Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Sedih dan Gembira


__ADS_3

Lala mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan dirinya. Kemudian dengan susah payah dia meraih tasnya yang terjatuh tak jauh dari tempatnya terbaring saat ini. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Nova yang selalu siaga menerima panggilan darinya.


" Apa setelah kamu sudah puas jalan-jalan baru ingat dengan ku?" Kalimat pertama Nova begitu dia tersambung dengan Lala.


"Nova ... Aku jatuh ..." Lala membuat suaranya setenang dan senormal mungkin agar Nova tidak panik walaupun sebenarnya dia sangat kesakitan.


"Kamu dimana sekarang? Aku akan segera ke sana! Apa ada yang luka?"


"Aku tidak apa-apa, suruh sopir menjemput ku saja. Jarak mu terlalu jauh, aku kelamaan kalau harus menunggu mu. Aku berada di jalan yang menuju sungai waktu itu. Nanti kamu langsung menyusul ke rumah sakit," Lala meringis menahan sakit.


"Rumah sakit? Kamu terluka?" Nova sudah mulai panik.


"Aku tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir. Kalau bisa secepatnya suruh orang menjemput ku." Lala meletakkan ponselnya sembarang. Dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya.


Lala berharap ada orang lewat untuk menolongnya sambil menunggu orang suruhan Nova menjemputnya. Tapi tidak ada satupun orang yang melewati jalan ini. Ini memang jalan aspal tapi bukan jalan utama, jadi wajar saja jika jarang ada orang yang melaluinya.


Selang lima belas menit dia sudah tidak bisa merasakan kakinya ataupun menggerakkannya.Yang terasa hanya perih yang luar biasa di lengan kirinya akibat kulitnya yang mengelupas setelah bergesekan dengan aspal tadi. Lama kelamaan Lala merasakan pandangannya mulai buram hingga dia tidak merasakan apa-apa lagi.


* * * *


Nova mencoba menghubungi Lala kembali setelah menyuruh orang-orangnya mencari keberadaan Lala. Tapi Lala tidak mengangkat teleponnya, dan itu membuat Nova sangat cemas. Kemudian dia menelepon lagi sopirnya, Damian yang sekaligus orang kepercayaannya untuk segera menuju lokasi di maksud Lala tadi dalam telfonnya. Jaraknya mungkin sekitar sepuluh menit dari rumah, kalau Nova yang mencarinya sendiri akan memakan waktu lama karena dia masih berada di peternakan.


Nova menyaksikan semuanya lewat video call saat orang-orang suruhannya itu menemukan Lala dalam kondisi yang mengenaskan. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat bagaimana Lala tertindih motor dan pingsan di pinggir jalan dengan baju yang berlumuran darah tanpa ada siapapun yang menolong. Dia segera menyuruh orang-orangnya membawa Lala ke rumah sakit agar Lala mendapatkan pertolongan secepatnya dan menyerahkan segala urusan administrasinya kepada Damian.


Dia kemudian mengendarai motornya sportnya dengan kecepatan paling tinggi dan menyusul Lala ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Lala sedang dalam penanganan dokter. Nova menunggu di depan ruang operasi dengan rasa cemas yang luar biasa. Setelah beberapa jam di ruang operasi akhirnya Lala dipindah ke ruang perawatan meskipun dia belum siuman.


Dokter meminta Nova mengikuti ke ruangannya untuk menjelaskan keadaan Lala seusai melakukan operasi.


"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" tanya Nova tidak sabar.

__ADS_1


"Istri anda sudah melewati masa kritisnya. Sekarang ini dia belum sadar karena pengaruh obat bius yang kami berikan."


"Kondisi tulang kaki istri anda cukup parah." Dokter menunjukkan hasil rontgen kaki Lala kepada Nova. "Tulang betis dan tulang keringnya patah menjadi beberapa bagian sehingga kami harus memasangkan pen agar bisa tersambung kembali."


