
Lala sudah sibuk di ruang kerjanya.Hari ini dia bisa bebas bergaul dengan teman-temannya yang lain karena Adit tidak ada.Dia bisa ngrumpi bareng teman-teman ceweknya, hal yang tidak bisa dia lakukan jika ada Adit.
Tiba-tiba pintu ruangan di buka tanpa ada suara ketukan terlebih dahulu.Biasanya, hanya Adit yang berani seperti ini.Lala menoleh melihat siapa yang datang.Betapa terkejutnya dia melihat Nyonya Andreas sudah ada di depannya.Lala segera bediri dari duduknya.
"Selamat siang Tante ...." Lala sedikit gugup.
Dia tahu pasti ada yang penting sampai Nyonya Andreas datang sendiri ke kantornya.
"Duduklah!" Nyonya Andreas menyuruh Lala duduk sambil tersenyum.Tapi Lala tahu ada sejuta makna di balik senyum Nyonya Andreas, dan pasti bukanlah hal yang bagus.
"Aku tidak akan berbasa-basi denganmu Lala.Sejak awal aku sudah menduga kalau kamu tidak seperti perempuan-perempuan lain yang Adit kencani.Kamu adalah satu-satunya perempuan yang Adit ajak ke rumah, juga ke villa."
Lala kaget, tapi mencoba untuk bersikap biasa saja.
Bagaimana Nyonya Andreas bisa tahu?
"Jangan pikir aku tidak tahu semua gerak gerikmu bersama Adit.Kamu pernah bilang padaku kalau hubungan kalian hanya sekedar teman.Tapi jelas sekali Adit menganggapmu lebih dari itu." Nyonya Andreas bicara dengan tenang, ekspresi wajahnya datar-datar saja.
Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauhi Adit?" lanjutnya.
Lala diam tidak bisa berkata apa-apa.
"Kami akan mempercepat pernikahan Adit.Jadi, jauhi Adit! Aku tidak ingin mendengar kabar jika kamu masih bersama Adit.Ini peringatan terakhirku!" Kali ini suara Nyonya Andreas terdengar penuh penekanan.
"Iya Tante," jawab Lala pelan.
"Bagus! Aku akan mengawasimu.Sebaiknya kamu tahu ... Aku bisa saja melakukan hal buruk padamu jika kamu masih mendekati Adit!" Nyonya Andreas berlalu meninggalkan ruangan Lala.
Ya Tuhan ... Cobaan apalagi ini?
Lala diam membisu.Dia begitu syok, tidak menyangka Nyonya Andreas akan berkata demikian kepadanya.Tidak ada yang salah dengan perkataan Nyonya Andreas tapi jauh di dalam lubuk hati Lala dia tidak bisa menerimanya.
Bukankah dari awal kamu tahu suatu saat ini akan terjadi? Adit bukan milikmu.Apa yang kamu harapkan?
Jam makan siang tidak seperti yang dibayangkan Lala.Tadinya dia berpikir tanpa kehadiran Adit dia bisa leluasa ngobrol atau sekedar haha-hihi bersama teman-teman ceweknya.Ternyata kedatangan Nyonya Andreas telah merubah moodnya.Pikirannya terus teringat Adit, tapi telinganya terus terngiang-ngiang kata-kata Nyonya Andreas.Terlihat jelas wajah Lala murung.Dia tidak menikmati makan siangnya sama sekali hingga membuat Riris menyenggol lengannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Riris setengah berbisik.
Lala gelagapan."Aku ngga apa-apa," balasnya cepat.
Lala tidak bisa menceritakan kepada Riris soal kedatangan Nyonya Andreas.Selain itu Riris juga tidak tahu hubungan rumitnya dengan Adit.Lala bingung bagaimana menjelaskan pada sahabatnya itu.Selama makan siang Lala lebih banyak diam.
Aku harus bagaimana? Apa aku bilang saja ke Bang Adit kalau mamanya datang menemuiku?
* * * *
Lala sudah sampai di rumahnya.Dia mendapati rumahnya sepi tidak ada orang sama sekali.Biasanya Mbak Dina sama Reyhan pasti di rumah jika sore hari.Lala membuka hpnya untuk membuat panggilan telfon.
"Halo ... Mbak Dina sama Reyhan ada dimana?"
