
Hari kepulangan Sera dan Saina terdengar sampai telinga Ardan, kini dirinya bersiap untuk menyambut keduanya dirumah orang tua Sera.
Sedari pagi dirinya mempersiapkan sambutan kecil demi menarik hati Sera dan Saina.
Suara deru mesin mobil masuk ke halaman rumah orang tua Sera, itu tandanya yang ditunggu-tunggu sudah datang, Ardan segera bangkit berlari ke depan pintu terapi justru pemandangan yanag membuat kepalanya mendidih yang pertama kali dilihatnya.
Sera berjalan sambil mendorong koper sementara Saina terlelap dalam gendongan Hans, mereka beriringan masuk ke dalam rumah tetapi dicegat oleh Ardan didepan pintu.
" Oh ini yang namanya perjalanan bisnis " sindir Ardan.
Dia merebut putrinya dengan paksa sehingga Saina yang kaget, terbangun lalu menangis.
" Bisa nggak sih ngga usah kasar? " hadik Sera.
" Terserah aku, ini anak aku sendiri !" jawab Ardan sengit.
" Enak saja kalau ngomong, aku yang hamil, aku yang melahirkan, main ngaku , siniin anak aku " Sera tak kalah sengit.
Saina terus menangis setelah berhasil direbut oleh mommynya, Sera mengusir Ardan, tetapi Ardan tidak mau pergi, dia tidak sudi kalau Hans masih berada disamping Sera.
Setelah Sera menenangkan Saina dan membawanya istirahat, Sera murka pada mantan suaminya itu.
" Kamu punya otak nggak sih, anak lagi tidur diganggu, sikap kasar kamu justru membuat Saina takut sama daddynya sendiri, ngerti nggak sih hah! " bentak Sera.
" Maksud kamuyang lembut itu kayak siapa? Kayak cowok baru kamu ini hah? jangan- jangan Saina hanya kamu jadikan kedok untuk menutupi perbuatan mesum kalian, iya?! " oceh Ardan tidak kalah sadisnya.
Plaaaakkkk.....
Sebuah tamparan mendarat dipipi Ardan, Sera tidak terima mendengar tuduhan Ardan yang tidak berperasaan, apalagi Hans berada disana dan melihatnya.
" Aku tidak sehina dirimu yang sesuka hati mesum tanpa sadar statusnya, apa kamu pernah berfikir bagaimana hubungan kita berakhir? Itu karena sikap dan sifat kamu yang arogan belum lagi hobby selingkuh " Sera berlinangan air mata mengeluarkan unek-uneknya.
Hans berusaha menenangkan Sera tetapi ketika tangannya terulur, sebuah bogeman mentah mendarat di pipinya.
__ADS_1
Buuuughhhhttt.....
Ardan memukul Hans seolah tidak mengijinkan Hans menyentuh Sera.
" Kak Hans....Kakak tidak apa-apa kan?" Sera panik sambil membantu Hans bangun.
" Tidak apa Ser, kakak pamit dulu ya maaf kalau sudah membuat kalian bertengkar " ucap Hans kemudian berlalu pergi dari rumah orang tua Sera.
" Puas kamu hah? puas sudah menyakiti orang yang tidak bersalah, kamu melimpahkan kekesalan kamu ke orang yang salah, kamu bersikap seolah aku istrimu yang berselingkuh?kamu cemburu?, sadarlah Ardan Mahendra, kita sudah tidak ada hubungan apapun, mau sampai kamu menangis darah aku tidak sudi berbaikan sama kamu lagi, sekarang keluar dari sini dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi, bawa juga kado-kado sialan ini keluar, cuma bikin sampah ".
Sera meninggalkan Ardan setelah memaki dan mengusirnya, sedangkan Ardan terduduk lesu, dia menyesal sudah bertindak kasar karena terbakar api cemburu.
Tujuan dia datang untuk menarik perhatian Sera tetapi malah memperburuk hubungan keduanya.
Bahkan kini dia ditinggalkan sendiri.
Dengan langkah gontai Ardan membereskan kekacauan yang diperbuatnya dengan bantuan bibi, setelah beres dia pun melangkah keluar dari rumah mantan mertuanya itu.
