Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Maaf


__ADS_3

Lala sengaja menyibukkan diri di ruang kerjanya.Setiap kali dia tidak ada kerjaan pasti teringat Juna.Pesan dari Juna semalam seakan membangkitkan kenangannya dengan Juna.Dan semua yang bisa dia ingat adalah segala yang indah tentang Juna.Semakin dia berusaha melupakan, semakin dia teringat kepadanya.Semua luka yang pernah dia torehkan seolah lenyap begitu saja.Semua air mata yang dia teteskan selama ini seakan tidak ada artinya.Umpatan dan amarah yang semalam membara di dadanya sekarang berubah menjadi rindu yang menggebu-gebu.Betapa plin plan hati Lala.


"Lebih baik aku makan siang sekarang sebelum Adit datang." Lala menghampiri Riris di ruangannya.


"Yuk makan siang... "


Riris celingukan takut Adit muncul lagi secara tiba-tiba seperti tadi pagi.


"Makanya ayo buruan sebelum dia datang!"


Lala tahu apa yang di khawatirkan Riris.


Mereka berdua jalan terburu-buru seperti maling yang takut ketahuan.


Di kantin.


"Sudah lama kita ngga makan berdua seperti ini." Lala bicara sambil menyantap makan siangnya.


"Kamu sih... kalau ada dia mana berani aku makan sama kamu."


Lala tidak berani cerita ke Riris kalau Juna mengiriminya pesan.Selama ini Riris lah yang paling ngotot meminta Lala mengakhiri hubungannya dengan Juna.


"Aku sudah berkenalan dengan orang yang ingin ibu jodohkan denganku.Rizal namanya."


"Benarkah? Bagaimana orangnya?" Riris bertanya antusias bahkan melebihi Bu Mieke.


Tiba-tiba saja Adit meletakkan nampan makan siangnya di meja mereka.


Jeng... jeng... jeng...


Suasana langsung berubah menjadi tenang, seperti ruang kelas yang sedang melangsungkan ujian.Riris hanya berani menatap makan siangnya.Dia tidak berani mengangkat kepalanya karena takut matanya bertemu mata Adit.


"Cakep sih cakep, tapi kalau auranya seperti ini ya ngeri juga," batin Riris.


Adit duduk di samping Lala.Seperti biasa dia pasang wajah jutek dan angkuhnya.


"Kenapa baru datang bang? Aku sudah menunggumu lama tadi."


"Ngga usah bohong," Adit menjawab datar.


Lala menahan senyum, sepertinya dia ketahuan.


"Lain kali tunggu aku!" Ucap Adit dingin tanpa melihat ke arah Lala.


"Sama aja kan Bang? Ujung-ujungnya ketemu di sini."


"Sudah diam, jangan membantah."


Jika saat ini Lala hanya berdua dengan Adit, dia pasti akan menggoda Adit sampai dia tertawa atau paling tidak tersenyum.Tapi saat ini dia sedang di kantin dan ada banyak orang jadi Lala hanya diam dan mematuhi kata-kata Adit.

__ADS_1


Triing...


Hp Lala berbunyi.Dia segera membaca pesan yang baru saja masuk di hpnya.


"Sayang... kamu tidak membalas pesanku.Apa kamu tidak merindukanku?"


Sudah bisa ditebak siapa pengirimnya.


"Ya Tuhan... Ujian apa lagi ini?" batin Lala.


Lala menutup kembali hpnya.Adit sempat melirik sekilas tadi.Sementara Riris sudah selesai makan.Dia memberi kode Lala dengan matanya kalau dia akan duluan.


"Permisi Pak Adit, saya duluan," Riris ijin kepada Adit, menghormatinya sebagai atasan.Tentu saja Adit tidak menjawab.


"Aku juga sudah selesai... "


"Kamu tetap diam di sini sampai aku selesai makan!" Adit memotong kalimat Lala.


"Ya... tentu saja," Lala menelan kembali kata-katanya yang belum sempat keluar tadi.


* * * *


Lala sudah kembali ke ruangannya.Dia membuka hpnya, membaca lagi pesan yang tadi mengganggu makan siangnya.


"Kamu benar-benar jahat dan tidak punya hati."


