
Usai acara, Sera segera berpamitan pulang, Hans langsung mengejar Sera keluar gedung, mendapati Sera sedang menuju sebuah mobil lalu Hans pun menghampirinya.
" Ser....udah mau balik ?" tanya Hans.
" Iya kak udah malem, takut anakku nangis kalu ditinggal lama " jawab Sera.
*Hah....anak?*
" Kenapa bingung ya? Hahaha....Sera udah punya anak kak, makanya buruan nikah nyusul dah punya anak, hehehe.....oke pamit ya kak, bye..." ucap Sera kemudian sambil berlalu meninggalkan Hans yang masih bengong kaget.
Setelah sadar Sera sudah pergi dari hadapannya, Hans pun menyalahkan dirinya, " Ogeb banget sih Hans bisa-bisanya loe naksir bini orang, otak loe dimana ogeb banget sih " ocehnya memarahi diri sendiri.
Hans berbalik masuk kedalam mobil miliknya kemudian memacu kendaraanya menunu rumah miliknya sendiri.
Namun ketika ditengah jalan dia menemukan mobil Sera terparkir didepan sebuah mini market, ada rasa penasaran didalam benak Han.
* Sera bilang dia single, tapi dia bilang dia punya anak? Maksudnya.... Dia single mom?*
Hans pun akhirnya ikut memarkirkan mobilnya disamping mobil Sera, kemudian masuk dan berpura-pura membeli sesuatu.
Ketika bertemu lorong yang didalamnya ada Sera, Hans pun segera ikut masuk dan asal mengambil barang yang ada dirak.
__ADS_1
" Kak Hans?....kan Hans beli pembalut buat siapa?" tanya Sera ketika melihat Hans memegang sebuah pembalut yang tadi diambilnya asal.
* Hah gawat ngapain ngambil ini sih*
Hans kebingungan lalu menjawab asal, " Ini bukannya tissue ya? ".
" Hah....kak dari gambarnya juga udah kelihatan, ini pembalut wanita, memangnya kak Hans wanita?" ledek Sera.
Hans menggaruk kepalanya yang tidak gatal tetapi untung mengurangi kecanggungannya.
Setelah selesai Sera segera membayar dikasir, tidak lupa dia membeli susu dan cemilan untuk anaknya.
*Apa benar Sera sudah memiliki anak? Kalau dilihat dari body nya sepertinya dia masih gadis...entahlah* batin Hans.
Dilain rumah, Ardan sedang uring-uringan dikarenakan dia melihat Sera tertawa dan makan bersama seorang pria dipernikahan rekan bisnisnya.
" Kenapa harus dia.....si pria cupu sahabat mantanmu, apa aku sebanding dengan si cupu, kenapa juga si cupu sekarang makin glow up?" ocehnya.
Foto Sera menjadi lawan bicaranya, yah foto pernikahan dirinya dan Sera masih terpasang rapi dikamar miliknya, bahkan posisi kamarnya pun masih sama seperti ketika Sera masih menjadi istrinya.
Rasanya Ardan enggan melupakan Sera, begitu banyak kenangan bersama Sera dikamar itu, kamar yang memiliki koneksi dengan kamar milik putrinya.
__ADS_1
Sesekali Ardan membuka pintu kearah kamar putrinya, disana kini selalu rapi,tidak ada lagi mainan berserakan, tidak ada bau minyak telon khas bayi setelah anaknya dibawa pergi oleh mantan istrinya.
Setelah kehilangan seseorang baru akan merasakan betapa berartinya orang yang berada disamping kita,yang menemani dari nol.
Ardan merasakannya, kehampaan,kehilangan,kekosongan, apalagi dia merasa malu bila harus berhadapan dengan mantan mertuanya sehingga jarang sekali dia menemui putrinya yang kini ikut Sera tinggal dirumah mantan mertuanya itu.
Walaupun Sera tidak membatasinya tetapi Ardan masih canggung kalau harus sering-sering datang dengan alasan putrinya, karena dia masih belum mampu menerima kenyataan perpisahannya meski kini sudah berjalan hampir setengah tahun.
Sedangkan hubungannya dengan Stela tidak ada kemajuan, apalagi setelah Stela jujur bahwa ketika berhubungan dengan Ardan dirinya masih memiliki kekasih yang sering datang ke tempatnya setelah Ardan pulang.
Adran ingin mengakhiri semuanya setelah anak Stela lahir dan melakukan tes DNA, kalau terbukti anak itu milik Ardan maka dia akan menikahi Stela, tetapi kalau tidak terbukti maka semuanya berakhir.
Kehidupannya benar-benar hancur setelah berpisah dengan Sera, hubungannya dengan orang tuanya menjadi renggang, suasana rumah yang tidak lagi hangat, hanya ada perdebatan dan argumen setiap berkumpul dalam satu waktu.
Mamanya yang dulu begitu hangat dan ceria kini lebih menutup diri, bahkan jarang sekali Ardan bisa menemui mamanya dirumah itu.
Mamanya lebih banyak menghabiskan waktu di butik tempat Sera mengelola bisnis bersama.
Tidak ada lagi rumah yang nyaman, hanya hawa dingin seperti kamarnya yang terasa semakin dingin setelah kepergian Sera, tidak ada lagi wanita yang menghangatkan ranjangnya, mengomelinya ketika handuk basah ditinggalkanya diatas kasur, menyiapkan bajunya setiap hari, bahkan sekedar menemaninya bermain.
Tidak ada ketukan tangan mungil milik putrinya yang selalu mengganggunya ketika sedang berduaan dengan istrinya, bahkan terkadang memonopoli istrinya.
__ADS_1
Merindu....Menyesal....Menyakitkan....
#kira-kira bakal gimana ya?