" ... "
"Memang bapak sama ibu kemana? Kok Mbak Dina yang jaga toko?"
" ... "
" ... "
"Baik, aku segera menyusul ke sana!"
Lala kembali menaiki motornya.Dia bergegas ke rumah sakit.Mbak Dina memberi tahunya kalau Pak Fajar baru saja terkena serangan jantung dan sekarang di bawa ke rumah sakit.
Lala sudah sampai di rumah sakit.Dia segera menuju ruang ICU untuk mencari keberadaan bapaknya.Benar saja, Lala menemukan Mas Fadil dan ibunya di depan ruang ICU.Lala mendekati mereka kemudian memeluk ibunya yang sedang menangis.
"Ibu ... Bagaimana keadaan bapak?"
"Bapak masih kritis La." Mas Fadil yang menjawab.
"Kenapa bapak bisa sakit Mas? Bukankah tadi pagi bapak sehat-sehat saja?"
"Aku juga ngga tahu, dokter hanya mengatakan kalau bapak boleh keluar dari ICU jika sudah melewati masa kritisnya."
__ADS_1
Mas Fadil juga terlihat sedih.Ini sangat mengagetkan bagi keluarga Lala mengingat Pak Fajar tidak ada riwayat sakit jantung.
"Tadi di toko, ada seorang wanita yang menemui bapak.Dari penampilannya terlihat kalau wanita dia bukan dari kalangan biasa.Bapak dan wanita itu ngobrol sebentar," cerita Bu Mieke dalam isak tangisnya.
"Ibu tidak tahu apa kedatangan wanita itu ada kaitannya dengan serangan jantung yang dialami bapak, tapi beberapa saat setelah kepergian wanita itu bapak mengeluh sakit di dadanya.Ibu sudah minta bapak untuk istirahat tapi bapak bilang tidak apa-apa, masih bisa ditahan.Hingga akhirnya bapak pingsan," lanjut Bu Mieke.
"Ibu tidak kenal dengan wanita itu? Mungkin teman kerja bapak dulu?" tanya Mas Fadil.
Bu Mieke hanya menggeleng.
"Ibu juga tidak tahu apa yang bapak dan wanita itu bicarakan," balas Bu Mieke.
"Sudahlah Bu ... Bapak pasti segera sembuh." Lala menguatkan ibunya.
Malam harinya Lala dan Mas Fadil pulang, sementara Bu Mieke menjaga Pak Fajar di rumah sakit.Mereka bisa sedikit lebih tenang karena Pak Fajar sudah melewati masa kritisnya dan kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Lala terus memikirkan keadaan bapaknya hingga membuatnya tidak bisa tidur.Dia keluar dari kamar, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.Ternyata Mas Fadil juga ada di sana.
"Mas Fadil juga ngga bisa tidur?" tanya Lala.
"Aku kepikiran sama kondisi bapak," jawab Mas Fadil lesu.
"Apa Mas Fadil juga berpikiran sama denganku? Mungkinkah wanita itu ada hubungannya dengan serangan jantung yang di alami bapak?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu.Bapak belum.pernah sakit berat sebelumnya."
Lala diam termenung.
"Sudahlah ... Jangan terlalu dipikirkan.Siapa tahu cuma kebetulan.Lebih baik istirahat biar besok bisa gantian jagain bapak."
Lala menangguk.Dalam hatinya dia masih penasaran siapa wanita yang tadi siang menemui bapaknya.
"Aku akan tidur, sebaiknya Mas Fadil juga segera tidur." Lala melangkah kembali ke kamarnya.
Sampai di kamarnya Lala tetap tidak bisa memejamkan matanya.Bagaimana jika yang dikhawatirkan bapaknya menjadi kenyataan? Bagaimana jika bapak terncintanya sudah meninggal sebelum menyaksikannya berdiri di pelaminan? Bukankah hampir semua orang tua ingin menyaksikan anaknya menikah?
__ADS_1
Lala tidak tahan memikirkan semua ini.Air matanya mulai menetes.Andai saja dia tidak menyia-nyiakan waktunya mengharapkan keseriusan dari Juna mungkin saat ini dia sudah menikah dan mempunyai anak yang lucu-lucu.Tapi waktu tidak bisa di putar kembali.Tidak ada yang perlu di sesali.