Menikah Remaja

Menikah Remaja
EMPAT PULUH EMPAT


__ADS_3

Malam itu Ardan menemani anaknya tidur dikamar terpisah dengan Sera, pupus harapananya untuk mengulang kenangan tidur bersama dengan mantan istrinya tersebut.


Ardan tidak dapat memejamkan kedua matanya walaupun waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari,meski mencoba berkali-kali memejamkan matanya tetapi nihil, karena tidak dapat terpejam akhirnya Ardan memutuskan keluar kamar.


Ketika membuka pintu tampak ayah Sera berjalan kearah dapur, melihat mantan menantunya sang ayah tampak biasa saja, Ardan mengikuti ayah Sera untuk mengambil air minum juga.


" Belum tidur Dan ?" tegur ayah Sera.


" Tidak bisa tidur Yah" jawab Ardan.


" Kenapa? AC nya mati kah?".


" Bukan Yah, tapi entahlah mata Ardan sulit terpejam" sahutnya.


Kemudian ayah Sera mengajaknya untuk ngobrol diruang tengah.


" Apa kamu tidak ada niatan untuk menikah lagi" tanya Ayah Sera.

__ADS_1


Ardan tercekat mendapat pertanyaan dari mantan mertuanya, " Belum yah?" jawabnya.


" Lalu bagaimana dengan wanita itu?" tanya Ayah Sera lagi.


" Ardan masih belum yakin yah apakah itu benar anak Ardan" jawab Ardan sendu.


" Maaf kalau ayah terkesan ikut campur, tetapi ayah hanya tidak mau orang memandang tidak baik jika kamu sering menginap disini" ucap ayah Sera.


" Tidak apa yah, justru Ardan senang , tetapi Ardan memang belum berpikiran untuk menikah lagi" jawab Ardan.


Ardan menghela nafas kasar, dia tidak menyangka mantan ayah mertuanya memikirkan sejauh itu, meski kini mereka bukan lagi mertuanya tetapi Ardan justru menganggap keduanya adalah orang tuanya, bahkan tidak jarang pula Ardan berkunjung kerumah tersebut meski Sera tidak berada dirumah.


Langkah kaki Ardan terhenti ketika tidak sengaja melihat sosok yang sangat dirindukannya turun dari lantai atas dengan memakai baju tidur yang bagi Ardan cukup menggoyahkan imannya.


Sera menuruni tangga karena merasa lapar dimalam hari, itu adalah kebiasaanya sedari dulu, tetapi dia lupa kalau hari ini mantan suaminya menginap jadi dia main turun tanpa mengganti bajunya terlebih dulu, toh selama ini pada jam tiga dini hari biasanya para penghuni rumah masih terbuai dengan mimpi masing-masing.


Sera berjalan kearah dapur mencari makanan tanpa sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya ditengah malam gelap itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan semangkuk salad dari kulkas, serta sepotong roti dia pun menikmatinya di meja makan.


" Ehem...." suara Ardan membuat Sera berjenggit kaget.


" Ngapain kamu keluar malam dengan baju seperti itu?" tanya Ardan.


Sera sadar dia memakai baju tidur yang sedikit terbuka, lalu dia membereskan makanannya dan membawanya naik ke kamarnya, Sera masih belum mau banyak berinteraksi dengan mantan suaminya.


Rasa sakit menjalar dihatinya setiap melihat mantan suaminya itu, tetapi dia harus melawan rasa egoisnya demi anaknya, biarkan hatinya yang terluka merasakan sakit sendiri asal anaknya bisa terus berjumpa dengan daddynya meski hanya sebentar.


Sungguh rasanya pengap bila harus berada satu ruangan dengan Ardan, makanya Sera memilih menghindar dari mantan suaminya.


Kalau ditanya hatinya, tentu ada nama Ardan meski tinggal sisanya saja, selebihnya hatinya dia titipkan pada yang maha kuasa (Allah), dia pasrahkan namum teta meminta untuk dipilihkan takdir yang terbaik dariNya.


Saat ini hubungan bisnis dengan Hans mantan kakak kelasnya dulu membuatnya lebih sering bertemu dengan Hans, beberapa kali Hans menunjukkan rasa kekagumanya pada sosok Sera, tetapi bagi Sera bisnis tetap bisnis dirinya tidak mau mencampurkan urusan pribadi dan urusan kerjaanya.


Sera belum mau membuka hatinya, ada rasa trauma dan takut akan mendapatkan luka yang sama lagi.

__ADS_1


__ADS_2