Menikah Remaja

Menikah Remaja
ENAM PULUH SEMBILAN


__ADS_3

" Ibu Sera Wijaya " panggil perawat.


Hari ini jadwal Sera memeriksakan kandungannya, dengan didampingi oleh suami dan anaknya Sera berjalan menuju ruang periksa di dokter langganan keluarga Mahendra.


" Hai cantik apa kabarnya ?" sapa dokter kandungan keluarga Mahendra.


" Kabar baik dokter " jawab Sera.


" Mom yang disapa itu Saina bukan mommy " protes Saina tidak terima mommynya dibilang cantik.


" Eh iya ini si cantik cucuku apa kabar ?" saoa dokter pada Saina.


" Telat, Saina udah ngambek " jawab Saina ketus.


" Kakak sudah besar lho masa masih ngambekan " tegur Ardan.


Saina tetap manyun karena iri pada ibunya.


" Udah biarin kakak marah, paling nanti adiknya nggak mau ketemu " ancam Sera.


" Iiih mommy kakak mau lihat dedek mom " rajuk Saina.


Akhirnya Saina sudah tidak merajuk lagi, acara pemeriksaan pun berjalan lancar, hasil dari pemeriksaan kandungan Sera normal dan dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Ardan dan Sera sangat bersyukur karena kondisi caon anak kedua mereka dalam keadaan sehat.


" Akhirnya anak keduaku mau nunjukin dirinya nggak ngumpet lagi " celetuk Ardan sambil menjalankan mobilnya.


Sera tersenyum sambil mengelus perutnya yang mulai menonjol kecil, " Aku juga senang, anak kedua ini dipenuhi kasih sayang dari oma,opanya, ayah bundanya, daddynya, mommynya dan terutama kakaknya yang cantik" ucapnya.


" Semoga anak-anak kita selalu menjadi anak yang bahagia selamanya " imbuh Ardan.


Sedangkan Saina masih santai menikmati es cream yang dia dapatkan dari hasil merengek ketika melewati kedai es cream yang berada didepan rumah sakit.


Tiga puluh menit berlalu tidak terasa mereka sudah sampai dirumah, kedua orang tua Ardan sedang pergi jalan-jalan makanya rumah sepi apalagi sikecil Saina sudah terlelap dibangku belakang.


" Dad, kakak bobo tuh ".


Sera berjalan masuk ke dalam rumah, dia segera merebahkan diri disofa ruang santai karena badannya terasa lemas.


Sedangkan Ardan yang baru saja menidurkan anaknya dikamar segera menghampiri istrinya.


" Kenapa sayang, capek ya " tanya Ardan lembut sambil memijit pelan kaki Sera.


Sera memejamkan kedua matanya menikmati pijitan suaminya sambil mengangguk, " Entah mengapa dikehamilan kedua ini rasanya sangat berbeda dengan waktu hamil kakak, badanku gampang lelah dan lemas " ucap Sera.


Ardan memandang wanitanya, " Yang sabar ya sayang, sebisa mungkin aku akan membantu meringankan kelelahan kamu, masih ada tujuh bulan lagi sayang " ucap Ardan sambil terus memijit kaki istrinya.

__ADS_1


" Kamu pasti juga lelah, sudah biarkan saja tidak usah memijit kakiku, duduklah Dad biar aku bisa rebahan dipaha kamu " pinta Sera.


Ardan menuruti permintaan istrinya, sungguh dia mengikuti apapun yang diinginkan oleh istrinya tanpa mengeluh sangat berbeda dengan Ardan yang dulu, dia kini begitu sangat memperhatikan keluarganya terutama anak dan istrinya.


Bahkan Ardan sering mengerjakan pekerjaannya dari rumah dari pada ke kantor karena istrinya yang tidak mau ditinggal, dalam satu minggu paling banyak hanya 4 hari dia ke kantor itupun tidak full hanya ketika ada meeting penting.


" Sayang kapan kita ke luar negeri, liburan gitu biar sesekali kita liburannya nggak cuma di Indonesia aja " celetuk Sera tiba-tiba.


" Kamu mau kemana sayang ?" tanya Ardan sambil membelai rambut istrinya.


Sera tampak berfikir sambil menggigit jarinya.


" Kalau ke Turki gimana, biar kaya artis-artis Dad kalau hamil pada jalan-jalan ke Turki " jawab Sera.


Ardan tampak berfikir sejenak, bukan masalah keluar negerinya, tetapi untuk ke Turki itu sangat memakan waktu.


Sera melihat raut wajah suaminya langsung bisa membaca bahwa pasti suaminya tidak setuju.


" Kalau nggak mau ya udah aku bisa pergi sendiri atau sama kakak " celetuk Sera seraya bangkit dari pangkuan suaminya.


Sudah dipastikan Ardan akan mendapat hukuman hanya karena lama menjawab pertanyaan istrinya, entah kenapa salah sedikit saja sekarang istrinya lebih sensitif.


.................

__ADS_1


__ADS_2