
"Kenalkan Oma ... Dia Viola, calon cucu menantu Oma."
Lala tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"La ... kenalkan ini Oma Rusdi." Nova memperkenalkan Oma nya kepada Lala.
"Apa kabar Viola? Senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu," sapa Oma Rusdi hangat sambil menyambut tangan Lala.
"Kabar baik ... " Lala tidak melanjutkan kalimatnya.
"Panggil Oma saja, sama seperti Nova.Sebentar lagi kamu jadi cucuku kan?" ucap Oma Rusdi diiringi tawa.
"Kabar baik Oma, Oma bisa panggil Lala saja," balas Lala tersenyum.
"Baiklah... Lala ayo duduk sini." Oma Rusdi menarik tangan Lala dan mengajaknya duduk.
Lala menatap Oma Rusdi dengan kagum.Usianya sudah paruh baya tapi dia tetap terlihat cantik.Kulitnya bersih dan terawat.Telapak tangannya mulus saat tadi Lala bersalaman dengannya.Sangat tidak mungkin jika Oma Rusdi bekerja di sini sebagai pembantu.
Jika saja Nova tidak memperkenalkannya sebagai Oma nya pasti Lala akan menyangka Oma Rusdi adalah pemilik rumah ini.
Oma Rusdi juga terus memandangi gadis cantik di depannya.Penampilannya biasa, hanya ditambahkan make up tipis tapi justru membuatnya terkesan.
"Apa nanti kalian menginap di sini?" tanya Oma Rusdi.
"Tidak Oma, nanti sore kami langsung pulang.Benarkan Nova?"
Nova hanya mengangguk.
"La ... aku tinggal sebentar, aku ada beberapa urusan.Kamu ngobrol saja sama Oma," pamit Nova.
Lala mengangguk walaupun dalam hatinya sedikit keberatan.
"Oma ... Aku titip Lala sebentar."
Oma Rusdi juga mengangguk sambil tersenyum.
"Oma senang sekali kamu mau menikah dengan Nova.Terima kasih sekali kamu mau menerima Nova menjadi suamimu," ucap Oma Rusdi setelah kepergian Nova.
Seandainya Oma tahu, akulah yang meminta Nova menikahiku.Akulah yang harusnya berterima kasih.
"Nova menjadi anak yang murung setelah kepergian orang tuanya.Makanya Oma senang sekali waktu dia bilang ingin melamar seorang gadis."
__ADS_1
"Oma ... boleh aku tau kenapa orang tua Nova meninggal?"
"Itu sudah cukup lama .... Mereka mengalami kecelakaan mobil.Nova juga bersama mereka dalam kecelakaan itu.Hanya saja kedua orang tuanya meninggal dan hanya Nova sendiri yang selamat," Oma Rusdi kemudian terlihat murung.
"Maaf Oma, aku sudah membuat Oma sedih."
"Tidak apa-apa, lagian kamu juga harus tau.Oma yakin Nova tidak akan menceritakannya padamu."
"Yah, Oma tau sendiri dia sangat tertutup," balas Lala.
"Oma minta tolong sama kamu ... tolong dampingi dia, jadilah teman hidupnya.Sepertinya Nova benar-benar mencintaimu." Oma Rusdi memgambil nafas dalam.
"Sejak kepergian orang tuanya hidupnya berubah drastis.Dia jadi pendiam dan murung.Dia jarang sekali bicara kalau tidak penting.Dia juga menjauh dari teman-temannya.Bahkan dia tidak ingin dekat dengan gadis manapun.Oma sampai bingung mau bagaimana." Mata Oma sudah mulai berkaca-kaca.
"Kemudian dia pindah ke luar kota dan tidak mau tinggal di sini.Dia bilang ingin melupakan semuanya.Mungkin setelah itu dia mengenal kamu dan mulai sedikit berubah."
"Ahh .... Kenapa Oma menyambutmu dengan cerita sedih begini," ucap Oma sambil menyeka air matanya yang hampir menetes.
"Ceritakan pada Oma, bagaimana kalian bertemu? Apa kalian sudah lama pacaran?" tanya Oma menggebu-gebu.Raut wajahnya sudah kembali ceria.Sementara Lala bingung mau menjawab bagaimana.
