
Selama sarapan wajah Lala semakin merah, mungkin karena Nova yang terus tersenyum-senyum.
"Singkirkan senyuman itu dari wajahmu," ucap Lala cemberut.Tapi Nova tidak bisa menahannya.
"Boleh aku minta lagi nanti malam?" goda Nova.
"Tidak!!!" jawab Lala galak.Sekarang wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
"Hei ... kenapa kamu tidak pergi bekerja?" tanya Lala memicingkan matanya.Dia baru sadar harusnya Nova sudah berangkat sejak tadi.
"Oh ... aku ... sudah habis kontrakku," jawab Nova asal. Dia terlihat gelagapan sekarang.Senyumannya sudah hilang berganti panik seandainya Lala bertanya lebih detail.
"Sepertinya masih belum deh ... " Lala terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu. "Sepertinya bukan bulan ini.Aku masih ingat, kan aku yang membuat surat kontrak kerja pegawai Plaza Z?"
"Cepat selesaikan sarapan mu, nanti kamu terlambat." Nova mengalihkan pembicaraan agar Lala tidak bertanya lebih lanjut.
* * * *
Beberapa hari telah berlalu.Sore ini Nova dan Lala sedang bersiap mengunjungi orang tua Lala.
"Kita pakai motormu saja," ucap Lala ringan.
"Kamu tidak malu?"
"Berhenti menanyakan pertanyaan itu!"
"Kenapa kamu jadi galak sekali padaku akhir-akhir ini?" Nova menggerutu.
"Karena kamu sudah melakukan itu padaku!" jawab Lala semakin galak.
"Melakukan apa?" Nova bertanya dengan bodohnya.
Memang setelah malam hujan deras itu mereka belum pernah melakukannya lagi.Nova sudah kembali tidur di karpet.Sering kali dia berdoa minta hujan petir yang menyambar dan menggelegar agar Lala meminta untuk ditemani tidur di kasur lagi.Tapi tidak juga terjadi.
"Ah .... sudahlah, lupakan saja!" Lala menyambar tasnya. "Ayo berangkat sekarang."
Nova diam saja, mencoba mengingat-ingat apa yang sudah dia lakukan pada Lala.Kemudian dia tersenyum-senyum sendiri setelah mengerti maksud Lala.
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" masih dengan mode galak.
"Aku tidak keberatan melakukannya lagi," goda Nova.
"Jangan bicara lagi!" balas Lala dengan wajah cemberut.Akhir-akhir ini Nova sukses membuat wajah Lala memerah dan salah tingkah.
"Ayo cepatlah ..." teriak Lala yang kini sudah bersandar di motor butut Nova.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah orang tua Lala.Ada beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan rumah Bu Yulia tetangga Lala.Sejak tadi mata mereka tidak berhenti melirik ke arah Nova dan Lala sambil berbisik-bisik.Lala menyadari itu semua, tapi dia abaikan saja.
"Viola ... naik motor aja?" sapa Bu Yulia dari depan rumahnya yang tidak jauh dari rumah Lala.
"Iya Bu Yulia," jawab Lala ramah.
"Padahal sama yang dulu biasa naik mobil sport ya?" Seperti biasa, Bu Yulia berusaha menjatuhkan Lala.Entah dendam apa dia dengan Lala.
"Menurutku sama saja, yang penting selamat sampai tujuan.Benar begitu kan?" jawab Lala.
Dia melirik ke arah Nova takut dia tersinggung dengan perkataan Bu Yulia.Sementara Nova terlihat acuh tak acuh dari luar, tapi dalam hatinya dia bangga dengan jawaban istrinya ini.
"Ayo kita masuk, tidak usah pedulikan ucapan mereka," bisik Lala. Nova mengangguk.
Nova duduk di sofa sambil memperhatikan kedekatan Lala dan Reyhan.Ada rasa iri di dalam hatinya, seandainya dia juga bisa sedekat itu dengan adiknya.
Lala berhenti bermain setelah Reyhan di panggil ibunya untuk belajar.Lala mendekati Nova yang sedang duduk di sofa.
