
Nova duduk di gazebo taman belakang sendirian. Setelah selesai makan malam tadi Oma mengajak Lala pergi berdua entah pergi kemana. Oma hanya bilang jika dia ingin mengajak Lala pergi sebentar tapi tidak jelas mau kemana.
Nova terus menerus gelisah menunggu istrinya itu pulang, padahal kepergian Lala jelas bersama Oma, bukan bersama pria lain. Sejak kejadian Manda datang ke rumah beberapa waktu lalu, baik Nova maupun Lala menjadi sama-sama posesif. Seperti remaja yang sedang di mabuk cinta, mereka sekarang sering bersikap lebay. Lala menjadi sering melakukan video call untuk memastikan Nova tidak sedang bersama wanita lain.Lala sendiri juga tidak mengerti kenapa dia jadi berlebihan seperti ini.
Akhirnya Nova mengirim pesan kepada Lala
* * * *
Lala yang sedang bersama Oma membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Pulangnya jangan malam-malam."
Memangnya dia pikir aku pergi kemana? Aku kan pergi bersama Oma, mana mungkin pulang larut.Heran deh! gerutu Lala dalam hatinya.Lala mengabaikan pesan itu setelah membacanya.
Oma meminta Lala menemaninya ke sebuah butik langganan Oma. Dia menyuruh Lala memilih apa saja yang Lala suka sementara Oma juga memilih apa yang dia sendiri inginkan.
"Viola ... Apa Oma bisa minta tolong padamu?" tanya Oma mulai bicara serius walaupun tangan dan matanya sibuk memilih baju.
"Tentu saja ... Apa yang bisa aku bantu Oma?"
Oma menghentikan kegiatannya kemudian duduk di sofa yang tersedia di dalam butik tersebut.Lala mengikutinya duduk di sana.
"Oma ingin mengundang Kevin makan malam di rumah."
"Kapan itu Oma? Apa Oma sudah memberi tahu Nova?"
"Justru itu ... Oma ingin minta tolong agar kamu membicarakan ini dengan Nova. Oma tahu jika kamu yang memintanya pasti dia tidak akan marah."
"Oh ... Akan aku usahakan Oma, tapi aku tidak bisa janji.Aku tidak yakin reaksinya nanti, Oma tahu kan ... dia tidak bisa ditebak."
"Oma tahu itu ... setidaknya kita berusaha.Oma ingin mendekatkan dia dengan Kevin.Tidak perlu sedekat itu, Nova mau memanggil namanya saja Oma sudah senang."
Sepertinya Oma tidak tahu jika hubungan Kevin dan Nova sudah lebih baik.
"Mmm ... Oma, Sebenarnya hubungan mereka sudah lebih baik.Oma tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua."
"Benarkah?" tanya Oma tidak percaya. "Dari mana kamu tahu?"
"Aku pernah beberapa kali menemani Nova menemui Kevin di sekolah."
"Apa kamu sungguh-sungguh?" Mata Oma tampak membulat tidak percaya. Lala hanya mengangguk.
__ADS_1
Kemudian Oma Rusdi memeluk Lala dengan penuh rasa bahagia. "Nova memang tidak salah memilih kamu sebagai istrinya.Terima kasih ... terima kasih Lala."
"Aku tidak melakukan apa-apa Oma.Tidak perlu berterima kasih padaku."
Oma melepaskan pelukannya. "Tapi Oma yakin, ini semua berkat kamu. Oma sampai tidak bisa mengungkapkan rasa terima kasih Oma padamu.Oma sangat bahagia mendengarnya," ucap Oma dengan mata yang berbinar. Lala hanya tersenyum.
"Tapi aku mohon Oma tidak usah bertanya kenapa Nova tentang apa yang baru saja aku ceritakan."
Oma mengangguk. "Tentu ... Oma janji." Oma mengacungkan kelingkingnya seperti anak kecil. "Mana belanjaan mu, ayo pilih semua yang kamu suka."
"Sudah Oma, aku hanya ingin ini saja." Lala menunjukkan dua potong baju di tangannya.
"Itu saja?" tanya Oma tidak percaya. Kemudian dia memaksa Lala untuk mengambil beberapa potong pakaian lagi. Mereka pulang setelah Oma memborong banyak sekali baju untuk Lala.
Oma memegang tangan Lala, "Tolong bujuk dia, kemudian beri tahu Oma jika dia sudah setuju.Oma akan pilih harinya," ucap Oma sebelum mereka berdua turun dari mobil.
