Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
This Is The End


__ADS_3

Lala berada di ruang kerjanya.Ini sudah jam makan siang tetapi Riris belum menghampirinya untuk makan siang.Lala membuka hpnya bermaksud mengirim pesan kepada Riris.


"Mau makan siang ngga?" tiba-tiba Adit sudah ada di depannya.Lala tersentak.


"Ngga usah ngagetin bisa ngga?" mata Lala melotot.


"Pantes Riris ngga ngajakin makan siang." Lala


bicara sendiri hampir tak terdengar.


"Ngomong apa barusan?" Adit bertanya galak.


"Ngga ngomong apa-apa."


Lala sadar sekarang kenapa Riris tidak menghampirinya untuk makan siang, itu karena ada Adit.Selama Adit tugas di luar kota Riris selalu menghampiri Lala untuk makan siang.Hari ini Adit mulai aktif bekerja lagi, Riris pasti menghindari Adit karena tahu Adit pasti akan mengajak Lala makan siang.


Adit bagaikan monster menyeramkan di tempat ini.Walaupun dia tampan bak oppa-oppa korea tapi orang-orang justru menghindarinya.Wajahnya dingin dan angkuh.Dia jarang sekali tersenyum.Tak jarang dia membentak pegawai yang menurutnya tidak bekerja dengan benar.Jadi demi keselamatan diri sendiri orang-orang akan segera menghindar ketika melihat Adit dari kejauhan, atau pura-pura sibuk melakukan pekerjaan masing-masing.Mereka akan menunduk jika tak sengaja berpapasan dengannya.Tidak ada yang berani menatap matanya langsung.


Mereka berdua sudah sampai kantin.Entah kenapa banyak pegawai yang tiba-tiba selesai makan, ada juga yang mendadak teringat pekerjaan yang belum mereka selesaikan karena mereka menghindari Adit.Tapi itu hanya kebanyakan pegawai laki-laki.Berbeda dengan pegawai perempuan.Mereka akan tetap tinggal bahkan ada yang sengaja berlama-lama makan agar bisa mencuri-curi pandang kepada Adit.Walaupun dia menyebalkan tidak bisa dipungkiri kalau wajahnya sangat tampan dan tentu saja kaya raya.


Lala melihat Riris melambaikan tangan padanya.Tapi ketika melihat Adit dia langsung menurunkan tangannya lagi.Dia sedang makan siang dengan teman-temannya dari bagian administrasi.


"Bang kita duduk di sana," Lala menunjuk ke meja Riris.Adit hanya mengangguk.


Mereka berdua kemudian duduk satu meja dengan Riris dan teman-temannya.Walaupun Adit adalah calon CEO tempat ini dia tetap mematuhi aturan yang ada.Pegawai plaza harus makan di kantin khusus untuk pegawai, termasuk Adit.Papa Adit sengaja melatihnya untuk disiplin.


Suasana menjadi canggung, mungkin lebih tepatnya mencekam bagi para pegawai itu .Tak berapa lama mereka selesai makan.


"La, aku duluan ya," Riris pamit sambil menyikut Lala memberi kode.Lala tersenyum.


"Kami duluan pak," salah satu teman Riris pamitan kepada Adit sementara Adit hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.


Adit sangat sulit disentuh bagi mereka.Tapi tidak bagi Lala.Dia langsung bisa dekat dengan Adit sejak pertama kali bertemu.Entah karena dia cantik atau karena dia memang pintar membawa diri.Adit berubah 180 derajat saat bersama Lala.Dia menjadi pribadi yang lembut dan penyayang saat bersama Lala.Adit sendiri tidak tahu perasaan apa yang dia miliki terhadap Lala.Yang jelas dia bahagia saat bersama Lala.Dia senang hanya dengan memandang wajahnya saja.Dia juga senang saat Lala merajuk, memanyunkan bibirnya terhadapnya.Adit akan menggerutu, berpura-pura seolah dia kesal dengan tingkah Lala tetapi dalam hatinya dia sangat menyukainya.


Adit sering menjalin hubungan singkat dengan banyak wanita.Dia takut salah mengartikan perasaannya terhadap Lala.Ada perang batin dalam dirinya, apakah dia benar-benar jatuh cinta kepada Lala atau hanya cinta sesaat atau mungkin hanya sekedar menyayanginya sebagai adik.

__ADS_1


"Bang.. kenapa mukanya jutek sih kalau sama orang?"


"Biarin, suka-suka aku lah," jawab Adit singkat dan acuh.


"Senyum dikit boleh lah bang, biar tambah ganteng," Lala menggoda.


