
Lala berniat pulang setelah pertemuannya dengan Denise.Dia ternyata sangat asyik untuk diajak bicara hingga Lala lupa waktu.Pertemuan yang dia pikir akan menjadi perseteruan dan ketegangan ternyata jauh dari yang dia bayangkan.Sangat menyenangkan dan menghibur.Lala seperti mendapat teman baru.Dia bahkan bisa menceritakan tentang Adit kepada Denise tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Lala mengendarai motornya dengan santai.Dia sudah meninggalkan pusat kota dan memasuki jalanan yang mulai sepi.Lala tidak sadar jika sejak tadi ada mobil yang mengikuti di belakangnya, hingga tiba-tiba mobil itu memepet motor Lala dan berhenti tepat di depannya.Lala mengerem motornya mendadak hingga terdengar suara dencitan.
Tiga orang pria keluar dari mobil dan menghadang Lala.
"Mau apa kalian?" teriak Lala.
Tidak satupun dari mereka yang menjawab.
Ini tidak bagus.Jangan panik! Aku harus tetap tenang agar bisa keluar dari situasi ini.Aku harus bisa mengulur waktu.Siapa tau ada orang lewat yang bisa menolongku.
Orang-orang itu berjalan semakin mendekat.Lala hanya bisa waspada.Dia tidak berteriak karena tidak akan ada gunanya.Jalan ini sepi sekali dan tidak ada bangunan apapun di samping kanan kirinya.Dia teriak sekencang-kencangnya pun percuma, tidak akan ada orang yang mendengarnya.
"Katakan apa mau kalian dan aku tidak akan melawan.Kalau kalian mau motorku ambil saja," ucap Lala berusaha tenang padahal hatinya sudah berdegup sangat kencang.Orang-orang itu tetap diam.Mereka berjalan semakin mendekat ke Lala.
"Bagaimana kalau kami ingin kamu menemani kami malam ini?" ucap salah satu dari mereka.Sepertinya dia adalah ketuanya.Tubuhnya paling besar dan kekar.Wajahnya juga terlihat garang.
"Oh ... sial! umpat Lala keras.Dia ingin menunjukkan kalau dia tidak merasa takut sama sekali. "Apa tidak ada keinginan lain? Aku bisa memberi kalian uang dan kalian bisa menyewa perempuan bayaran.Kalian bisa memilih perempuan yang kalian suka."
"Tapi kami menginginkanmu," balas pria itu.
__ADS_1
"Tapi aku tidak menginginkan kalian," balas Lala sinis. "Katakan siapa yang menyuruh kalian.Aku yakin kalian tidak memilihku secara acak." Lala terus bicara, ini caranya sambil menunggu ada kendaraan lain lewat agar bisa dia mintai pertolongan.
"Tidak usah banyak bicara manis ..., ayo ikut kami," ucap Si Ketua sambil mengibaskan tangannya, menyuruh anak buahnya untuk menangkap Lala.
Dua orang temannya langsung memegangi tangan Lala.
Aku harus bagaimana ini? Oh... kenapa sama sekali tidak ada kendaraan lain yang lewat? Habislah aku!
"Sebentar ... biar aku lepas helmku dulu.Aku tidak akan melawan," ucap Lala tenang.Kedua orang itu menurut saja dan langsung melepaskan tangan Lala.
Lala melepaskan helmnya pelan.Kemudian dengan cepat dia memukulkan helm tersebut ke kepala pria di sebelah kirinya.Dia tidak peduli jika kepala pria itu sampai pecah atau gegar otak.Kemudian dia menendang pria di samping kanannya tepat di alat ke*****nya.Kedua pria itu sempoyongan, sementara Lala berlari sekencang-kencangnya.
"Cepat masukkan dia ke dalam mobil dan pegangi dia," perintah Si Ketua sambil melemparkan tubuh Lala kepada temannya.Lala masih berusaha meronta. "Aku harus memasukkan dia ke mobil sebelum mobil itu semakin dekat!" lanjutnya sambil melirik mobil dari arah berlawanan. "Huhh menyusahkan saja!" ucap Si Ketua sambil menyeret temannya yang sedang pingsan ke mobil.
Mobil itu semakin mendekat.Lala melihat secercah harapan agar dirinya selamat.Dia berhenti meronta.Dia menancapkan kukunya di tangan yang sedang membekap mulutnya.Sontak orang itu berteriak dan melepaskan tangannya dari mulut Lala.Lala menginjak kaki pria itu kemudian melompat keluar dari mobil.Lala tersungkur di depan mobil yang akan menculiknya.Semetara dari arah lain mobil yang dia lihat tadi sudah tinggal beberapa meter saja darinya.Si Ketua berhasil meraih tangan Lala dan menyeretnya hingga Lala terjatuh dan dagunya membentur aspal.
Mobil dari arah lain itu nerhenti tepat di depan Lala jatuh.Beberapa pria keluar dari dalm mobil.
Salah satu dari mereka langsung berlari monolong Lala.
"Heii ... kamu tidak apa-apa?" tanya pria itu sambil memegang pundak Lala dan membantunya berdiri.Lala sangat familiar dengan suara ini.Dia menoleh, menatap pria yang sedang menolongnya.
__ADS_1
"Mas Juna?" Lala tidak percaya.
"Lala? Kamu tidak apa-apa?" tanya Juna sambil mengusap dagu Lala yang berdarah.Sementara teman-teman Juna yang lain langsung meringkus orang-orang yang berusaha menculik Lala.
Lala berjalan menepi, Juna mengikuti di belakangnya.Lala kemudian duduk di tepi jalan,dia mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan setelah tadi berjuang melepaskan diri dari penjahat-penjahat itu.Juna ikut duduk di sampingnya.Lala diam, dia begitu syok atas apa yang terjadi padanya.
"Juna ... mau kita apakan mereka? Apa dibawa ke polisi saja?" tanya salah seorang teman Juna.
Juna menoleh ke Lala. "Apa kamu kenal dengan mereka? Apa kamu mau melaporkan mereka ke polisi atau bagaimana?" tanya Juna pada Lala.
Lala diam saja.Dia berdiri dan berjalan mendekati Si Ketua yang sekarang sudah babak belur dihajar teman-teman Juna.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Lala. "Apa Nyonya Andreas?" imbuhnya tegas.Tapi tak seorangpun menjawab.Lala berjalan mengambil helmnya dan menghampiri Si Ketua lagi.Lala mengayunkan helm itu keras-keras ke kepala Si Ketua hingga dia pingsan seketika.
Lala berjalan ke motornya.Dia mengabaikan semua orang yang ada di sana termasuk Juna.
"Sayang ... kamu mau kemana? Aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Juna.Lala tidak bicara sepatah katapun.Dia tetap berjalan menuju motornya.
"Sayang ... tenangkan dirimu dulu," cegah Juna.Dia sekarang berdiri di depan Lala.
Lala menatap pria di depannya itu.Entah kenapa kebenciannya memuncak melihat Juna.Lala langsung menampar Juna.Dia pantas mendapatkan itu.Dia tidak peduli Juna sudah menolongnya dari penjahat-penjahat tadi.Lala hanya melampiaskan apa yang sudah dipendamnya selama ini.Ini pertama kalinya mereka bertemu sejak terakhir Lala meminta keseriusan Juna dan pria itu justru menghilang tanpa kabar.
__ADS_1