Nova masih setia menunggu Lala di taman belakang.Dia segera berjalan ke depan begitu mendengar suara pintu mobil ditutup.
"Kenapa lama sekali?" tanya Nova begitu melihat Lala. "pesanku juga tidak dibalas," imbuhnya.
"Aku pergi sebentar saja kamu ribut begini, kamu tiap hari pergi seharian aku diam saja," balas Lala.
"Tapi aku kan pergi kerja," Nova tidak mau kalah.
"Oma tadi mengajaknya kemana? Kenapa dia jadi membantahku begini?"
"Apa kamu tidak lihat apa yang kami bawa, tentu saja Oma mengajaknya shopping."
"Lain kali jangan malam-malam Oma."
"Kalau dia tidak boleh pergi, kamu kunci saja Viola di kamar. Heran ... cuma ditinggal pergi sebentar saja ributnya bukan main," omel Oma.
Lala melirik ke arah Nova dan tersenyum puas mendengar Omelan Oma.Kemudian dia menjulurkan lidahnya.Nova gemas sekali melihat tingkah istrinya itu dan ingin segera memakannya.
Di dalam kamar ...
Nova berbaring di kasur sementara Lala berada dalam pelukannya.Mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian setelah Nova meminta jatah malamnya dari Lala.
"Kamu tadi bersenang-senang bersama Oma?"
Lala mengangguk. "Oma baik sekali.Dia memborong banyak sekali pakaian untukku. Padahal aku tidak menginginkannya."
__ADS_1
"Iya, bahkan sekarang kamu lebih sering tidak memakai pakaian saat bersamaku." Nova mulai nakal lagi. Lala mencubit kecil perut Nova.
"Nova ... apa kamu tidak keberatan jika aku belum ingin hamil? Atau sebenarnya kamu sudah menginginkan anak tapi kamu menahannya karena aku?"
"Tidak ... Aku menginginkan apapun yang kamu inginkan.Jika kamu belum ingin punya anak maka aku pun juga demikian."
Lala tersentuh mendengar jawaban Nova. Sejak dulu dia selalu menuruti keinginannya.
So sweet, batin Lala.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak masalah bagiku.Masih ada banyak waktu untuk kita berdua.Aku justru memiliki banyak waktu berdua denganmu.Aku juga bisa puas memakan kamu sesuka ku." Nova menata mata Lala. "Tapi kalau kamu menginginkan anak, aku juga bersedia membuatnya kapanpun kamu inginkan." Tangan Nova sudah mulai bergerilya lagi ke bagian paling favoritnya di tubuh Lala.
"Jangan mulai lagi, kita baru saja selesai melakukannya." Lala menggeliat menghindari tangan Nova diiringi tawa.Tapi tangan Nova masih mengincarnya juga.
"Nova ... hentikan tanganmu! Aku ingin bicara serius sekarang," pinta Lala.
"Hmm ... kamu benar-benar mau bicara atau hanya alasan untuk menghindar dari tanganku?"
"Aku benar-benar ingin bicara serius denganmu.Hentikan tanganmu sekarang juga!" Akhirnya Lala memukul tangan Nova.
"Baiklah ... kamu ingin bicara apa?"
"Aku menginginkan sesuatu, maukah kamu mengabulkannya?"
"Apa itu ... ? Pasti aku kabulkan selagi aku bisa."
"Kamu janji?" Nova mengangguk.
"Aku ingin mengundang Kevin makan malam di rumah, apakah boleh?"
Untuk sesaat Nova diam mendengar pertanyaan Lala.Dia tidak menyangka Lala akan meminta itu darinya.Memang dia sudah mengakui Kevin sebagai adiknya. Tapi jika mengundangnya ke rumah, pasti Viviane juga ikut bersamanya dan Nova masih belum bisa memaafkannya.
"Apa jawabanmu?"
"Oma yang meminta mu menanyakan itu?" Lala salah tingkah mendengar pertanyaan balik dari Nova.Dia sudah menduganya.
"Boleh saja .... " Nova menggantung kalimatnya, "tapi aku tidak ikut makan malam," lanjutnya.
"Nova ... jangan begitu." Lala menatap Nova dan mengeluarkan tatapan memohon padanya.
__ADS_1
Nova menghembuskan nafasnya pelan. "Kamu tahu aku tidak bisa menolak keinginan mu."
"Jadi ... boleh?" tanya Lala meyakinkan.Nova mengangguk terpaksa.