
Beberapa hari telah berlalu.Tidak ada kabar sama sekali dari Nova.Tapi rasanya tidak sesakit dulu waktu Lala menunggu kabar dari Juna.
Lala merebahkan badannya di tempat tidurnya.Dia merenungi kembali apa yang sudah dia katakan pada Nova.Dia yang meminta Nova untuk menikahinya, apa itu tidak merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.Dia bahkan mengatakan kalau dia sudah tidak pe*awan, padahal itu tidak sesuai kenyataan.
Entah apa yang ada di pikiran Nova sekarang tentang Lala.Mungkin dia berpikir kalau Lala bukanlah perempuan baik-baik seperti yang dia sangka selama ini.Mungkin juga dia mengurungkan niatnya untuk menikahi Lala.Tapi Lala tidak akan sakit hati jikalau Nova memang tidak jadi menikahinya.Lala sudah pasrah, mungkin memang ini nasibnya.Selain itu Lala memang tidak mencintai Nova, anggap saja Nova ini sebagai pelariannya.
Pikiran Lala begitu buntu waktu itu, dia hanya berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari Juna ataupun Adit.Dan satu-satunya cara adalah dengan menemukan pria lain yang bisa menjadi pendampingnya, secara resmi.
Tiba-tiba Ibu mengetuk pintu kamar Lala
"Viola ... ada temanmu di luar." Terdengar suara ibu dari balik pintu.
Lala bergegas keluar dari kamarnya.
"Siapa yang datang Bu?" tanya Lala.
"Ngga tau, Ibu sepertinya belum pernah melihat dia ke rumah," jawab Ibunya.
"Ya sudah, akan ku temui." Lala berjalan menuju ruang tamu.Dia cukup kaget melihat siapa yang ada di sana.
"Nova ...?" ujar Lala.
"Apa aku menganggu?" tanya Nova pelan.Seperti biasanya, tatapannya teduh dan tenang.
"Tidak, aku sedang tidak melakukan apa-apa.Ada apa?"
"Aku ingin bicara denganmu, bisa kita keluar sebentar?" tanya Nova.
"Baiklah, tunggu aku siap-siap sebentar."
Nova mengangguk.
Setelah berpamitan pada orang tua Lala, mereka berdua pergi dengan sepeda motor Nova.
"Sebaiknya kita kemana? Aku tidak begitu tau daerah ini," tanya Nova sambil mengendarai motornya.
__ADS_1
"Ke alun-akun dekat kecamatan saja.Jaraknya cukup dekat, jadi nanti kita tidak akan kemalaman pulangnya," jawab Lala yang sedang di bonceng Nova.
Tak berapa lama mereka berhenti di tempat yang di maksud Lala.Hampir seperti taman kota tapi jauh lebih kecil.Mereka berdua duduk di bangku yang tersedia di sana.
"Apa kamu yakin ingin menikah denganku?" Nova mulai bicara.
Lala terhenyak, setelah beberapa hari tidak ada kabar, dia tidak menyangka Nova akan menanyakan itu padanya.Dia sudah pasrah jika Nova tidak ingin menikahinya.Apalagi dengan apa yang sudah dia katakan waktu itu.
"Dengar Nova, kalau kamu tidak mau, tidak apa-apa.Aku sadar mungkin kamu sudah berubah pikiran tentang aku."
"Apa yang kamu bicarakan? Tidak ada yang berubah sedikitpun tentang kamu," balas Nova."Kalau kamu memang sudah yakin, maka perwakilan orang tuaku akan datang untuk melamarmu akhir pekan ini," lanjutnya.
"Kamu sungguh-sungguh?" tanya Lala tidak percaya.
Nova mengangguk.
"Tapi aku sudah ...." Lala tidak melanjutkan kalimatnya.
"Itu tidak penting bagiku.Aku sudah pernah bilang padamu, aku akan menerimamu apapun keadaanmu," ucap Nova tulus.
Lala menatap laki-laki di sampingnya ini.Sangat sederhana, jauh dari kesan kaya.Hanya mengenakan jaket biasa dan celana jeans seperti kebanyakan anak muda lainnya.Tidak ada aura bad boy seperti Juna.Tidak ada pula aura dingin seperti Adit.Nova adalah Nova.Dia tampil apa adanya di depan Lala.Tidak dipaksakan untuk terlihat lebih baik atau di buat-buat.