" Sudah bun, sekarang sudah masuk kamar buat istirahat " jawab Ardan santai seolah tidak terjadi apapun.
" Oh begitu, maaf ya tadi bunda tinggal ke kelurahan soalnya Ayah minta diambilkan berkas " ucap Bunda.
" Iya bun tidak masalah, Ardan pamit ya bun, asssalamu alaikum" pamit Ardan.
" Waalaikum salam, hati-hati Dan ".
Ardan melambaikan tangan kemudian meninggalkan kediaman Wijaya.
Rasanya berat bagi Ardan untuk melangkah meninggalkan rumah mantan mertuanya dengan masalah yang masih belum terselesaikan, tetapi karena Sera mengusirnya, Ardan merasa gengsi untuk memohon pada wanita pujaanya itu.
" Ogeb banget sih loe Dan, bukannya selow malah maen baku hantam citra loe makin hancur, mana didepan si kunyuk sialan itu" Ardan mengoceh menyalahkan diri sendiri.
Sedangkan Sera, tadinya dia merasa hampir terbuai, Ardan masih peduli padanya tetapi ketika Ardan malah menunjukkan sifat arogannya membuat Sera kecewa dan kesal, dirinya semakin yakin bukan Ardan tempatnya kembali.
__ADS_1
Entah bagaimana nanti hatinya berlabuh tetapi untuk sekarang rasa kecewa, kesal, marah menjadi satu didadanya, kepala rasanya mau pecah melihat mantan suaminya berlaku demikian.
Seandainya Ardan biasa saja, pasti dia tidak akan mengusir daddy dari anaknya itu, apalagi ini adalah kali pertamanya dia berlaku kasar pada Ardan, karena sebelumnya biarpun Ardan selingkuh dia tidak pernah memaki Ardan sampai membanting barang, tapi kali ini Ardan sudah kelewatan menurutnya sampai-sampai ponsel Sera hancur karena diantukkan pada meja kayu jati diruang tamu.
Sera menuju kamar mandi, dengan pakaian masih lengkap dia mengguyurkan dirinya dibawah shower, air matanya deras menetes, setidaknya dengan menangis dirinya dapat mengurangi sedikit amarahnya.
Setelah mandi, dia mengganti pakaian santai kemudian duduk di balkon sambil mengecek hasil kerjanya, ternyata sudah ada pesanan baru dari cuntomernya, senyuman datang dari bibir tipisnya, kemudian dia mulai membalas beberapa email yang masuk salah satunya email dari Hans.
* Sorry, ponsel kamu tidak aktif makanya aku mengirim email, bagaimana keadaanmu, maaf sudah membuat keributan diantara kalian berdua*
Pesan email dari Hans.
Sera hanya membacanya tetapi tidak membalas karena bingung mau membalas apa, setelah itu dia mematikan laptopnya.
Memandang taman didepan rumahnya, jalanan dan rumah tetangga yang sedang sibuk dengan aktifitas mereka masiing-masing.
" Mommy....mommy.....".
Suara Saina memanggilnya dari tempat tidur.
Semenjak kembali kerumah orang tuanya, Saina tidak memiliki kamar khusus jadi dia tidur berdua dengan mommynya.
Sera menolah kearah putrinya berada, " Hay sayang....sini mommy di balkon".
Saina turun lalu menghampiri mommynya, " Daddy jahat ya mom".
Sera kaget dengan perkataan putrinya, karena selama ini biar bagaimanapun Sera tidak pernah mengatakan tentang kejelekan Ardan, bahkan dia selalu berkata bahwa daddy adalah ayah yang baik untuk Saina.
Tetapi hari ini semua ditepis oleh Saina, kejadian beberapa jam yang lalu membekas dimemori anak itu, bagaimana daddynya menarik tangannya sampi berpindah dari gendongan uncle Hans ke daddynya dengan cara dipaksa.
Beruntung mommynya segera merebutnya lalu menenangkannya, tetapi dengan mendengar dan melihat orang tuanya adu mulut mungkin Saina menjadi tahu bahwa keluarganya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
#Author agak demam nih, dikit2 dulu ya....minta doanya author biar tetap bisa up tiap hari meski telat#
__ADS_1