Menikah Remaja

Menikah Remaja
TUJUH PULUH EMPAT


__ADS_3

" Sayang bukan aku nggak mau tapi pikirkan kandunganmu sayang " ucap Ardan.


" Kata mama bisa periksa dulu kok kalau dapat surat keterangan dari dokter ya baru boleh terbang " balas Sera.


" Iya nanti kita periksa dulu, tapi kalau nggak boleh terbang jangan maksain diri ya, aku janji pasti bakal ajakin kamu ke Turki kalau keadaan oke semua, dan urusan kerjaanku juga beres "tutur Ardan.


Sera hanya bisa mengangguk pasrah, Ardan yang melihat istrinya langsung mengelus kepalanya.


" Hey....mana Sera yang kuat, galak, kok sekarang cengeng tapi manis " goda Ardan.


Sera mencebikan bibirnya.


Ardan menjadi gemas langsung menciumnya.


" Ih soang tukang nyosor " sungut Sera.


" Biarin sama istri sendiri, sah lagi kalau belum sah beda lagi ceritanya ".


" Kaya kamu dulu yak yang main hamilin aku " celetuk Sera.


" Itu udah berlalu sayang, tapi kalau nggak gitu kita nggak bakal kaya gini lho sekarang, aku bisa pelukin kamu bebas apain kamu " seloroh Ardan sambil terus mempererat pelukannya.


" Argh...Sakit, kamu mau bikin aku mati " pekik Sera kesakitan.


" Maaf sayang kelepasan, abis enak pelukin kamu " Ardan nyengir.


" Kamu ih maunya pelukan mulu kemarenan kalau aku minta pelukin suka kabur-kaburan ".

__ADS_1


" Bawaan bayi sayang " seloroh Ardan ngasal.


Malam dini hari Sera terbangun, dia menginginkan suatu makanan, tetapi dia tidak tega untuk membangunkan suaminya.


" Duuuh kayaknya enak banget, tapi bagaimana ya, aduh nak kok kamu manja sih sama daddy kamu, kakak kamu dulu enggak kaya gini lho" ucap Sera sambil meraba perutnya yang mulai menonjol.


Sera tampak gelisah tidak dapat tidur lagi meski sudah mencoba memejamkan matanya.


Ardan yang tidurnya terusik karena Sera berulang kali membolak balik badannya mencari posisi nyaman agar bisa tidur kembali, namun tetap tidak berhasil.


Mendapati istrinya terbangun, Ardan pun terbangun, " Sayang kok nggak tidur? Kamu kenapa?" tanya Ardan.


Sera mengerjabkan matanya kemudian menatap suaminya, " Emmmm aku pengen makan rujak sayang, rujak kocok " jawab Sera.


Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Cari dimana yank udah jam segini, mana ada tukang rujaknya " ucap Ardan putus asa.


" Hah gimana cara bikinnya yank " Ardan kaget.


" Di kulkas ada buah nggak ayo kita lihat nanti aku ajarin " ajak Sera ke suaminya.


Dengan terkantuk Ardan mengikuti langkah istrinya ke dapur, Sera berjongkok didepan kulkas mencari buah yang dia inginkan untuk menjadi isian rujak kocok.


Ditanggannya kini ada apek, pear, kedondong dan jambu kristal, dia pun menyuruh suaminya untuk mengupasnya, lalu Sera mencari bumbu lainnya.


Setelah semua siap, Ardan mulai meracik mengikuti instruksi istrinya, cukup simple karena tidak perlu mengulek bumbu hanya ditambahkan garam, gula dan bubuk cabe ke dalam buah yang sudah di kupas dan dipotong lalu ditutup dan dikocok.


Jadilah rujak kocok seperti keinginan istrinya, mata Sera berbinar, senyum merekah ketika menerima semangkuk rujak kocok buatan suaminya.

__ADS_1


" Makasih sayang kamu terbaik, ini enak banget " ucapnya.


Ardan mencium pipi istrinya yang mulai agak berisi, " Sama- sama sayang, makasih sudah mau bersusah payah mengandung benihku, rasanya rujak ini tidak sebanding dengan pengorbanan kamu yank ".


Sera hanya manggut-manggut sambil menikmati rujaknya.


" Kamu mau cobain nggak ini enak lho ".


" Enggak sayang, buat kamu saja ".


" Iiih nyesel kamu nggak cobain ".


Ardan pun mengambil sepotong buah lalu memasukkan kemulutnya.


" Kok enak, bagi dong sayang aku mau " ucap Ardan.


" Nggak ada ya, kamu cuma boleh nyobain tapi bukan berarti kamu boleh minta, bikin lagi aja sana " tutur Sera.


* Istri sama anak kok bisa sama-sama pelit * gumam Ardan.


" Apa? ".


" Apaan... enggak kok sayang ".


" Awas ya kalau ngatain aku dari dalam hati, aku bakal tahu " ancam Sera.


Ardan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanda bingung.

__ADS_1


....................


__ADS_2