"Ngga perlu, aku udah ganteng dari lahir! Jangan menggodaku terus, bagaimana perasaanmu?" Adit balik menanyai Lala.


"I'm in a good mood so let's not talk about it," jawab Lala sambil tersenyum lepas.


"Kamu yakin..?"


Lala mengangguk.


"Hmmm... pasti karena tas dariku kemarin," Adit tersenyum menggoda.


"Kalau gitu sering-sering beliin aku tas bang, biar mood- ku bagus terus," jawab Lala meringis tak mau kalah.


Hening sejenak.


"Bang.. boleh aku bertanya?"


"Kenapa abang mempermainkan pacar-pacar abang? Aku tahu kamu tidak hanya menjalin hubungan dengan satu wanita saja."


Adit mendesah.


"Jangan menyalahkanku, mereka yang mengejar-ngejar aku."


"Apa abang tidak kasihan? Mungkin posisiku saat ini sama dengan mereka, dipermainkan oleh orang yang dicintai."


"Mereka adalah gadis-gadis bodoh yang manja dan hanya menginginkan uang."


"Apa menurutmu aku juga seperti itu?"


"Tidak.... jelas kalian berbeda, kamu gadis cerdas dan mandiri, pacarmu saja yang terlalu bodoh sudah menyia-nyiakan kamu."

__ADS_1


"Bang Adit so sweet banget sih," Lala tersenyum menggoda.


Wajah Adit memerah.Dia seolah tidak sadar apa yang baru saja dia katakan.


* * * *


Lala mengurung diri di kamarnya.Hari ini tepat 30 hari sejak pertemuan terakhirnya dengan Juna.Dia masih saja menunggu kabar dari Pangeran tampannya itu.Dia butuh kepastian atas hubungan mereka.Seandainya Juna mau menikahinya maka Lala akan memaafkan penghianatan Juna dan mengubur dalam-dalam apa yang pernah dia lihat.Tapi seandainya Juna memang sudah tidak ingin bersamanya setidaknya dia bisa memberitahu Lala.Memberinya kejelasan jika hubungan mereka benar-benar berakhir, tidak digantung seperti ini.


"Apa aku harus mengirim pesan lebih dulu? atau sebaiknya ku telfon saja?" Lala bicara sendiri.


"Mas gimana kabarmu? Apa kamu sudah membuat keputusan?"


Lala menunggu beberapa saat.Tidak ada balasan.Lala meraih tasnya.


"Sebaiknya aku keluar mencari udara segar."


Dia keluar menuju garasi untuk menyiapkan sepeda motornya.


"Tante mau kemana? Reyhan ikut." Anak itu berteriak sambil berlari ke arah Lala.


"Tidak Rey... ini sudah malam.Nanti kamu dimarahi."


"Tapi Reyhan mau ikut," dia mulai merengek.


"Besok ya Rey... besok tante ajak kamu beli burger...oke?" Reyhan mengangguk walaupun dengan wajah yang ditekuk-tekuk.


Lala sudah sampai di taman kota.Tadinya dia ingin ke rumah Riris tapi takut mengganggu quality time-nya bersama keluarganya jadi Lala memutuskan untuk pergi ke taman.


Taman ini terletak di pusat kota dekat dengan plaza Z.Di seberang taman terdapat hotel yang berbintang yang sangat megah.Di halaman hotel itu terdapat air mancur yang cukup besar.Saat siang hari air mancur itu terlihat biasa tapi saat malam hari lampu-lampu di tepian air mancur akan menyala bergantian.Sinar lampu-lampu berpendar dengan percikan air membuatnya terlihat sangat indah seperti yang ada di negara-negara lain di luar negeri.


Lala duduk di tepi taman.Dia memandangi air mancur itu dari kejauhan.Dia mengeluarkan hp dari dalam tas nya, membukanya berharap ada balasan dari Juna tapi nihil.Dia mencoba untuk menelfon Juna.Beberapa kali dia coba tapi tidak diangkat.


"Mas... angkat telfonku."


Lala mengiriminya pesan lagi dan terkirim.Nomor Juna masih aktif dan bisa dihubungi.Sepertinya Juna sengaja tidak membalas pesan ataupun mengangkat telfon dari Lala.Lala mulai frustasi.Dadanya mulai terasa sesak.Dia ingin menangis tapi apa lagi yang harus ditangisi.Ini bukan pertama kalinya Juna seperti ini.Lala cukup lama terdiam di taman itu.Dia merenungi nasibnya.

__ADS_1


"Kalau memang ini yang kamu inginkan maka akan berakhir seperti ini.Lanjutkan hidupmu dan aku akan melanjutkan hidupku.So, this is the end."


Terkirim.


__ADS_2