"Tapi kamu harus tau keadaanku, aku tidak kaya raya.Mungkin aku juga tidak bisa memberi kemewahan seperti orang lain berikan.Apa kamu siap dengan itu semua?"
Lala terdiam beberapa lama, kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, katakan pada bapak dan ibu kalau utusan orang tuaku akan melamarmu akhir pekan ini.Mungkin sekalian membahas masalah pernikahan."
Lala diam tak berkata apa-apa.
"Kenapa bukan orang tuamu yang datang?" tanya Lala hati-hati.Dia takut Nova tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku sudah tidak punya orang tua."
Lala menoleh.Dia tidak tahu Nova sudah tidak punya orang tua.
__ADS_1
"Aku hanya punya Oma dari ibuku.Dan sekarang dia tinggal di kota seberang."
"Oh ... maaf, aku tidak tahu," ucap Lala pelan. "Bagaimana kalau setelah dari sini kamu bertemu Bapak.Kamu bisa mengatakan niatmu langsung pada Bapak." Lala menguji keseriusan Nova.Ini seperti mimpi baginya.Dia meminta seorang laki-laki untuk menikahinya dan langsung disetujui oleh laki-laki tersebut.Belum lagi dalam waktu seminggu keluarganya sudah akan datang untuk melamarnya.Padahal dulu bertahun-tahun dia menunggu Juna melamarnya sampai sekarangpun tidak terlaksana.
"Baiklah! Ayo ... aku antar kamu pulang.Jangan sampai kita telat pulang di kencan pertama kita," ucap Nova sambil tersenyum tipis.Lala jadi salah tingkah mendengar kata-kata Nova.
* * * *
Lala kembali ke kamarnya setelah kepergian Nova.Nova benar-benar menemui Pak Fajar dan mengutarakan niatnya.Dia menepati semua kata-katanya pada Lala.Tidak ada yang perlu diragukan dari pria ini.Nyatanya dia lebih bermartabat dan punya harga diri dibandingkan Juna.
Terdengar suara ketukan.Lala bergegas membuka pintu kamarnya.
"Viola ... bisa bicara sebentar?" tanya Pak Fajar yang sudah berdiri di balik pintu.
Lala hanya mengangguk.
"Apa kamu sudah yakin akan menikah dengan pria tadi? Nova bukan namanya?" tanya Pak Fajar setelah mereka berdua duduk di dalam kamar.
Lala masih diam.
"Bapak belum pernah melihatnya, apa kalian baru kenal?" tanya Pak Fajar lagi.
"Dia teman kerja ku di Plaza Z, dia juga sudah pernah main ke rumah sekali, sudah agak lama," jawab Lala.
"Apa kamu terpaksa?" Pak Fajar terdengar serius.
"Tidak," jawab Lala singkat.
"Maafkan Bapak nak ... Bapak tahu ini semua karena Bapak," ucap Pak Fajar sambil mengambil nafas dalam-dalam.Dia menyadari kata-katanya waktu itu, yang ingin menyaksikan Lala menikah sebelum maut menjemputnya.Jadi menurut Paka Fajar, itulah yang membuat Lala mengambil keputusan secepat ini.Walaupun itu tidak sepenuhnya benar.
Lala tetap diam.Dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Jika kamu sudah mengambil keputusan ini maka yakinlah.Kamu tidak bisa membatalkannya nanti.Kamu nanti yang menjalaninya.Dia akan menjadi suamimu.Kamu harus melayaninya dengan baik, sebisa mungkin jadi istri yang baik walau kamu tidak mencintainya, karena ini pilihanmu."
Lala menoleh mendengar kalimat terakhir Pak Fajar.
__ADS_1
Pak Fajar memgangguk.Dia mengerti arti tatapan Lala padanya. "Bapak tahu walaupun kamu tidak memgatakannnya," ucap Pak Fajar kemudian.
Ini seperti mimpi bagi Lala.Dia akan menikah dalam waktu dekat, tapi tidak dengan orang yang dia harapkan akan menikahinya.Ini orang yang jauh berbeda, jauh dari bayangannya dan juga tidak dicintainya.