"Oh ... Kami teman kerja Oma, aku kenal Nova di Plaza Z." Begitulah yang keluar dari mulut Lala.
Tidak mungkin dia menjelaskan pada Oma Rusdi kalau dia tidak pacaran dengan Nova.Dia juga yang meminta Nova untuk menikahinya, baru beberapa hari yang lalu.
"Kamu istirahatlah dulu di kamar atas sebelum kita pulang," ujar Nova tiba-tiba.
"Kamar atas?" Lala kebingungan.
Bukankah mereka ini cuma pegawai di rumah ini, kenapa sampai seberani ini menawarkan kamar atas untukku.Mereka ini aneh, Pikir Lala.
Nova gelagapan.Dia memandang Oma Rusdi.
"Tidak apa-apa, Ini sudah seperti rumah kami sendiri.Oma sudah bekerja di sini puluhan tahun," jawab Oma mencoba menjelaskan kebingungan Lala.
"Ayo aku antar ke kamar.Kasihan nanti kamu capek harus menempuh perjalanan jauh," ucap Oma Rusdi lembut.
Oma kembali ke dapur setelah mengantar Lala ke kamar.Tapi dia tidak menemukan Nova di sana.Oma Rusdi mencarinya ke ruang keluarga dan menemukan Nova sedang berbaring di sofa.
Oma mendekati Nova dan duduk di dekat Nova.
"Kamu sudah yakin mau menikah dengan Lala?" tanya Oma Rusdi.
__ADS_1
Nova membuka matanya dan mengangguk.
"Oma tidak menyukainya?" tanya Nova.
"Tentu saja Oma menyukainya.Dia cantik dan juga ramah.Dia menghormati Oma walau kamu bilang Oma hanya pembantu di rumah ini."
Flash back on
Beberapa malam sebelumnya Nova sudah mengirim pesan kepada Oma nya.
"Oma, aku ingin melamar seorang gadis."
"Kenapa terburu-buru? Kamu belum memperkenalkan gadis itu pada Oma."
"Aku ingin secepatnya."
"Tapi Oma masih banyak urusan di sini.Oma tidak bisa ke sana dalam waktu dekat."
"Kalau begitu aku akan minta Pak Romi melamarkannya untukku."
"Kenapa terburu-buru sekali Nak? Bagaimana kalau gadis itu bukan gadis baik-baik?"
"Tidak Oma, dia tidak seperti itu.Dia tidak tahu siapa aku.Setelah lamaran aku akan mengajaknya menemui Oma. Aku sudah bilang padanya aku cuma punya Oma dan sekarang bekerja sebagai pembantu di kota X."
"Kamu keterlaluan! masa Oma dibilang pembantu?"
"Besok jika aku mengajaknya pulang kuharap Oma bisa berkerja sama.Oma berpakaian biasa dan berpura-pura saja sebagai seorang pembantu."
Flash back off
"Oma lihat kan? Dia bahkan mau kubonceng dengan motor butut itu sampai ke sini.Gadis lain tidak akan ada yang mau," ucap Nova yang masih berbaring di sofa.
Oma mengangguk.
"Tapi sebaiknya kamu jujur padanya.Semua kebohongan tidak ada yang membawa kebaikan."
"Nanti Oma, jika sudah waktunya.Aku ingin mengujinya."
"Jangan berlebihan Nova, jika dia gadis matere dia akan senang mengetahi jika kamu kaya, tapi jika dia gadis baik-baik dia akan membencimu karena sudah membohonginya."
"Kita akan mengetahuinya nanti.Sekarang aku ingin istirahat sebentar." Nova memejamkan matanya.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar Lala tidak bisa istirahat sama sekali.Dia masih terheran-heran dengan kelakuan cucu dan Oma itu.Menurut Lala, Nova dan Oma nya sedikit melebihi batas.Oma Rusdi hanya ART di sini tapi dia berani menempatkan Lala di kamar atas yang sama sekali tidak terlihat seperti kamar pembantu.
Jangan-jangan mereka ini seperti yang di film-tilm, pembantu yang ingin mengambil alih harta majikannya. Begitulah isi pikiran konyol Lala.