
Lala menghidupkan motornya.Dia tidak peduli dengan para penjahat yang tadi hendak menculiknya.Dia juga tidak peduli dengan teman-teman Juna yang sekarang mengejek Juna setelah mereka melihat sendiri Lala menampar Juna.Beberapa tahun berpacaran dengan Juna membuat Lala hafal semua teman Juna, termasuk mereka ini.
"Woi ... La, teman-temanmu ini mau diapain?" teriak salah seorang teman Juna sambil menunjuk para penjahat yang kini sudah tidak berdaya.
Lala tidak menjawab.Dia hanya mengacungkan jari tengahnya kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.Teman-teman Juna justru tertawa.
"Gokil lo La ... " ucap salah satu dari mereka.
"Heh Juna ... cewek lo ngga ada duanya!" sahut yang lain.
Lala tidak mempedulikan mereka semua.Dia mengendarai motornya dengan cepat agar segera sampai rumah.Gara-gara para penjahat itu Lala jadi telat pulang.Bapaknya pasti cemas menunggunya.
Seperti biasa, Lala masuk rumah melalui garasi yang langsung terhubung dengan dapur.Lala tidak kaget melihat bapak dan ibunya masih di dapur menunggunya pulang.
"Kenapa sampai jam segini baru pulang Viola?" tanya Pak Fajar datar.Dia belum melihat luka di dagu Lala yang masih berdarah.
"Aku tadi jatuh Pak.Untung ada yang lewat dan nenolongku tadi," jawab Lala sambil menunjukkan dagunya.Dia tidak ingin menceritakan yang kejadian sebenarnya kepada orang tuanya.
"Kamu ngga apa-apa kan Nak? Apa ada yang sakit?" tanya Bu Mieke panik.
"Ngga apa-apa Bu ... hanya luka kecil ini saja," jawab Lala sambil menunjukkan dagunya.
"Gimana kejadiannya?Kenapa kamu bisa jatuh?" tanya Pak Fajar lagi.
"Tadi ada mobil yang berhenti mendadak di depanku, jadi aku ngerem mendadak juga," terang Lala.
"Terus pengemudi mobil itu gimana? tanggung jawab ngga?" sahut Ibunya lagi.
__ADS_1
"Ya ngga lah Bu, kan aku jatuh sendiri ini jadinya.Sudah ya Pak ... Bu .. Aku ke kamar dulu mau mengobati lukaku."
"Ya sudah sana, besok kalau masih ada yang sakit mending di bawa ke rumah sakit aja."
"Iya Pak ...." jawab Lala sambil berlalu meninggalkan Bapak Ibunya di dapur.Dia sengaja tidak ingin berbincang lebih jauh dengan orang tuanya untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut.
Lala sudah berdiam di dalam kamarnya.Perasaannya berkecamuk.Syok karena ada orang yang tiba-tiba ingin berbuat jahat padanya, juga perasaan tidak menentu saat melihat Juna setelah sekian lama tidak ada kabarnya.
Lala yakin orang-orang itu adalah suruhan Nyonya Andreas.Bertahun-tahun dia melewati jalan yang sama belum pernah sekalipun terjadi kejahatan di tempat itu.Dan Lala di serang orang-orang tidak di kenal setelah bertemu Adit.Tidak mungkin itu sebuah kebetulan.Ditambah lagi Juna yang tiba-tiba saja lewat dan menyelamatkannya.Apakah ini kebetulan yang mutlak?
Andai saja dia bertemu dengan Juna di kesempatan yang berbeda pasti akan lain juga ceritanya.Entah kenapa Lala tidak bisa sepenuhnya membenci pria itu.Ada sedikit kerinduan di hatinya, ada rasa sejuk saat melihat wajahnya.Apalagi saat tadi melihat Juna panik melihat keadaannya, rasa cintanya muncul kembali tanpa diminta.Seandainya tadi dia lebih lama di sana, pasti dia akan jatuh lagi dalam pelukan Juna.Hatinya akan luluh dengan senyum Juna saja.
Lala merebahkan badannya di tempat tidur.Dia mengingat pertemuannya dengan Adit.Lala kasihan melihatnya.Betapa pria itu sekarang terlihat begitu merana.
Lala iseng membuka hpnya, ternyata ada pesan masuk.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"
"Apa pedulimu?" balas Lala.
"Tentu saja aku peduli."
"Kamu sudah bukan siapa-siapa bagiku."
"Tapi kamu tetap kekasih bagiku."
"Begitukah? Kekasih macam apa yang berbulan-bulan tidak ada kabarnya? Kekasih macam apa yang menghilang setelah dimintai keseriusan? Dan kamu masih bilang aku kekasihmu?"
__ADS_1
Lala kemudian membuka galeri videonya.Dia mengirimkan video dimana Juna sedang bersama wanita lain waktu itu.Dan sepertinya Juna sudah melihat video yang dia kirim.
"Dari mana kamu dapatkan video itu?"
"Apa itu penting bagimu? Apa kamu sudah kehabisan stok wanita penghibur makanya kamu ingat aku lagi?"
"Tidak ... tidak seperti itu.Jangan salah paham."
"Aku merekamnya sendiri, aku berdiri di tepat depan matamu waktu itu.Oh ... kamu pasti tidak sadar ada aku karena kamu sedang sibuk dengan pe**curmu itu."
"Tidak ... kamu salah paham sayang.Ayo kita ketemu aku akan menjelaskan semuanya."
"Sudah tidak perlu! Tidak penting lagi buatku.Dan jangan panggil aku 'sayang' karena aku bukan siapa-siapamu lagi."
"Kamu masih kekasihku, sampai kapanpun!"
"Tidak! Aku akan segera menikah!"
"Kamu pasti hanya menakut-nakutiku."
"Apa empat tahun menunggumu masih kamu anggap main-main bagimu? Bagaimana dengan semua pesan yang ku kirim dan tidak satupun ada balasan darimu? Dan sekarang kamu bilang aku masih kekasihmu? Hatimu pasti terbuat dari batu! Jika mati bisa membuatmu tidak menyakitiku lagi, maka aku berharap kamu mati secepatnya!"
Hp Lala kemudian berdering, Juna terus menelfonnya berulang kali tapi Lala mengabaikannya.
"Kata-katamu sangat jahat!" Juna mengirim.pesan lagi.
"Oh ya ...? Bagaimana dengan sikapmu kepadaku selama ini? Mana yang lebih jahat? Apa kamu sakit hati? Aku tidak peduli!"
__ADS_1
Lala puas sekali bisa membalas kata-kata Juna.Dia bisa seberani ini jika lewat pesan singkat.Tapi jika bertemu Juna secara langsung, dia pasti hanya bisa menangis.Entah sihir apa yang dimiliki Juna tapi Lala begitu tidak berdaya jika di depannya.Semua kata-kata yang keluar dari mulut Juna seperti rapalan mantera yang bisa menghipnotis Lala dan menuruti apapun kata Juna.
Hp Lala kembali berdering, tapi Lala mengabaikannya.Hingga berulang kali berdering Lala tetap mengabaikannya hingga akhirnya dia jengah dan mematikan hpnya.Dia tidak berani mengangkat telfon dari Juna karena dia yakin tidak akan tahan jika nanti Juna merayunya.Pria itu paham betul, Lala pasti takluk dengan rayuannya.Selama ini Juna adalah kelemahan Lala.Berulang kali disakiti Lala terus kembali padanya.Berulang kali diabaikan tapi Lala selalu memaafkan.Hingga menjadi sebuah kebiasaan bagi Juna bersikap semaunya kepada Lala, karena dia tahu Lala pasti memaafkan.