"Sekitar dua atau tiga Minggu ke depan istri anda tidak boleh menapakkan kakinya. Setelah itu baru boleh latihan berjalan itupun harus menggunakan alat bantu penyangga. Mungkin selama empat sampai enam bulan istri anda baru akan bisa berjalan normal kembali tergantung kondisi pasien."


Nova mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. "Tapi dia bisa sembuh kan Dok? Bisa berjalan normal lagi?"


Dokter itu mengangguk. " Bisa ... tentu saja bisa. Alat bantu penyangga itu hanya digunakan selama masa pemulihan saja. Setelah pulih total, istri anda bisa melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Tapi jangan yang berat-berat."


Nova lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.


"Bagaimana dengan lengannya Dok? Apa serius?"


"Lengannya memang mengalami luka luar yang cukup serius, tidak ada tulang yang patah jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan."


Nova sempat melihat luka di lengan Lala tersebut saat orang suruhannya menyambungkannya melalui video call saat mereka mengevakuasi Lala.


"Istri saya hamil dok?"


"Lah ... masa ngga tau istrinya hamil?" Dokter itu balik bertanya dengan konyolnya.


"Beneran hamil Dok?" Nova masih tidak percaya.


"Ya sudah ... nanti kalau kondisi istri anda sudah lebih baik anda bisa melakukan USG untuk lebih jelasnya."


Nova keluar dari ruang Dokter dengan perasaan yang campur aduk. Sedih dan gembira menjadi satu memenuhi hatinya. Istrinya terbaring lemah dan mungkin tidak akan bisa berjalan dalam waktu dekat tapi di saat bersamaan dia juga mengetahui bahwa istrinya sedang hamil. Jika kondisinya tidak seperti ini, pasti dia akan melompat kegirangan mendengar berita ini.


Nova memasuki ruang VVIP dimana Lala dirawat. Di sana sudah ada Oma yang menunggui Lala yang masih belum siuman.

__ADS_1


"Apa kata Dokter?" tanya Oma yang segera berdiri menyambut Nova begitu melihatnya memasuki ruangan. Dia tidak kalah cemasnya dibandingkan Nova.


Nova tidak menjawab pertanyaan Oma. Dia duduk di kursi di samping ranjang tempat Lala terbaring. Dia terus menatap wajah istrinya itu dengan tatapan sendu.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Mungkin tidak akan bisa berjalan normal dalam waktu dekat."


"Dia wanita yang tangguh, dia akan segera sembuh," balas Oma." Oma mendekati Nova dan menepuk pundaknya.


"Iya Oma, dia pasti sembuh."


"Dia sedang hamil Oma ... Aku akan jadi Papa ... Dia harus sembuh." Mata Nova terus menatap wajah Lala. Tidak terasa bulir bening menetes dari matanya.


"Benarkah? Ya Tuhan ... " Oma menutup mulutnya, suaranya bergetar. "Dia akan sembuh! Oma akan menimang cicit Oma kelak ... Bukankah Dokter sudah mengatakan kalau dia sudah melewati masa kritisnya? Dia akan baik-baik saja. Kita harus yakin itu." Oma tak kuasa menahan tangisnya.


Nova memeluk Oma yang berdiri di sampingnya. "Aku tidak bisa kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya. Dia hidupku Oma."


"Dia akan baik-baik saja ... juga calon anakmu, cicit Oma." Oma tahu ini berat sekali bagi Nova. Ini seperti kedua kalinya Nova mengalami hal yang sama, melihat orang yang disayanginya meregang nyawa karena kecelakaan, dua nyawa sekaligus.


"Bagaimana ini bisa terjadi Oma?"


Nova bergegas keluar ruangan tanpa mengatakan apa-apa. Rupanya dia menemui Damian yang masih setia menunggu di depan kamar dimana Lala di rawat.


"Cari tahu apa penyebabnya!"


"Segera Tuan ... " Damian hendak melangkah pergi.


"Damian ...." panggil Nova.


"Ya Tuan ... "

__ADS_1


"Terima kasih telah menyelamatkan istriku." Damian menunduk hormat kemudian berlalu dari hadapan Nova.


__ADS_2