Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Nonton Film


__ADS_3

Sudah senin lagi.Lala sibuk sekali dengan berbagai pekerjaan, laporan kinerja pegawai, penerimaan pegawai magang, masalah penggajian, dan masih banyak lagi yang seolah tidak ada habisnya.Entah pekerjaan itu memang tidak bisa ditunda atau Lala sengaja menyibukkan diri agar tidak terus kepikiran apa yang orang tuanya bicarakan kemarin.Setiap teringat pembicaraan itu muncul rasa bersalah dalam hatinya.


Seandainya Lala sudah menikah mungkin dia tidak akan menjadi beban pikiran kedua orang tuanya.Mungkin saat ini mereka tinggal menikmati hari tua mereka tanpa harus memikirkan dirinya yang masih belum menikah.Di lingkungan tempat tinggalnya wanita biasanya menikah rata-rata di usia 23-25 tahun.Saat ini Lala hampir 30 tahun dan belum menikah.Tentu saja itu menjadi beban pikiran bagi orang tua Lala.Mereka tidak mau putri tercinta mereka dicap sebagai perawan tua.


Siang harinya Lala meminta Adit makan duluan ketika pria itu mengajaknya makan siang bersama.Lala hanya istirahat sebentar kemudian kembali lagi ke ruangannya.Dia melanjutkan pekerjaannya hingga waktunya pulang.


Seperti biasa, sebelum pulang Adit mendatangi Lala di ruang kerjanya.


"Mau kemana habis ini?" Adit mulai menginterogasi.


"Aku mau ke bioskop.Sudah lama aku ngga nonton film."


"Sama siapa?"


"Sendiri." Lala menjawab pendek.


"Aku temani tapi dengan satu syarat."


"Yang mau ikut kan kamu bang, kenapa kamu juga yang mengajukan syarat?" Lala menyolot tidak terima.


"Ngga usah protes! Mau ngga?"


"Iya.. iya.. apa syaratnya?" Lala mengalah saja karena berdebat dengan Adit tidak akan ada habisnya.


"Syaratnya kita nonton di rumahku." Adit memang memiliki mini bioskop di rumahnya.


Lala hanya melongo, tidak habis pikir dengan orang di depannya itu.


"Sama aja nonton sendirian bang."


"Ngga sendiri lah, kan sama aku.Gimana? Kamu setuju kan?"


Lala berfikir sebentar kemudian memberikan jawaban.


"Oke... tapi aku juga mengajukan syarat."


"Apa syaratmu?"


"Aku yang pilih film nya."

__ADS_1


"Terserah yang penting bukan film korea."


"Kenapa ngga boleh film korea?"


"Karena aku merasa seperti menyaksikan diriku sedang main film," Adit menjawab dengan sombongnya.


Lala hanya mendengus kesal.


"Curang sekali orang ini," gerutunya dalam hati.


Mereka berjalan menuju parkir basemen.Adit meninggalkan mobilnya di sana dan memilih pulang bersama Lala menggunakan sepeda motornya.Sepertinya itu hanya modus Adit agar dia bisa terus bersama Lala.Betapa hati Adit sangat bahagia walaupun hanya bermotor-motoran ria bersama Lala.


Sesampai di rumah Adit, Lala segera menuju toilet untuk mengganti seragamnya dengan pakaian kasual.Lala selalu mambawa baju ganti di dalam tasnya.Demikian juga Adit.Dia sudah mengganti bajunya dengan baju santai.Mereka segera masuk ke ruang bioskop.Isinya hampir sama seperti bioskop tapi jauh lebih kecil.Mungkin hanya bisa di isi enam sampai sepuluh orang.Sementara kursinya lebih mirip sofa tetapi panjang.Tidak lupa Adit meminta salah seorang pembantunya untuk menyiapkan camilan untuk menemani mereka nonton film.


Mereka sudah mulai serius menikmati film.Lala memilih film komedi romantis.Adit duduk bersandar pada sofa, lengannya terbuka.sementara Lala duduk di sampingnya,menyandarkan kepalanya di lengan Adit.Mereka benar-benar sudah seperti orang pacaran.Sesekali Lala tertawa jika adegannya lucu dan Adit hanya tersenyum saja.Adit tidak begitu memperhatikan filmnya.Dia lebih sering mencuri-curi pandang ke arah Lala,memperhatikan ekspresinya.Dia tersenyum karena melihat Lala tertawa bukan karena filmnya.