"Lebih baik nanti aku cari kegiatan biar ngga teringat dia terus."


Lala mulai mengetik pesan tapi tidak untuk membalas pesan Juna.


"*Nanti sore aku ada waktu kosong sepulang kerja.Apa kamu jadi ingin bertemu denganku?"


"Oke... Jam berapa? Dimana? Kali ini kamu yang tentukan tempatnya.Aku takut salah pilih tempat lagi."


"Jam 5 sore.Bagaimana kalau di foodcourt mall X?"


"Baiklah... Sampai jumpa*."


Lala menutup hpnya kemudian melanjutkan pekerjaannya sampai waktunya pulang.


* * * *


Lala sudah sampai di mall X.Seperti biasa, dia langsung menuju toilet untuk mengganti seragamnya.Kali ini dia hanya memakai celana jeans, kaos lengan pendek biasa dan sepatu sneakers.Tak lupa tas ransel besar yang berisi segala keperluannya termasuk laptop dan baju ganti.Penampilannya kali ini sama sekali tidak menunjukkan kesan girly.


Lala berjalan menuju foodcourt kemudian duduk santai sambil menunggu Rizal datang.


"Hai... kamu sudah lama?" terdengar suara Rizal menyapanya.


"Oh... hai.. lumayan." Lala tergagap kaget, tidak menyangka Rizal sudah ada di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu mau pesan apa? Kali ini aku yang traktir," Lala menawari Rizal.


Dia tersenyum ramah.Rizal berniat baik untuk minta maaf padanya jadi Lala juga bersikap baik pada Rizal.


"Terserah kamu saja.Aku juga tidak pilih-pilih makanan sama seperti kamu."


"Baiklah... "


Sambil menunggu pesanan datang Rizal mulai bicara.


"Lala... Aku ingin minta maaf atas perkataanku waktu itu.Aku tidak tahu kalau kamu ada di sana dan aku juga tidak sadar jika itu sudah menyinggung perasaanmu."


"Tidak apa-apa... Aku sudah memaafkanmu."


"Waktu itu aku sedang ada masalah dengan Jeslin dan Ibu terus saja mendesakku untuk bertemu denganmu.Jadi aku agak kesal.Maafkan kata-kataku."


"Sudahlah Rizal.Aku juga harus minta maaf padamu.Waktu itu aku sedikit keterlaluan.Semoga kamu tidak marah padaku."


"Tidak... tidak... Mungkin aku memang pantas mendapatkannya."


"Kalau begitu mari kita lupakan semuanya dan mulai dari awal lagi."


"Tentu saja," Rizal tersenyum dan mengulurkan tangannya.Lala menyambut tangan Rizal.


"Rizal... "


"Lala... "


Mereka bersalaman kemudian tertawa bersamaan.Keduanya terlihat sama-sama tulus.Sudah tidak ada dendam di hati Lala.


"Bagaimana dengan Jeslin? Apa kalian sudah menyelesaikan masalah kalian?"


Rizal menatap Lala.


"Oh... jangan salah sangka.Aku tidak bermaksud untuk ikut campur.Aku hanya khawatir dia muncul lagi dan salah paham seperti waktu itu."


Rizal tersenyum.


"Sebenarnya aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya beberapa waktu sebelum aku kenalan denganmu.Tapi dia masih belum bisa menerimanya."


"Oh begitu... " Lala menganggukkan kepalanya.


"Aku menceritakan ini agar kamu tidak salah sangka terhadapku.Aku tidak ingin kamu beranggapan kalau aku hanya ingin mempermainkan kamu atau Jeslin."


"Ya.. aku mengerti sekarang.Boleh aku tau kenapa kamu mengakhiri hubunganmu? Kalau tidak mau tidak usah di jawab."


"Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.Aku melihatnya bersama laki-laki lain.Dia bersikeras kalau dia tidak ada hubungan apa-apa sama laki-laki itu.Tapi aku bisa lihat dari cara mereka menatap satu sama lain.Kamu tau maksudku kan? Eyes don't lie."


Lala hanya mengangguk sambil mendengarkan.Mereka terus mengobrol setelah itu.Suasana jadi lebih cair daripada pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2