Menikah Remaja

Menikah Remaja
ENAM


__ADS_3

Setelah pembukaan sempurna, Sera dipindahkan keruang bersalin dengan ditemani oleh Ardan didalam, sedangkan Mama dan bundanya menunggu diluar.


" Ibu usianya berapa?" tanya perawat.


" 17 tahun sus" jawab Ardan mewakili istrinya.


Perawat menyiapkan perlengkapan lalu seorang dokter datang mulai mengintruksi Sera untuk ambil nafas tetapi justru nafasnya putus-putus.


" Ayo Ser...loe pasti bisa, gue ada disini Ser" Ardan menyemangati.


Sera terus mengejan sesuai instruksi dokter, air mata dan keringat bercampur jadi satu, Adran menggenggam erat jemari tangan Sera sambil terus menciumi kening istrinya,sebagian perawat menatap heran karena cowok berseragam SMA itu berulang kali menangis sambil menciumi istrinya yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.


" Ardaaaaaan sakit bangeeeet loe ngapain sih malah nangis bukan bantuin hah!" teriak Sera.


Ardan bingung mau membantu bagaimana, sedangkan dokter Wulan tersenyum karena tuan muda nya dibentak oleh istrinya.


" Loe...hah...hah...awas kalau ngga bantuin ngerawat ini anak! Aaaaaah sakit Daaaaaan....loe ngapa sih pakai ngehamilin gue? sakit hiks....hiks..." terdengar bentakan sekaligus isakan Sera menahan sakit luar biasa bagai meremukkan tulangnya.


Ardan bersimpuh memeluk Sera," Gue janji bakal sayangi kalian berdua, gue janji bakal jagain kalian berdua....gue mohon loe jangan teriak-teriak lagi Ser...fokus demi kelahiran anak kita, gue mohon Ser kali ini aja loe jangan ngebantah gue " ucap Ardan berlinangan air mata.


" Gue sayang loe Ser....."sambil mencium bibir pink Sera yang dari tadi terus mengomel.


Seperti mendapat kekuatan extra akhirnya Sera pun berhasil melahirkan bayi mungil berjenis kelamin perempuan dengan berat 2,9 kg dan panjang 45 cm.

__ADS_1


Ardan langsung sujud syukur, apalagi ketika menatap bayi mungil mengeliat mencari sumber kehidupannya ,sambil menatap mata sayu wanita muda yang kini sudah berstatus ibu muda itu.


" Makasih Ser udah melahirkan bidadari cantik buat gue....makasih Sera" ucap Ardan sambil mencium pucuk kepala Sera kemudian beralih ke putri kecilnya yang tampak sedang melakukan IMD, Ardan tertegun melihat sumber kehidupan anaknya yang selama ini dia saja belum pernah melihatnya lagi pasca peristiwa malam itu.


" Hay cantiknya Daddy....mimik yang pinter ya,Daddy sayang kamu dan Mommy" kemudian Ardan mencium pipi bulat putinya yang masih bergerak-gerak karena sedang menyusu.


Setelah dipindahkan keruang rawat,kedua nenek muda sibuk berebut untuk menggendong cucu pertama mereka,kedua kakek muda juga sibuk merencanakan perayaan untuk menyambut cucu mereka.


Sedangkan Sera tampak masih pucat dengan posisi setengah duduk sambil disuapi oleh Ardan, Sera menatap haru kedua orang tuanya tampak bahagia dengan kelahiran cucu mereka bahkan Sera sampai menitikkan air matanya.


" Loe kenapa Ser, Ada yang sakit lagi? perlu gue panggil dokter?" tanya Ardan khawatir.


Sera menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Ardan dengan tatapan penuh tanya, "Loe tadi ngomong apa diruang bersalin?".


" Ngomong apa?".


" Ck....yang tadi ".


" Yang mana Sera gue lupa ".


" Dasar badboy kadal...pasti mulut loe itu udah biasa ngomong begitu ke cewek-cewek korban loe makanya loe enteng banget ngomong kaya gitu ".


" Udah deh Ser loe itu bisa ngga sih kalau ngga ngomel sehari aja? kita lagi bahagia sekarang punya mainan baru"

__ADS_1


Plaaakk.....


Sera memukul lengan Ardan, " Enak aja loe kalau ngomong, itu anak gue bukan mainan, awas kalau sampe loe buat mainan ya!" ancam Sera.


" Lha bukannya anak gue? kan loe sering bilang itu anak gue" sergah Ardan.


" Gue yang hamil, gue yang ngelahirin, sakit jadi itu anak gue!".


" Nanti bikin lagi ya Ser biar masing-masing satu biar ngga berebut...yaa".


" Enak aja siapa juga yang mau hamil lagi, gue mau sekolah, gue juga mau kuliah bukan cuma loe yang mau mengejar mimpi ".


Ucapan menohok Sera membuat Ardan terdiam.


Kedua orang tuanya hanya menonton dari tadi pun menengahi mereka, " Dan...Ser ....ini dedeknya mau dikasin nama siapa? " tanya Mama Ardan.


Sera melihat kearah Ardan,begitupun Ardan yang selama ini memang belum mempersiapkan nama untuk anak mereka, terjenggit kaget bercampur bingung.


Akhirnya Sera membuka suara, " Saina Ma....Saina Mahendra Wijaya, cukup adil kan Ma, Pa, Yah, Bun? "lanjutnya.


Yang disebut pun menganggukkam kepalanya sambil berbinar.


" Hay Saina cucu grandpa...nanti harus sering ikut grandpa rapat ya karena biarpun kamu perempuan kamu lah pewaris Mahendra group" ucap Papa Ardan.

__ADS_1


Semua tampak bahagia.....


__ADS_2