Hingga pada adegan sedih dimana pemeran wanita menangis karena menyaksikan kekasihnya selingkuh.Adegan ini mengingatkan Lala akan apa yang pernah dia alami.Lala mendongak menatap Adit.Adit juga menatap Lala.Mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.Adit merengkuh tubuh Lala ke dalam pelukannya kemudian mencium bibir Lala dengan lembut.Lala tidak menolak ataupun menghindari ciuman dari Adit.Tapi dia juga tidak membalas ciuman itu.Adit memperdalam ciumannya.Lala mulai menikmatinya tapi kemudian dia tersadar dan mendorong tubuh Adit pelan agar dia melepaskan ciumannya.Adit melepaskan bibirnya dari bibir Lala.Mata mereka saling tatap kembali.Tidak ada rasa canggung maupun kikuk diantara keduanya.


"Bang... jangan lakukan itu lagi," Lala bicara pelan masih dalam pelukan Adit.


"Kenapa? Kamu tidak suka?"


"Itu yang aku inginkan."


"Aku tidak tau apa yang sekarang kurasakan terhadap abang.Yang jelas aku merasa aman, aku merasa ada yang melindungi saat aku bersamama mu.Aku tidak ingin lebih.Aku ingin tetap seperti ini."


"Aku selalu teringat kamu, selalu ingin dekat denganmu, bahkan saat aku sedang bersama pacar-pacarku pun masih teringat kamu.Aku baru sadar aku sudah jatuh cinta sama kamu.Aku mencintaimu Viola." Adit mengatakannya dengan berbisik di telinga Lala.


Adit meraih dagu Lala dengan satu tangannya sementara tangan yang lain masih memeluk tubuh Lala.Dia ingin menciumnya lagi.Tapi kali ini Lala menolaknya.Dia meletakkan telunjuknya di bibir Adit.


"Cukup bang... jangan buat hubungan ini menjadi rumit.Aku ingin kita tetap seperti kemarin, seperti biasanya."


Lala menggeliat mencoba melepaskan pelukan Adit tapi Adit justru mempererat pelukannya.


Suasana menjadi melow untuk pasangan yang tidak jelas ini.


"Tidak bisakah kamu menjadi pacarku? Kamu tau aku belum pernah sekali pun menyatakan perasaanku pada seseorang."


"Tidak.Titik!" Lala menjawab tegas tapi diiringi senyum "hubungan kita tidak akan berhasil.Orang tuamu tidak akan merestui hubungan ini.Selain itu kamu juga tidak bisa hidup dengan satu wanita.Nantinya hanya aku yang akan tersakiti.Sekarang lepaskan aku."

__ADS_1


Adit melepaskan pelukannya.Kemudian Lala duduk kembali ke posisi semula.


"Kamu tidak mau mencobanya?" Adit masih belum menyerah.


"Mencoba apa?"


"Menjadi pacarku."


"Bang.. aku sudah cukup tua untuk mencoba-coba hubungan baru.Ini sudah bukan waktuku untuk sekedar berpacaran.Dan aku yakin kamu belum siap untuk menikah."


Adit terdiam.


"Cukup seperti ini saja... Aku anggap ini tidak pernah terjadi.Aku ingin kamu tetap seperti bang Adit yang biasanya."


Adit masih terdiam.Matanya tidak bisa lepas dari Lala.Dia tidak habis pikir bagaimana bisa gadis di depannya ini menolak cintanya.


"Kuharap bang Adit tidak marah." Lala bicara dengan mengeluarkan senyum centilnya.


"Kenapa aku harus marah?" Adit sudah memasang tampang jutek nya.


Suasana sudah kembali normal.Permelowan sudah berakhir.


"Karena aku sudah menolak cintamu," Lala bicara dengan santai.


"Lagian kalau aku mau jadi pacarmu, aku jadi pacarmu yang ke berapa?" nada bicara Lala sudah berubah menjadi sewot.


"Akan kuputuskan mereka semua kalau kamu mau jadi pacarku."


"Kamu pasti juga bilang begitu pada mereka semua, kamu emang jahat bang." Lala bicara sambil bergidik seolah menghina Adit.


Tapi ini justru membuat Adit semakin gemas sama Lala.Tidak ada perempuan yang berani seperti itu sama dia selain Lala.


"Sudah ku bilang mereka yang memohon untuk jadi pacarku.Jangan memojokkan ku terus," masih dengan wajah juteknya.


"Inget bang.. kena karma loh."


Adit terdiam.


"Aku bahkan sudah merasakan karma itu sekarang.Aku tergila-gila padamu dan kamu menolakku.Seperti gadis-gadis itu tergila-gila padaku dan aku menolak mereka."

__ADS_1


__ADS_2