"Kamu tidak suka anak kecil?" tanya Lala.Dia sempat melihat cara Nova memandang Reyhan.
"Tidak ... maksudku aku suka anak kecil, tapi aku kesulitan untuk dekat dengan mereka.Harusnya aku yang bertanya padamu.Apa kamu tidak suka anak kecil?" Nova balik bertanya.
"Kenapa bertanya begitu?" selidik Lala.
"Terus kenapa kamu belum ingin hamil?"
"Emm... Aku ingin kita lebih dekat, mungkin seperti pacaran lebih dulu.Kamu ingat kan bagaimana hubungan kita dimulai?" Lala malu-malu untuk mengatakannya.
Nova diam mendengarkan Lala berbicara.
__ADS_1
"Mendidik anak bukanlah hal yang mudah.Bagaimana bisa membesarkan anak dengan baik jika kedua orang tuanya tidak saling mengenal karakter masing-masing? pasti akan sering terjadi kesalahpahaman.Aku ingin kita mempersiapkan mental kita dengan matang sebelum memiliki anak."
Nova tersenyum mendengar jawaban Lala.Dia tidak menyangka Lala berpikir sejauh itu.Sebelumnya dia pikir Lala tidak ingin hamil karena belum bisa menerima Nova sepenuhnya.Atau sesuatu yang sangat Nova takutkan, sewaktu-waktu Lala bisa minta di untuk pisah darinya jika mereka tidak mempunyai anak.
"Jadi kamu ingin pacaran denganku?" goda Nova.
"Aku bicara panjang lebar dan cuma itu saja yang kamu tangkap dari perkataan ku?" Lala mendengus kesal.Dia sudah memasang wajah cemberutnya.
"Aku sangat mengerti maksudmu.Aku bersedia menunggumu siap untuk memilki anak.Aku ikuti apapun yang kamu mau asal kamu bahagia." Nova tampak serius dan tulus saat mengucapkan kalimat ini.Lala hampir tersentuh dibuatnya.
"Tapi kita harus sering-sering latihan membuatnya terlebih dahulu," ucapnya kemudian.Dia menggoda Lala untuk kesekian kalinya.
"Berhentilah menggodaku!" Lala tersipu sambil melemparkan bantal ke arah Nova.
Setelah makan malam, Nova mengobrol dengan Pak Fajar dan memutuskan kembali ke kosan setelahnya. Lala tidak ingin menginap lagi karena tidak ingin pulang terburu-buru seperti waktu itu.
Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba turun hujan lebat hingga memaksa mereka berdua berhenti untuk berteduh karena mereka tidak membawa jas hujan.Setelah ditunggu beberapa lama hujan tak kunjung reda.
"Sebaiknya kita jalan saja sekarang," Lala mengajak Nova untuk melanjutkan perjalanan.Dia sudah bosan menunggu sejak tadi.
"Tapi ini masih hujan.Kita bisa basah kuyup nanti sampai kosan."
"Tapi nanti kita bisa kemalaman kalo ngga pulang sekarang."
Lala benar.Mereka sudah satu jam lebih menunggu tapi hujan belum juga reda.
"Nanti kalau kamu sakit gimana?"
"Aku ngga akan sakit," jawab Lala yakin.
"Ya sudah... ayo!"
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.Benar yang dikatakan Nova sebelumnya, mereka basah kuyup sampai di kost.Lala tampak menggigil dan bibirnya mulai memucat.Dia segera membersihkan badannya dan mengenakan baju hangat.
"Mau ku buatkan sesuatu untuk menghangatkan badanmu?" tanya Nova setelah dia juga selesai mengganti bajunya yang basah.
"Teh hangat boleh," jawab Lala pelan.
__ADS_1
Tak berapa lama Nova menyodorkan teh hangat untuk Lala. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Nova lagi.
"Aku hanya kedinginan saja," jawab Lala sambil merebahkan badannya di kasur.Dia tertidur sebelum sempat meminum teh yang diberikan Nova.