
Beberapa hari sudah berlalu.Lala sering merasa kesepian karena Nova sekarang sudah sibuk membantu Oma mengurusi perusahaan dan peternakan.Dia sudah mencoba menghubungi Vania, tapi gadis itu sibuk pemotretan di luar kota.Tapi dia berjanji akan segera datang jika sudah selesai dengan urusannya.
Lala berjalan-jalan mengitari halaman untuk mengusir rasa bosannya.Ketika melewati garasi dia tertegun melihat motor sport terparkir di sana.Lala mendekati motor itu.
"Hai ... jadi kamu yang waktu itu?" Lala menyapa motor itu layaknya motor itu punya nyawa.Ini adalah motor yang dikendarai Nova waktu pertama kali berkunjung ke rumahnya.Kemudian Lala meraih ponsel di sakunya dan memotret motor tersebut dan mengirimkan nya pada Nova disertai keterangan "Boleh aku mengendarai nya?"
Tak berapa lama ponsel Lala berdering.
"Halo ..."
"Memangnya kamu mau kemana? Kamu tidak mengenal kota ini, nanti kamu tersesat!" omel Nova dari seberang telepon.
" Ya Tuhan ... Sekarang ada gmaps Nova ...! kamu pikir kamu hidup di jaman apa?!
"Tidak boleh! Motor itu terlalu besar untuk ukuran mu, nanti kamu bisa jatuh." Nova masih mencoba mencari alasan.
"Tapi aku bosan sekali disini.Aku tidak punya teman."
"Aku usahakan pulang cepat nanti.Aku akan mengajakmu jalan-jalan." Nova menutup teleponnya.
* * * *
Sore harinya, Nova menepati janjinya pulang lebih awal.Rencananya dia akan mengajak Lala ke salah satu mall di kotanya.Setelah bersiap-siap mereka berdua kemudian berangkat dengan menggunakan motor sport Nova.
Di dalam mall...
"Kamu ingin membeli sesuatu?" tanya Nova.
"Tidak tahu, sebenarnya aku hanya ingin jalan-jalan agar tidak bosan , tapi kita lihat saja nanti."
"Ya sudah ... terserah kamu saja."
Setelah beberapa lama mengitari mall dan Lala menenteng beberapa kantung belanjaan akhirnya mereka beristirahat di food court.
"Sudah? Itu saja yang ingin kamu beli?"
Lala mengangguk sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Katanya tidak ingin beli apa-apa tadi?" Nova mulia menggodanya.
"Kamu yang memaksaku untuk membeli nya.Jadi kamu keberatan?"
Nova hanya tersenyum melihat Lala mulai cemberut.
"Kamu sudah pesan makanan? Pesanlah yang kamu suka."
"Baiklah, aku akan membeli milkshake dulu," ucap Lala sambil menunjuk ke gerai minuman di dekat mereka. "Kamu mau ku pesankan sekalian?"
Nova mengangguk.Sambil menunggu Lala memesan makanan, dia memainkan ponselnya.Tak berapa lama Lala berjalan kembali ke arah Nova sambil membawa dua cup besar milkshake di tangannya.Saat tinggal beberapa langkah saja menuju tempat duduk Nova, tiba-tiba ada seorang laki-laki dan perempuan berdiri di depan Nova.Sepertinya mereka sepasang kekasih atau mungkin suami istri.
"Wow ... lihatlah sayang ...!" ucap si laki-laki kepada pasangannya. "Si pengecut yang lama tidak kelihatan muncul di sini." Laki-laki terlihat sedang memprovokasi Nova.
Nova terlihat hanya melirik laki-laki itu sekilas kemudian fokus lagi ke ponselnya.
"Lihat sayang ... dia diam saja.Ternyata dia masih sama pengecutnya dibanding dulu." Laki-laki itu masih mencoba memprovokasi Nova, tapi Nova tidak bergeming. Sementara istrinya atau mungkin kekasihnya kelihatan salah tingkah.
"Apa kabar Nova? Sudah lama tidak melihat mu," ucap si perempuan.Sepertinya dia masih menjaga perasaan Nova.
"Hei Nova, kamu sendirian? Apa masih belum bisa menemukan perempuan cantik selain dia?" Laki-laki itu meraih tangan pasangannya berusaha untuk menunjukkan bahwa perempuan di sampingnya adalah miliknya. "Sudah lama juga aku tidak mendengar kamu memiliki kekasih, apa mungkin kamu sekarang sudah tidak menyukai wanita?" ucap laki-laki itu sambil tertawa mengejek Nova.
