Menikah Remaja

Menikah Remaja
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

Hubungan Ardan dan Sera tampak mengalami kemajuan, kini Sera sering melayani suaminya dalam banyak hal, bahkan untuk sekedar hal kecil Ardan selalu membutuhkan istrinya.


" Sayang mau minum dong ".


" Ambil aja orang cuma disamping kok ".


" Maunya kamu yang ambilin ".


" Manja banget sih, Saina aja nggak gitu-gitu amat " sungut Sera sambil berjalan mengambilkan minum untuk suaminya.


" Makasih sayang, bidadariku ".


" Kamu kenapa sih milih kerja dari rumah, sana ih ke kantor aja, pusing aku kalau kamu dirumah terus " protes Sera yang selama seminggu ini dikurung oleh suaminya diruang kerjanya, dia dilarang ke butik, dia harus menemani Ardan mengerjakan pekerjaannya yang dia dapatkan melaluin email para karyawan.


" Kamu bosen ya ".


" Bangettttt...bosennya pengen kerja, pengen keluar bukan cuma dirumah mulu ".


" Eeeem nanti ya tunggu kalau aku sudah nggak mampu kasih nafkah buat kamu dan anak kita ".


" Kamu..." Sera melotot.


" Sini aku jelasin, duduk sini dekat aku ".


" Ogah ".


Ardan menarik tangan Sera untuk duduk dipangkuannya, " Aku boleh minta sesuatu nggak ?" tanya Ardan manja.


" Apa ".


" Aku pengen punya anak lagi dari kamu sayang, aku berharap bisa memiliki banyak keturunan dari kamu ".


" Emang aku mesin? Banyak- banyak".


" Kamu mau nggak kita program lagi ?" tanya Ardan hati-hati.


Sera tampak berfikir, hatinya mulai bimbang takut kalau nantinya Ardan akan meninggalkan dirinya lagi, takut nantinya dia tidak secantik sekarang kalau badannya melar.

__ADS_1


" Kamu mau selingkuh lagi nggak?" tanya Sera sarkas.


Ardan menelan salivanya mendapat pertanyaan dari istrinya.


" Nggak....nggak akan aku mengulang kesalahan yang sama lagi, aku janji Ser " ucap Ardan meyakinkan istrinya.


Sera bangkit dari pangkuan suaminya kemudian menuju ke arah pintu sambil berkata, " Kita lihat satu minggu kedepan soalnya aku lagi dapat tamu bulanan " Sera segera keluar lalu menutup pintu.


Ardan melongo kemudian bersorak sambil berjoget, dia tidak menyangka kesabarannya berbuah manis, akhirnya Sera mau menerimanya walaupun masih menunggu seminggu lagi untuk dapat memiliki Sera seutuhnya lagi.


Senyum merekah terus terlihat dari wajah Ardan yang biasanya suram itu.


Sang mama yang baru pulang dari butik mendapati putra semata wayangnya sedang memasak sambil bersenandung tampak heran pasalnya selama ini anaknya paling anti terjun langsung kedapur.


" Tumben masak Dan, Sera kemana?" tanya mamanya.


" Sera lagi diatas nemenin Saina belajar ma " jawab Ardan tanpa melihat kearah mamanya karena sibuk memotong sayuran.


" Masak apa kamu " tanya mama lagi sambil mengambil gelas.


" Mama mau minum, sini biar Ardan ambilin, mama duduk saja oke ".


" Banyak amat sih tumben " tanya mama heran.


" Mumpung Ardan mau masak sih ma ".


Mamanya makin heran, " Dapat apa kamu sampai jadi baik kaya gini ".


" Ada deh, mama kepo " jawab Ardan dengan nada tengilnya.


" Dasar bocah semprul ditanya baik- baik malah bilang kepo " hardik mamanya sambil melempar sisa gigitan kue yang sedang dinikmatinya.


" Mama apaan sih, udah mama mandi sana bau tahu ma, pulang kerja bukannya mandi malah kepoin anaknya ".


Mama tidak terima dibilang kepo langsung mengambil sayuran yang sedang dipotong oleh Ardan dan melemparkannya secara brutal kearah Ardan, adegan saling kejar pun tak terelakkan.


Sera yang baru datang pun kaget.

__ADS_1


" Ardan, Mama, ini kenapa berantakan banget sih?".


Mereka berhenti sambil saling mengatur nafas.


" Mama gangguin aku lagi masak sayang " Ardan mengadu pada Sera.


" Enak saja, siapa yang gangguin kamu, yang ada kamu itu anak kurang ajar ditanya malah ngatain mamanya kepo " mama membela diri sambil ngos-ngosan.


Sera hanya mengelus dada, tidak heran suaminya bersifat ajaib ternyata turunan dari mama mertuanya.


" Ardan beresin, mama istirahat dulu saja, nanti Sera yang bantuin Ardan masak ma " ucap Sera agar kedua orang dihadapannya terpisah.


Sang mama berlalu meninggalkan dapur, sementara mood Ardan yang tadinya masih semangat langsung terjun drastis.


" Kamu kapan sih dewasanya, aku tuh pusing tahu, kamu bilang mau masak kan bukan berantakin dapur " omel Sera.


" Mama yang mulai kok ".


" Kalau kamu nggak yang mulai pasti mama nggak akan marah, lagian dosa ngatain mamanya kepo, kamu ini bener-bener ya seneng banget bikin orang naik darah "cecar Sera sambil membersihkan dapur yang berantakan karena ulah suami dan mertuanya.


" Iya maaf, nggak aku ulangi deh ".


" Selalu gitu, maaf....maaf tapi diulang terus, ini udah kotor semua nggak bisa diolah, buang semua biar aku yang masak ".


Ardan menurut saja pada istrinya dari pada nantinya Sera semakin marah padanya.


Sera melanjutkan memasak menggantikan suaminya dari pada seisi rumah kelaparan menunggu masakan yang hanya tinggal cerita itu.


Sup ayam, cincang daging, nugget dan dadar telur telah siap dimeja, semua anggota keluarga berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.


" Mommy masakan mommy enak " celetuk Saina sambil mengacungkan jempol.


Sera tersenyum mendengar pujian putri kecilnya.


Setidaknya hasil dari dia belajar memasak selama ini membuahkan hasil dan tidak mengecewakan.


Bahkan mertuanya kini sering memuji masakannya.

__ADS_1


..............


__ADS_2