluk suaminya yang masih menggunakan handuk.
" Yank aku nggak kuat lho ".
Sera cuek terus menggesekkan wajahnya kedada suaminya sambil menciumi bau khas suaminya.
" Sambil tiduran yuk, aku capek yank " ajak Ardan.
" Nggak ah nanti kamu modus, aku lapar seharian belum makan mikirin kamu " tolak Sera.
" Ya sudah, aku ganti baju terus kita makan ya sayang ".
Sera dengan setia menunggu suaminya.
Entah mengapa akhir-akhir ini mood Sera sering berubah, naik turun tidak tetap, kadang marah, kadang sedih, kadang manja, kadang seperti anak kecil....
Ardan yang menjadi suaminya berusaha memahami mood istrinya dan sebisa mungkin menghindari perselisihan agar tidak terjadi pertengkaran.
__ADS_1