Lala geram mendengar perkataan laki-laki ini.Dia dengan jelas bisa mendengar semuanya dari tempatnya berdiri saat ini.Dia heran bagaimana Nova bisa tetap tenang setelah dihina habis-habisan oleh laki-laki ini.
Dia suamiku! tidak ada yang boleh yang menghina suamiku selain aku! Apa tadi dia bilang? Suamiku pengecut? Siapa mereka?!" batin Lala kesal.Saat ini rasa memiliki Nova muncul begitu saja tanpa dia sadari di hatinya.
Lala bergegas melangkahkan kakinya mendekati Nova.
"Sayang ... maaf membuat mu menunggu, antrian nya panjang sekali tadi." Lala berjalan mendekat sambil bersandiwara seolah-olah dia dan Nova sangat mesra.
Nova menatap Lala, dia tidak percaya dengan apa yang baru di dengar nya.Lala memanggilnya "sayang", itu membuat perasaan Nova melambung tinggi walaupun dia tahu Lala hanya bersandiwara.
"Apa mereka teman-temanmu? Kenapa tidak mengenalkan nya padaku?" tanya Lala dengan wajah polosnya yang dibuat-buat.
Nova kemudian berdiri dan meletakkan tangannya di pinggang ramping Lala.
"Kamu ingin berkenalan dengan mereka?" bisik Nova di telinga Lala.Entah kenapa bisikan Nova kali ini terdengar sensual, tidak seperti biasanya hingga membuat Lala merinding.
__ADS_1
Lala mengangguk antusias.
"Baiklah ... kenalkan ini Erik dan istrinya Manda... Mereka berdua teman SMA ku ... dulu" Nova memberi jeda pada kata terakhirnya.
"Hai ... Aku Viola, istri Nova," Ujar Lala ramah.Wajahnya yang baby face membuat Nova seperti menikah dengan ABG.Sepintas Lala bisa mengamati wajah Malika.Cukup cantik, walaupun tentu saja dia merasa dirinya jauh lebih cantik.
Kedua orang di depan Lala seperti tidak percaya jika Lala adalah istri Nova.Erik sampai memandangi Lala dari kepala sampai ujung kaki begitu juga istrinya.
"Kalian sudah menikah?" tanya Erik sedikit kikuk.
"Kenapa? Kamu pikir aku tidak bisa menemukan perempuan lain?" Nova semakin mengeratkan tangannya di pinggang Lala.
"Sayang ... aku sudah lapar." Akting Lala dibuat se manja mungkin hingga dia sendiri merasa dirinya seperti perempuan murahan.
"Bukankah kamu sudah memesan makanan ... hmm?"
Lala menggeleng. "Kalau begitu kita cari tempat lain saja, aku takut kamu nanti terganggu jika makan disini," lanjut Nova.
Lala dan Nova melangkah hendak meninggalkan tempat itu, tapi Erik mencoba menghadang mereka berdua.
"Apa mau mu?" tanya Nova dengan tatapan dinginnya.
"Kamu tetaplah seorang pengecut!" bisik Erik.
Nova tersenyum sinis. "Kamu pikir kamu menang setelah merebutnya dariku? Kamu pasti tahu kalau kamu hanya merebut sisa-sisa ku! Aku sudah menikmatinya lebih dulu!" bisik Nova di telinga Erik.
Sontak Erik langsung mendorong tubuh Nova hingga Nova mundur beberapa langkah.Matanya melotot dan tangannya mengepal hendak memukul Nova tapi ditarik oleh Manda.Nova terlihat tenang walaupun tatapan matanya tidak kalah tajam dibandingkan Erik.
Lala meraih tangan Nova, "Nova ... sebaiknya kita pergi dari sini," ucap Lala lembut.Dia mencoba menenangkan Nova agar tidak terpancing emosi.Nova masih tidak bergeming.Tatapannya seolah mengunci mata Erik.
"Nova ... " panggil Lala pelan, "Lihat aku..."
Akhirnya Nova menoleh kearah Lala.Dia melihat tatapan Lala yang seperti memohon kepadanya.
"Tidak usah dilanjutkan, ayo kita pergi dari sini," pinta Lala.
Nova mengangguk kemudian menggandeng tangan Lala dan pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1